Senin, 18 Juni 2012

Antibiotik

Saya sering bingung dengan obat-obatan yang masih ada di kotak P3K. Terutama untuk urusan antibiotik. Dari pada langsung ke dokter, biasanya kita manfaatkan obat-obatan yang ada. Tapi khawatir juga sih, makanya Alhamdulillah banget bisa nemu artikel berikut ini. Semoga bermanfaat :)  

Antibiotik

Definisi

Antibiotik berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari Anti (lawan),Bios (hidup). Antibiotik adalah Suatu zat kimia atau senyawa obat yang alami maupun sintetik, yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang berupa bakteri ataupun jamur yang berkhasiat sebagai obat apabila digunakan dalam dosis tertentu dan berkhasiat mematikan atau menghambat pertumbuhan kuman ataupun mikroorganisme lainnya (yang bersifat parasit), dan toksisitasnya tidak berbahaya bagi manusisa. Obat antibiotik yang digunakan untuk membasmi mikroba penyebab infeksi pada manusia, ditentukan harus memiliki sifat toksisitas selektif setinggi mungkin. Artinya, obat tersebut haruslah bersifat sangat toksik untuk mikroba, tetapi relatif tidak toksik untuk hospes. Antibiotik hanya untuk bakteri dan tidak digunakan untuk virus.

Faktor Yang Perlu Dipertimbangkan Dalam Penggunaan Antibiotika

Harus mempertimbangkan faktor-faktor :
• Gambaran klinis adanya infeksi yang diderita
• Faktor sensitivitas bakteri terhadap antibiotik
• Fungsi ginjal dan hati pasien
• Biaya pengobatan
Antibiotika Kombinasi diberikan apabila pasien :
• Pengobatan infeksi campuran
• Pengobatan pada infeksi berat yang belum jelas penyebabnya
• Efek sinergis
• Memperlambat resistensi

Penggolongan Obat Antimikroba (Antibiotik)

1) Golongan Antibiotik Berdasarkan daya bunuh atau daya kerjanya dalam zat bakterisid dan zat bakteriostatis dikelompokkan menjadi :

a) Bakterisid :
Antibiotika yang bakterisid secara aktif membasmi kuman. Termasuk dalam golongan ini adalah penisilin, sefalosporin, aminoglikosida (dosis besar), kotrimoksazol , polipeptida, rifampisin, isoniazid dll.
b) Bakteriostatik :
Antibiotika bakteriostatik bekerja dengan mencegah atau menghambat pertumbuhan kuman, TIDAK MEMBUNUHNYA, sehingga pembasmian kuman sangat tergantung pada daya tahan tubuh. Termasuk dalam golongan ini adalah sulfonamida, tetrasiklin, kloramfenikol, eritromisin, trimetropim, linkomisin, makrolida, klindamisin, asam paraaminosalisilat, dll.
Manfaat dari pembagian ini dalam pemilihan antibiotika mungkin hanya terbatas, yakni pada kasus pembawa kuman (carrier), pada pasien-pasien dengan kondisi yang sangat lemah (debilitated) atau pada kasus-kasus dengan depresi imunologik tidak boleh memakai antibiotika bakteriostatik, tetapi harus bakterisid.

2) Penggolongan Berdasarkan spektrum kerja antibiotik yaitu luas aktivitas, artinya aktif terhadap banyak atau sedikit jenis mikroba. Dapat dibedakan antibiotik dengan aktivitas sempit dan luas

a) spektrum luas (aktivitas luas) : antibiotik yang bersifat aktif bekerja terhadap banyak jenis mikroba yaitu bakteri gram positif dan gram negative. Contoh antibiotik dalam kelompok ini adalah sulfonamid, ampisilin, sefalosforin, kloramfenikol, tetrasiklin, dan rifampisin.
b) spektrum sempit (aktivitas sempit) : antibiotik yang bersifat aktif bekerja hanya terhadap beberapa jenis mikroba saja, bakteri gram positif atau gram negative saja. Contohnya eritromisin, klindamisin, kanamisin, hanya bekerja terhadap mikroba gram-positif. Sedang streptomisin, gentamisin, hanya bekerja terhadap kuman gram-negatif.

