
oleh: Luthfi Arif
Dalam sebuah hikayat, yang mengisahkan Siti Masyithoh,
tukang sisir putri Firaun, disebutkan bahwa ia adalah
wanita yang begitu gigih mempertahankan keimanannya
pada Allah. Meskipun harus mati dengan terjun ke dalam
golakan minyak panas, ia tidak gentar. Sebuah
keberanian mempertahankan kebenaran menjadi
landasannya melakukan itu semua.
Sebuah kebenaran tak akan pernah terlihat tanpa ada
yang menampakkannya. Menampakkan kebenaran
sejelas-jelasnya tidaklah mudah. Begitu banyak yang
harus dilakukan. Butuh keberanian yang cukup besar.
Sebuah keberanian tak muncul dengan sendirinya. Sifat
ini bagaikan sebuah tanaman yang harus selalu dipupuk
agar tumbuh dan akarnya kuat. Tatkala keberanian telah
tumbuh dan berakar kuat, maka seseorang akan berani
menghadapi lawan dan menentang halangan dan rintangan.
Ia pun akan sanggup mengatakan yang haq adalah haq,
dan yang batil adalah batil.
Keberanian adalah kunci dari segala kesuksesan. Ia
juga motivator seseorang untuk giat berusaha. Dengan
mengubur dalam-dalam sifat pengecut dan mengganti
dengan sifat pemberani, segala usaha akan lebih mudah
dijalankan. Tak akan pernah terbersit kata mundur,
meskipun hanya sejenak, seandainya usaha yang
dilakukannya belum mencapai tujuan.
Dengan keberanian pula, ia akan siap dan mampu
menghadapi segala persoalan dengan tenang. Karena,
solusi permasalahan datang dari jiwa yang tenang dan
siap menghadapinya. Mental pengecut hanya mampu lari
dari permasalahan, bukan menghadapinya.
Akan tetapi, keberanian bukanlah hanya persoalan
menghadapi, melawan, dan menantang. Keberanian adalah
proporsional. Keberanian adalah berusaha menjunjung
kebenaran dengan cara apa pun sekuat tenaga. Sekira
suatu permasalahan perlu dihadapi, dilawan, atau
ditentang, maka hadapi, lawan, dan tentanglah. Namun,
seandainya semua itu mengakibatkan keburukan yang
lebih besar, maka menahan diri akan lebih baik. Karena
menahan diri bukan berarti kalah. Dan mundur tidak
melulu bermakna takut. Mempertahankan kebenaran adalah
tujuan utama.
Efek dari keberanian bukan hanya untuk diri sendiri.
Dengan keberanian, seseorang mampu mengembalikan orang
sesat ke jalan yang lurus, membuat orang yang zalim
menjadi adil, dan memberikan petunjuk kepada umat agar
tetap konsisten di jalan kebenaran. Seandainya
keberanian ini hilang, maka kezaliman akan merajalela,
kejahilan semakin bertambah, dan umat akan berjalan
dalam koridor-koridor kesesatan.
Dalam berbagai kesempatan, Rasulullah SAW selalu
mengajarkan umatnya untuk selalu berani, terlebih
untuk berjuang di jalan Allah. Ia juga selalu memohon
agar dijauhkan dari sifat penakut. Sebagaimana
penggalan hadisnya “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu
dari sifat penakut dan bakhil.” (H.R. Bukhari).
Karenanya, hiduplah selalu dengan keberanian. Jauhi
sifat penakut dan janganlah menjadi pengecut. Penakut
dan pengecut hanyalah sifat orang bodoh. Keberanianlah
sifat mukmin sejati. Wallahu A’lam.[]
Darus Sunnah, 29 Januari 2006
Tidak ada komentar:
Posting Komentar