3) Penggolongan Berdasarkan cara kerjanya

Antibiotika golongan ini dibedakan berdasarkan sasaran kerja senyawa tersebut dan susunan kimiawinya. Ada enam kelompok antibiotika dilihat dari target atau sasaran kerjanya
a) Inhibitor sintesis atau mengaktivasi enzim yang merusak dinding sel bakteri sehingga menghilangkan kemampuan berkembang biak dan sering kali terjadi lisis, mencakup golongan Penicsillin, Polipeptida, sikloserin, basitrasin, vankomisin dan Sefalosporin, misalnya ampisillin, penisillin G;
b) Inhibitor transkripsi dan replikasi, mencakup golongan Quinolone, misalnya rifampicin, actinomycin D, nalidixic acid;
c) Inhibitor sintesis protein, yang mengganggu fungsi ribosom bakteri, menyebabkan inhibisi sintesis protein secara reversibel, mencakup banyak jenis antibiotik, terutama dari golongan Macrolide, Aminoglycoside, dan Tetracycline, misalnya gentamycin, chloramphenicol, kanamycin, streptomycin, oxytetracycline.
d) Inhibitor fungsi membran sel, mempengaruhi permeabilitas sehingga menimbulkan kehilangan senyawa intraselular. misalnya ionomycin, valinomycin dan polimiksin
e) Inhibitor fungsi sel lainnya, misalnya difiksasi pada subunit ribosom 30 S menyebabkan timbunan kompleks pemula sintesis protein, salah membaca kode mRNA, produksi polipeptida abnormal. Contoh aminoglikosida, golongan sulfa atau sulfonamida, misalnya oligomycin, tunicamycin; dan
f) Antimetabolit yang mengganggu metabolisme asam nukleat. Contoh rifampin (inhibisi RNA polimerase yang dependen DNA),azaserine.
Pembagian ini walaupun secara rinci menunjukkan tempat kerja dan mekanismenya terhadap kuman, namun kiranya kurang memberikan manfaat atau membantu praktisi dalam memutuskan pemilihan obat dalam klinik. Masing-masing cara klasifikasi mempunyai kekurangan maupun kelebihan, tergantung kepentingannya.

4) Penggolongan Berdasarkan penyakitnya.

a) Golongan Penisilin
Dihasilkan oleh fungi Penicillinum chrysognum. Memiliki cincin b-laktam yang diinaktifkan oleh enzim b-laktamase bakteri. Aktif terutama pada bakteri gram (+) dan beberapa gram (-). Obat golongan ini digunakan untuk mengobati infeksi pada saluran napas bagian atas (hidung dan tenggorokan) seperti sakit tenggorokan, untuk infeksi telinga, bronchitis kronik, pneumonia, saluran kemih (kandung kemih dan ginjal). Adapun contoh obat yang termasuk dalam golongan ini antara lain : Ampisilin dan Amoksisilin. Untuk meningkatkan ketahanan thp b-laktamase : penambahan senyawa untuk memblokir & menginaktivasi b-laktamase. Misalnya Amoksisilin + asam klavulanat, Ampisilin + sulbaktam, Piperasilin + tazobaktam.
Efek samping : reaksi alergi, syok anafilaksis, kematian,Gangguan lambung & usus. Pada dosis amat tinggi dapat menimbulkan reaksi nefrotoksik dan neurotoksik. Aman bagi wanita hamil & menyusui
b) Golongan Sefalosporin
Dihasilkan oleh jamur Cephalosporium acremonium. Spektrum kerjanya luas meliputi bakteri gram positif dan negatifObat golongan ini barkaitan dengan penisilin dan digunakan untuk mengobati infeksi saluran pencernaan bagian atas (hidung dan tenggorokan) seperti sakit tenggorokan, pneumonia, infeksi telinga, kulit dan jaringan lunak, tulang, dan saluran kemih (kandung kemih dan ginjal). Adapun contoh obat yang termasuk dalam golongan ini antara lain : Sefradin, Sefaklor, Sefadroksil, Sefaleksin, E.coli, Klebsiella dan Proteus. Penggolongan sefalosporin berdasarkan aktivitas & resistensinya terhadap b-laktamase.
Generasi I : aktif pada bakteri gram positif. Pada umumnya tidak tahan pada b laktamase. Misalnya sefalotin, sefazolin, sefradin, sefaleksin, sefadroksil. Digunakan secara oral pada infeksi saluran kemih ringan, infeksi saluran pernafasan yang tidak serius
Generasi II : lebih aktif terhadap kuman gram negatif. Lebih kuat terhadap blaktamase. Misalnya sefaklor, sefamandol, sefmetazol,sefuroksim
Generasi III : lebih aktif terhadap bakteri gram negatif , meliputi Pseudomonas aeruginosa dan bacteroides. Misalnya sefoperazone, sefotaksim, seftizoksim, sefotiam, sefiksim.Digunakan secara parenteral,pilihan pertama untuk sifilis
Generasi IV : Sangat resisten terhadap laktamase. Misalnya sefpirome dan sefepim
c) Golongan Lincosamides
Dihasilkan oleh Streptomyces lincolnensis dan bersifat bakteriostatis. Obat golongan ini dicadangkan untuk mengobati infeksi berbahaya pada pasien yang alergi terhadap penisilin atau pada kasus yang tidak sesuai diobati dengan penisilin. Spektrum kerjanya lebih sempit dari makrolida, terutama terhadap gram positif dan anaerob. Penggunaannya aktif terhadap Propionibacter acnes sehingga digunakan secara topikal pada acne. Adapun contoh obatnya yaitu Clindamycin (klindamisin) dan Linkomycin (linkomisin).
d) Golongan Tetracycline
Diperoleh dari Streptomyces aureofaciens & Streptomyces rimosus. Obat golongan ini digunakan untuk mengobati infeksi jenis yang sama seperti yang diobati penisilin dan juga untuk infeksi lainnya seperti kolera, demam berbintik Rocky Mountain, syanker, konjungtivitis mata, dan amubiasis intestinal. Dokter ahli kulit menggunakannya pula untuk mengobati beberapa jenis jerawat. Adapun contoh obatnya yaitu : Tetrasiklin, Klortetrasiklin, Oksitetrasiklin, doksisiklin dan minosiklin.
Khasiatnya bersifat bakteriostatik , pada pemberian iv dapat dicapai kadar plasma yang bersifat bakterisid lemah.Mekanisme kerjanya mengganggu sintesis protein kuman Spektrum kerjanya luas kecuali thp Psudomonas & Proteus. Juga aktif terhadap Chlamydia trachomatis (penyebab penyakit mata), leptospirae, beberapa protozoa. Penggunaannya yaitu infeksi saluran nafas, paru-paru, saluran kemih, kulit dan mata. Namun dibatasi karena resistensinya dan efek sampingnya selama kehamilan & pada anak kecil.
e) Golongan Kloramfenikol
Bersifat bakteriostatik terhadap Enterobacter & S. aureus berdasarkan perintangan sintesis polipeptida kuman. Bersifat bakterisid terhadap S. pneumoniae, N. meningitidis & H. influenza. Obat golongan ini digunakan untuk mengobati infeksi yang berbahaya yang tidak efektif bila diobati dengan antibiotic yang kurang efektif. Penggunaannya secara oral, sejak thn 1970-an dilarang di negara barat karena menyebabkan anemia aplastis. Sehingga hanya dianjurkan pada infeksi tifus (salmonella typhi) dan meningitis (khusus akibat H. influenzae). Juga digunakan sebagai salep 3% tetes/salep mata 0,25-1%. Contoh obatnya adalah Kloramfenikol, Turunannya yaitu tiamfenikol.
f) Golongan Makrolida
Meliputi eritromisin, klaritromisin, roxitromisin, azitromisin, diritromisin serta spiramisin. Bersifat bakteriostatik. Mekanisme kerjanya yaitu pengikatan reversibel pada ribosom kuman, sehingga mengganggu sintesis protein. Penggunaannya merupakan pilihan pertama pada infeksi paru-paru. Digunakan untuk mengobati infeksi saluran nafas bagian atas seperti infeksi tenggorokan dan infeksi telinga, infeksi saluran nafas bagian bawah seperti pneumonia, untuk infeksi kulit dan jaringan lunak, untuk sifilis, dan efektif untuk penyakit legionnaire (penyakit yang ditularkan oleh serdadu sewaan). Sering pula digunakan untuk pasien yang alergi terhadap penisilin.
g) Golongan Kuinolon
Berkhasiat bakterisid pada fase pertumbuhan kuman, dgn menghambat enzim DNA gyrase bakteri sehingga menghambat sintesa DNA. Digunakan untuk mengobati sinusitis akut, infeksi saluran pernafasan bagian bawah serta pneumonia nosokomial, infeksi kulit dan jaringan kulit, infeksi tulang sendi, infeksi saluran kencing, Cystitis uncomplicated akut, prostates bacterial kronik, infeksi intra abdominal complicated, demam tifoid, penyakit menular seksual, serta efektif untuk mengobati Anthrax inhalational.
Penggolongan :
Generasi I : asam nalidiksat dan pipemidat digunakan pada ISK tanpa komplikasi
Generasi II : senyawa fluorkuinolon misal siprofloksasin, norfloksasin, pefloksasin,ofloksasin. Spektrum kerja lebih luas, dan dapat digunakan untuk infeksi sistemik lain.
Zat-zat long acting : misal sparfloksasin, trovafloksasin dan grepafloksasin.Spektrum kerja sangat luas dan meliputi gram positif.
h) Aminoglikosida
Dihasilkan oleh fungi Streptomyces & micromonospora.Mekanisme kerjanya : bakterisid, berpenetrasi pada dinding bakteri dan mengikatkan diri pada ribosom dalam sel Contoh : streptomisin, kanamisin, gentamisin, amikasin, neomisin
Penggunaan Aminoglikosida Streptomisin & kanamisin Þ injeksi pada TBC juga pada endocarditis,Gentamisin, amikasin bersama dengan penisilin pada infeksi dengan Pseudomonas,Gentamisin, tobramisin, neomisin juga sering diberikan secara topikal sebagai salep atau tetes mata/telinga,Efek samping : kerusakan pada organ pendengar dan keseimbangan serta nefrotoksik.
i) Monobaktam
Dihasilkan oleh Chromobacterium violaceum Bersifat bakterisid, dengan mekanisme yang sama dengan gol. b-laktam lainnya.Bekerja khusus pada kuman gram negatif aerob misal Pseudomonas, H.influenza yang resisten terhadap penisilinase Contoh : aztreonam
j) Sulfonamide
Merupakan antibiotika spektrum luas terhadap bakteri gram positrif dan negatif. Bersifat bakteriostatik. Mekanisme kerja : mencegah sintesis asam folat dalam bakteri yang dibutuhkan oleh bakteri untuk membentuk DNA dan RNA bakteri. Kombinasi sulfonamida : trisulfa (sulfadiazin, sulfamerazin dan sulfamezatin dengan perbandingan sama),Kotrimoksazol (sulfametoksazol + trimetoprim dengan perbandingan 5:1),Sulfadoksin + pirimetamin.
Penggunaan:
Infeksi saluran kemih : kotrimoksazol
Infeksi mata : sulfasetamid
Radang usus : sulfasalazin
Malaria tropikana : fansidar.
Mencegah infeksi pada luka bakar : silver sulfadiazine.
Tifus : kotrimoksazo.
Radang paru-paru pada pasien AIDS : kotrimoxazol
Sebaiknya tidak digunakan pada kehamilan teruama trimeseter akhir : icterus, hiperbilirubinemia
k) Vankomisin
Dihasikan oleh Streptomyces orientalis.Bersifat bakterisid thp kuman gram positif aerob dan anaerob.Merupakan antibiotik terakhir jika obat-obat lain tidak ampuh lagi
l) Golongan Antibiotika Kombinasi
Kegunaannya dapat dikelompokkan berdasarkan jalur pemberiannya, antara lain :
i) Penggunaan Oral dan Parenteral : infeksi saluran kemih, Shigellosis enteritis, treatment pneumocystis carinii pneumonia pada anak dan dewasa.
ii) Penggunaan Oral : Profilaksis pneumocystis carinii pneumonia pada individu yang mengalami imunosupresi, otitis media akut pada anak-anak, eksaserbasi akut pada bronchitis kronik pasien dewasa.
Secara klasik selalu dianjurkan bahwa kombinasi antibiotik bakterisid dan bakteriostatik akan merugikan oleh karena antibiotik bakterisid bekerja pada kuman yang sedang tumbuh, sehingga kombinasi dengan jenis bakteriostatik akan memperlemah efek bakterisidnya. Tetapi konsep ini mungkin tidak bisa begitu saja diterapkan secara luas dalam klinik, oleh karena beberapa kombinasi yang dianjurkan dalam klinik misalnya penisilin (bakterisid) dan kloramfenikol (bakteriostatik) justru merupakan alternatif pengobatan pilihan untuk meningitis bakterial yang umumnya disebabkan oleh kuman Neisseria meningitides. Pada umumnya, penggunaan kombinasi dari dua atau lebih antibiotik tidak dianjurkan, apalagi kombinasi dengan dosis tepat. Untuk suatu mikroba penginfeksi, kombinasi antibiotik dapat bersifat sinergik (kombinasi dua antibiotik yang bersifat bakterisid), additif (kombinasi dua antibiotik yang bersifat bakteriostatik) dan antagonis (kombinasi antibiotik bakteriostatik dan bakterisid). Pemakaian kombinasi antibiotika mengandung risiko misalnya adanya akumulasi toksisitas yang serupa, misalnya nefrotoksisitas aminoglikosida dan nefrotoksisitas dari beberapa jenis sefalosporin. Kemungkinan juga dapat terjadi antagonisme, kalau prinsip-prinsip kombinasi di atas tidak ditaati, misalnya kombinasi penisilin dan tetrasiklin. Walaupun pemakaian beberapa kombinasi dapat diterima secara ilmiah, tetap diragukan perlunya kombinasi tetap oleh karena kemungkinan negatif yang dapat terjadi. Sebagai contoh kombinasi tetap penisilin dan streptomisin justru akan meyebabkan inaktivasi dari masing-masing antibiotika oleh karena terjadinya kerusakan secara kimiawi.
Penggunaan kombinasi antibiotik yang tepat harus dapat mencapai sasaran sebagai berikut:
1. Kombinasi bekerja sinergik terhadap mikroba penyebab infeksi
2. Kombinasi mencegah terjadi resistensi mikroba
3. Kombinasi sebagai tindak awal penanganan infeksi, bertujuan mencapai spektrum kerja luas pada infeksi yang disebabkan oleh beberapa mikroorganisme
4. Kombinasi antibiotik digunakan untuk menangani beberapa infeksi sekaligus.

Resistensi Antibiotik

Bakteri dikatakan resisten bila pertumbuhannya tidak dapat dihambat oleh kadar maksimum antibiotik yang dapat ditoleransi oleh tubuh. Resistensi adalah ketahanan mikroba terhadap antibiotik tertentu. Resistensi alamiah adalah jika beberapa mikroba tidak peka terhadap antibiotik tertentu karena sifat mikroba secara alamiah tidak dapat diganggu oleh antibiotik tersebut. Resistensi kromosomal terjadi karena mutasi spontan pada gen kromosom. Resistensi kromosomal dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu golongan primer, mutasi terjadi sebelum pengobatan dengan antibiotik dan selama pengobatan terjadi seleksi bibit yang resisten. Dan golongan sekunder, mutasi terjadi selama kontak dengan antibiotik kemudian terjadi seleksi bibit yang resistensi. Resistensi silang dapat terjadi dengan cara transformasi yaitu pelepasan DNA dari sel donor yang mengalami lisis pindah ke sel penerima, cara transduksi yaitu pemindahan gen yang resisten dengan bantuan bakteriofag dan cara konjugasi yaitu pemindahan gen karena adanya kontak sel dengan sel dan terbentuk jembatan plasma. Resistensi ekstra kromosomal, yang berperan adalah faktor R yang terdapat diluar kromosom yaitu didalam sitoplasma. Faktor R ini diketahui membawakan resistensi bakteri terhadap berbagai antibiotik.

Penggunaan Antibiotik

Secara umum, berdasarkan ditemukannya kuman penyebab infeksi atau tidak, maka terapi antibiotika dapat dibagi menjadi dua, yakni terapi secara empiris dan terapi pasti.
1. Terapi secara empiris:
Pada banyak keadaan infeksi, kuman penyebab infeksi belum dapat diketahui atau dipastikan pada saat terapi antibiotika dimulai. Dalam hal ini pemilihan jenis antibiotika diberikan berdasarkan perkiraan kemungkinan kuman penyebabnya. Ini dapat didasarkan pada pengalaman yang layak (pengalaman klinis) atau berdasarkan pada pola epidemiologi kuman setempat.
Pertimbangan utama dari terapi empiris ini adalah pengobatan infeksi sedini mungkin akan memperkecil resiko komplikasi atau perkembangan lebih lanjut dari infeksinya, misalnya dalam menghadapi kasus-kasus infeksi berat, infeksi pada pasien dengan kondisi depresi imunologik.
Keberatan dari terapi empirik ini meliputi, kalau pasien sebenarnya tidak menderita infeksi atau kalau kepastian kuman penyebab tidak dapat diperoleh kemudian karena sebab-sebab tertentu (misalnya tidak diperoleh spesimen), maka terapi antibiotika seolah-olah dilakukan secara buta.
2. Terapi pasti (definitif):
Terapi ini dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan mikrobiologis yang sudah pasti, jenis kuman maupun spektrum kepekaannya terhadap antibiotika.
Dalam praktek sehari-hari, mulainya terapi antibiotika umumnya dilakukan secara empiris. Baru kalau hasil pemeriksaan mikrobiologis menunjukkan ketidakcocokan dalam pemilihan antibiotika, maka antibiotika dapat diganti kemudian dengan jenis yang sesuai.

Efek Samping Antibiotik

Toksisitas selektif terhadap bakteri yang menginvasi tidak menjamin hospes bebas dari efek yang tidak diinginkan, karena obat dapat menimbulkan respon alergik atau bersifat toksik yang tidak berkaitan dengan aktivitas antibiotik:
1. Hipersensitivitas
Reaksi hipersensitivitas dapat terjadi apabila jumlah antigen masuk relatif banyak atau bila status imunologik seseorang, baik humoral maupun selular meningkat.
2. Toksisitas langsung
Toksisitas langsung yaitu kadar antibiotika yang tinggi dalam serum dapat menimbulkan toksisitas pada proses selular melalui organ tubuh penderita langsung.
3. Superinfeksi
Superinfeksi merupakan keberadaan data klinis maupun bakteriologi pengaruh penghambatan pertumbuhan dari flora normal.

dikutip dari blog
http://rudyregobiz.wordpress.com/antibiotik/

Senin, 21 Juni 2010

Kotor



Kelebat nista
Lamunan
Khayalan
Imajinasi
Seliweran tak tata
Kotor
Hina
Liar
Waktu tak duga
Pagi
Siang
Malam
Haha…
Setan terbahak gembira

Ciputat, 22 Mei 2008

Minggu, 06 Juni 2010

Skizofrenia




Batin beringsut
Saling sambut
Pikiran kalut
Ribut...

Amarahku Selintas
Bahagiaku Sekejap
Hanya aku kamu kita kalian
dialog dalam senyap

Darah gemuruh
Otak lumpuh
Hati buncah
Kepala pecah

Kenapa kamu kita kalian
Harusnya AKU
dan jiwaku terbelenggu...

Bekasi, 18 Mei 2010

Darah

laju mengalir
hulu ke hilir
cerahmu kuat
pudarmu penat
syukuri
ingat ilahi
tak kau dapati
saat terhenti
Aliran
Pancaran
Nikmatilah saat ini
sebelum titi mangsa tiba nanti



RS. Fatmawati
3 Maret 2009

Rabu, 16 Desember 2009

Menyambut Semangat Tahun Baru: Refleksi Tiga Dimensi Waktu

Seorang sahabat dekat saya, Hiznu Shobar, mengirimkan posting tentang Tahun Baru yang sangat mencerahkan. Saya share dengan teman-teman pembaca. Semoga bermanfaat.

Salam
Luthfi

MENYAMBUT SEMANGAT TAHUN BARU; REFLEKSI TIGA DIMENSI WAKTU
oleh Hiznu Shobar*


Tanpa terasa bahwa perputaran roda kehidupan telah bergulir begitu lama. Empat belas abad lebih menurut hitungan kalender Islam (Hijriyah) dan dua puluh abad lebih menurut hitungan kalender masehi. Satu demi satu perubahan kian terjadi. Ada anak kecil, lambat laun ia saat ini telah menjadi remaja. Ada pula yang kini telah menjadi dewasa padahal sebelumnya ia masih remaja bahkan terbilang masih anak-anak. Perubahan itu benar-benar terjadi. Hingga adanya seorang bayi yang lahir dan ada di antara kita meninggalkan dunia yang fana ini. Dan itu semua tidak lepas dari urusan waktu. Ya, waktu. Waktu yang mempertemukan kita dengan dunia dan ia pula yang memisahkannya.

Eksistensi kita di dunia ini sesungguhnya tidak akan lepas dari sebuah perputaran waktu. Dan waktu tersebut seolah-olah berbicara mengenai siapa kita dan apa saja yang telah kita lakukan. Dan waktu, saat berjalan ia tidak pernah menengok ke belakang. Ia tetap terus melaju tanpa peduli apakah kita berbuat sesuatu atau tidak sama sekali. Bahkan, salah satu ungkapan dalam sastra Arab disebutkan ‘‘al-Waqtu ka al-Saif in lam taqtho’uhu qotho’aka’’, waktu ibarat sebuah pedang, jika kita tidak bisa menaklukkannya atau menguasai untuk menggunakannya, maka kita akan mati terbunuh oleh waktu kita sendiri. Maka tidak heran jika ada orang yang bisa sukses dengan waktu yang ia miliki, tetapi di sisi lain ada pula orang yang gagal dengan waktunya. Padahal Allah SWT memberikan alokasi waktu yang sama pada orang yang sukses dan orang yang gagal tersebut, yaitu dua puluh empat jam sehari, tidak kurang dan tidak lebih.

Dalam dimensinya, waktu dibagi menjadi 3 (tiga) masa. Dan ketiga dimensi tersebut patut kita renungkan untuk kita pelajari dan kita ambil sebuah hikmah agar kehidupan kita bisa menjadi lebih baik.

Masa lalu
Setiap kita yang telah hadir di dunia ini, terutama saat kita sudah mulai menapaki masa aqil baligh, tentunya mempunyai masa lalu. Masa lalu adalah masa yang sudah lewat dari kehidupan kita. Namun, meskipun sudah berlalu bukan berarti tidak bisa kita renungkan. Bahkan, sejatinya orang muslim yang pandai mengambil hikmah dari masa lalunya ia tidak akan terjatuh pada lubang kegagalan untuk kedua kalinya. Akan tetapi ia mampu berbuat lebih baik dari sebelumnya. Bahkan ia mampu meraih keberhasilan dengan cara mempelajari apa yang telah ia lewati selama ini. Karena dengan ia menyadari akan tapak perjalanan masa lalunya, ia akan mengetahui apa saja kekuatan dan kelemahannya lalu ia mengevaluasinya (muhasabah) untuk ia perbaiki di kemudian hari.

Masa sekarang
Salah satu orang bijak berkata ‘Your day is today’. Ya! Benar sekali bahwa harimu adalah hari ini. Apa yang bisa kita lakukan hari ini adalah hari kita yang penuh dengan makna. Dan bisa jadi apa yang kita lakukan saat ini mengandung arti menciptakan masa depan kita sendiri. Hal itu tidak lain karena apa yang kita taburkan saat ini akan kita tuai di masa yang akan datang. Melakukan yang terbaik saat ini berarti menginginkan kebaikan yang lebih di masa yang akan datang. Berbuat sesuatu saat ini berarti kita menciptakan karakter kita sendiri. Dan karena hidup adalah perbuatan maka diam tak bergerak itu identik dengan kematian. Seseorang yang selalu menghabiskan waktunya dengan sungguh-sungguh akan sangat berbeda hasilnya dengan orang yang selalu lalai dalam mengisi waktunya (QS. al-Ashr [103]: 2-3).

Masa akan datang
Ini adalah masa perkiraan (prediction). Masa di mana kita semua tidak ada yang pernah tahu apa yang akan terjadi. Meskipun hanya satu detik kemudian. Masa depan tidak pernah bisa kita pastikan namun bisa kita prediksikan dengan suatu perbuatan konkrit masa sekarang. ‘Masa depan adalah apa yang Anda lakukan saat ini’ demikian salah seorang arif bernasihat. Sepatutnya, apa yang kita inginkan di masa yang akan datang harus bisa kita rencanakan saat ini kemudian kita melakukan persiapan dan berikutnya diiringi dengan sebuah usaha dan perbuatan yang mengarah kepada keinginan kita.

Maka, dalam momentum yang sangat baik ini alangkah baiknya kita merevitalisasi konsep hidup kita yang sudah ada dengan mengaktualisasikan diri kita pada sebuah kualitas hidup yang lebih bernilai. Ada kandungan semangat yang tumbuh dalam jiwa kita jika kita mampu merefleksikan ketiga dimensi waktu tersebut. Ada kandungan nilai positif yang lahir dalam hati kita saat kita mampu mengetahui sisi-sisi kekuatan dan kelemahan kita. Kita akan senantiasa mengevaluasi apa yang telah kita perbuat di masa lalu, kita pun akan selalu mawas diri dan akan sangat berhati-hati akan apa yang kita perbuat.

Suatu keniscayaan yang hebat jika setiap kita mampu menyadari secara berkesinambungan apa yang telah kita perbuat di masa lalu, apa yang sedang kita perbuat saat ini dan apa yang akan kita perbuat di masa yang akan datang. Setidaknya kesadaran tersebut akan menjadi standar dinamika kehidupan kita.

Ketiga dimensi waktu yang kita bicarakan sesungguhnya akan menjadi cermin yang memiliki kualitas kontrol (quality of control) yang bisa kita jadikan sandaran dan alat evaluasi.

Semangat tahun baru Hijriah dan Masehi yang kita hadapi saat ini seharusnya bisa menjadi sebuah kristalisasi dari ketiga dimensi yang kita renungkan tadi. Dengan adanya tahun baru tersebut, setidaknya kita mampu mengaktifkan kembali rasa kesadaran kita yang mungkin selama ini sempat ‘mati’ karena kesibukan aktivitas sehari-hari. Padahal, dalam salah satu sejarah Islam disebutkan bahwa ada salah satu sahabat yang mendapatkan jaminan surga bukan hanya karena dia mampu istiqomah dalam amalan ibadah kesehariannya, tapi juga ia selalu merenungi apa yang telah dia lakukannya sebelum ia tidur. Selamat berbuat untuk menyambut semangat Tahun Baru!

*Alumni Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Darus Sunnah High Institute of Hadith Sciences. Pernah menjadi juara III Lomba Debat Bahasa Arab Universitas se-Asia Tenggara

Selasa, 01 Desember 2009

ARTI KEBERANIAN


oleh: Luthfi Arif

Dalam sebuah hikayat, yang mengisahkan Siti Masyithoh,
tukang sisir putri Firaun, disebutkan bahwa ia adalah
wanita yang begitu gigih mempertahankan keimanannya
pada Allah. Meskipun harus mati dengan terjun ke dalam
golakan minyak panas, ia tidak gentar. Sebuah
keberanian mempertahankan kebenaran menjadi
landasannya melakukan itu semua.
Sebuah kebenaran tak akan pernah terlihat tanpa ada
yang menampakkannya. Menampakkan kebenaran
sejelas-jelasnya tidaklah mudah. Begitu banyak yang
harus dilakukan. Butuh keberanian yang cukup besar.
Sebuah keberanian tak muncul dengan sendirinya. Sifat
ini bagaikan sebuah tanaman yang harus selalu dipupuk
agar tumbuh dan akarnya kuat. Tatkala keberanian telah
tumbuh dan berakar kuat, maka seseorang akan berani
menghadapi lawan dan menentang halangan dan rintangan.
Ia pun akan sanggup mengatakan yang haq adalah haq,
dan yang batil adalah batil.
Keberanian adalah kunci dari segala kesuksesan. Ia
juga motivator seseorang untuk giat berusaha. Dengan
mengubur dalam-dalam sifat pengecut dan mengganti
dengan sifat pemberani, segala usaha akan lebih mudah
dijalankan. Tak akan pernah terbersit kata mundur,
meskipun hanya sejenak, seandainya usaha yang
dilakukannya belum mencapai tujuan.
Dengan keberanian pula, ia akan siap dan mampu
menghadapi segala persoalan dengan tenang. Karena,
solusi permasalahan datang dari jiwa yang tenang dan
siap menghadapinya. Mental pengecut hanya mampu lari
dari permasalahan, bukan menghadapinya.
Akan tetapi, keberanian bukanlah hanya persoalan
menghadapi, melawan, dan menantang. Keberanian adalah
proporsional. Keberanian adalah berusaha menjunjung
kebenaran dengan cara apa pun sekuat tenaga. Sekira
suatu permasalahan perlu dihadapi, dilawan, atau
ditentang, maka hadapi, lawan, dan tentanglah. Namun,
seandainya semua itu mengakibatkan keburukan yang
lebih besar, maka menahan diri akan lebih baik. Karena
menahan diri bukan berarti kalah. Dan mundur tidak
melulu bermakna takut. Mempertahankan kebenaran adalah
tujuan utama.
Efek dari keberanian bukan hanya untuk diri sendiri.
Dengan keberanian, seseorang mampu mengembalikan orang
sesat ke jalan yang lurus, membuat orang yang zalim
menjadi adil, dan memberikan petunjuk kepada umat agar
tetap konsisten di jalan kebenaran. Seandainya
keberanian ini hilang, maka kezaliman akan merajalela,
kejahilan semakin bertambah, dan umat akan berjalan
dalam koridor-koridor kesesatan.
Dalam berbagai kesempatan, Rasulullah SAW selalu
mengajarkan umatnya untuk selalu berani, terlebih
untuk berjuang di jalan Allah. Ia juga selalu memohon
agar dijauhkan dari sifat penakut. Sebagaimana
penggalan hadisnya “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu
dari sifat penakut dan bakhil.” (H.R. Bukhari).
Karenanya, hiduplah selalu dengan keberanian. Jauhi
sifat penakut dan janganlah menjadi pengecut. Penakut
dan pengecut hanyalah sifat orang bodoh. Keberanianlah
sifat mukmin sejati. Wallahu A’lam.[]

Darus Sunnah, 29 Januari 2006

MENGHINDARI SIFAT PESIMIS


oleh: Luthfi Arif

Manusia, dalam menghadapi hidup dan kehidupannya,
memiliki dua sifat, optimis dan pesimis. Sifat optimis
didefinisikan sebagai sikap seseorang yang selalu
memandang adanya harapan baik. Dan pesimis adalah
sebaliknya, yaitu sikap seseorang yang selalu
berpikiran bahwa kebaikan tidak pernah berpihak
padanya.
Dua sifat ini sangat memengaruhi kehidupan seseorang.
Orang yang optimis akan selalu melihat hidup dari sisi
positif. Dalam memandang suatu permasalahan, ia akan
cenderung memerhatikan kebaikan-kebaikan yang
terkandung di dalamnya. Dan harapan-harapannya tentang
keberhasilan akan membuat pikirannya selalu maju ke
depan. Baginya kegagalan dan kesulitan hanyalah
sekedar penyakit ringan yang tidak terlalu berbahaya.
Di balik itu semua tersimpan kemudahan dalam
memperoleh keberhasilan yang diidamkan. “Sesungguhnya
dibalik kesulitan itu ada kemudahan.” (Q.S.
Al-Insyirah: 6).
Sedangkan orang yang pesimis, melihat hidup hanya dari
sisi buruknya saja. Baginya kebaikan tak pernah ada.
Dan kegagalan bagaikan sebuah harimau dengan mulut
menganga yang siap menerkam. Orang yang pesimis tidak
akan mampu berpikir maju. Jika mendapatkan cobaan,
meskipun ringan, ia akan selalu berkeluh kesah.
Padahal, dalam surah Al-Ma’arij ayat 22, orang yang
berkeluh kesah ketika ditimpa kegagalan hanyalah orang
yang tidak salat atau tidak meresapi salatnya. Dan ini
merupakan ciri orang kafir.
Oleh karena itu, dalam Alquran, orang yang pesimis
diserupakan dengan orang kafir. Karena orang yang
pesimis secara tidak langsung menjustifikasi bahwa
Allah tidak memberinya rahmat, tidak mengasihinya.
“Janganlah kalian pesimis dari rahmat Allah SWT.
Sesungguhnya orang yang pesimis akan rahmat Allah SWT
hanyalah orang kafir.” (Q.S. Yusuf: 87).
Pada dasarnya, pesimis adalah penyakit hati yang dapat
menjangkit setiap orang. Penyakit ini dapat
dihilangkan dengan membersihkan hati dari hal-hal
buruk penyebab timbulnya sifat pesimis.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan agar kita
terhindar dari sifat ini.
Pertama, menghilangkan sifat tidak percaya diri. Sikap
rendah diri dan kurang percaya diri dapat menyebabkan
timbulnya sifat pesimis. Dengan merenungi bahwa Allah
menciptakan manusia secara sempurna, sifat pesimis
dapat dikikis. “Sungguh Kami telah ciptakan manusia
dalam bentuk yang paling sempurna.” (Q.S. At-Tin: 4)
Kedua, meyakini bahwa setiap manusia diciptakan Allah
sesuai kadar masing-masing sehingga potensi yang
dimiliki pun berbeda-beda. “Sesungguhnya kami
menciptakan segala sesuatu sesuai dengan kadarnya.”
(Q.S. Al-Qamar: 49).
Ketiga, memperbaiki niat dan memperkuat ‘azam. Niat
dan ‘azam timbul dari dalam hati. Jika niat telah
bersih dan ‘azam semakin kokoh, maka optimisme akan
muncul dengan sendirinya.
Dengan selalu menjalankan hal-hal di atas, seseorang
akan selalu berprasangka baik terhadap Allah SWT dan
setiap pekerjaannya selalu diikuti dengan niat dan
harapan yang baik.
Semoga kita selalu terhindar dari sifat pesimis.
Wallahu A’lam.[]

Darus Sunnah, 29 Januari 2006