Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Desember 2009

MEMELIHARA TIGA UNSUR


oleh: Luthfi Arif

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr, suatu ketika Rasulullah SAW bersabda "Aku akan menjadi orang yang paling acuh dengan perbuatanku jika aku melakukan tiga hal; meminum penawar racun, mengalungkan jimat, dan melantunkan syair" (HR Ahmad dan Abu Dawud)
Hadis di atas menjelaskan tiga hal yang dilarang Rasulullah SAW. Karena jika dilakukan, maka akan sama halnya dengan orang fasik yang melakukan segala sesuatu tanpa pertimbangan agama. Tak peduli apakah perbuatan itu diperintah atau dilarang syariat Islam.
Tiga hal itu adalah:
Pertama, meminum penawar racun. Imam Ibnu al-Atsir berpendapat bahwa penawar racun yang dilarang adalah yang mengandung benda haram dan najis seperti darah ular atau khamr. Oleh karenanya tidak ada masalah mengkonsumsi penawar racun yang terbuat dari bahan baku halal.
Kedua, memakai jimat. Dalam hal ini beberapa ulama, di antaranya al-Khaththabi, berpendapat bahwa jimat yang dilarang adalah jimat-jimat Jahiliyah seperti kuku atau taring binatang buas.
Ketiga, mendendangkan syair. Imam Abadi dalam kitab 'Aun al-Ma'bud menjelaskan bahwa syair-syair yang sengaja dibuat untuk dilantunkan adalah haram. Sedangkan jika dibuat untuk sekadar melepas penat diperbolehkan.
Betapapun beragamnya pendapat ulama, satu hal yang harus diperhatikan adalah kandungan dan maksud hadis tersebut. Tujuan Rasulullah SAW melarang tiga hal itu adalah untuk menjaga kesucian tiga unsur pokok pembentuk seorang muslim, yaitu akal, akidah, dan hati.
Ibarat komputer, akal adalah prosesor yang memuat program-program penting. Jika terkena virus, komputer akan rusak dan tidak dapat beroperasi. Jika benda haram dan najis terserap dalam tubuh seorang muslim, maka sedikit banyak akan mempengaruhi akal dan sikapnya. Kepribadian muslimnya dapat menjadi rusak.
Akidah adalah fondasi iman seseorang. Akidah yang salim mengantarkan seorang muslim kepada keyakinan yang teguh terhadap kekuatan sang Khalik, Allah SWT. Menggunakan jimat berarti meyakini adanya kekuatan lain selain Allah SWT. Ini adalah kemusyrikan. "Di antara tujuh hal yang akan membinasakan (di hari kiamat) adalah engkau menyekutukan Allah SWT, padahal ia telah menciptakanmu…" (HR Bukhari)
Dalam Alquran, Allah SWT berfirman "Kami tidak pernah mengajari (Muhammad) syair-syair. Dan memang tidak layak baginya." (QS Yasin: 69). Syair dapat membuat orang yang mendendangkannya terlena. Hati yang dipenuhi syair akan lalai dari Allah SWT. Oleh karenanya, Rasulullah SAW melarang mendendangkan syair. "Lebih baik hati seseorang dipenuhi oleh nanah, daripada dipenuhi syair." (HR Bukhari)
Menghindari tiga hal di atas berarti menjaga tiga unsur penting dalam kehidupan. Apabila kesemuanya telah terjaga dengan baik, maka akan tercipta ketenangan jiwa dan ibadah. Kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat pun dapat terwujud. Wallahu A'lam

Darus Sunnah, 20 April 2006

MENANGIS TAUBAT


oleh: Luthfi Arif

Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, siapapun dia, apapun derajatnya. Bahkan, para nabi utusan Allah SWT pun melakukan kesalahan. Bedanya, kekasih-kekasih Allah itu langsung mendapat teguran dari Allah SWT ketika khilaf, dan menyesali dosanya. Sedangkan manusia biasa, belum tentu.
Nabi Adam as misalnya. Tatkala ia dan istrinya, Hawwa, memakan buah larangan, Allah SWT langsung menegur mereka dengan menanggalkan penutup tubuh mereka dan mengeluarkan mereka dari surga. Dalam penyesalannya, Nabi Adam as. menangis dan berdoa, “Tuhan, kami telah menzalimi diri sendiri. Andai Engkau enggan mengampuni kesalahan kami dan mengasihi kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS Al-A’raf: 23)
Demikian halnya dengan Nabi Yunus as. Ketika ia murka atas keengganan kaumnya menerima dakwahnya, Allah langsung menegurnya dengan ditenggelamkan di lautan dan ditelan ikan paus. Dalam kesendiriannya di lambung paus yang gelap gulita itu, Nabi Yunus menangis menyesali dosanya, “Ya Allah! Tiada tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Aku benar-benar termasuk orang-orang yang zalim!” (QS Al-Anbiya: 87).
Tak ada manusia yang luput dari kesalahan dan dosa. Dosa dan kesalahan ini akan menghantarkannya pada azab Allah. Namun Allah SWT Maha Pengasih dan Penyayang. Allah tidak akan menyiksa hamba-Nya yang berbuat salah sedangkan ia menangis menyesali dosanya dan berjanji tidak mengulangi perbuatannya.
Alangkah beruntungnya orang yang bertaubat dan menyesali kesalahan yang pernah dilakukan sampai meneteskan air mata. Allah telah persiapkan untuknya naungan di hari kiamat kelak. “Di antara orang-orang yang dinaungi pada hari kiamat adalah seseorang yang berkhalwat di malam hari (untuk bertaubat), sampai kedua belah matanya mencucurkan air mata.” (HR Bukhari)
Lebih baik menangis untuk Allah saat ini di dunia, meminta ampunan dan kasih sayangnya, daripada tak dapat berhenti menangis di akhirat karena merasakan siksa. Ibnu Abbas pernah berkata, “Orang yang mengumbar tawa di dunia, niscaya mereka akan menangis tak henti-henti di akhirat kelak ketika dihisab.” (Tafsir Ibnu Katsir).
Namun, jangan hanya air mata penyesalan yang kita teteskan untuk Allah. Seorang mukmin akan mampu meneteskan air mata, atas segala karunia dan nikmat yang dianugerahkan Allah. Karena air mata merupakan salah satu wujud getaran hati.
Dan Allah telah menjanjikan kabar gembira berupa surga bagi mereka yang bergetar hatinya ketika mengingat Allah. “...berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk (kepada Allah). Yaitu orang-orang yang hatinya bergetar tatkala mengingat Allah...” (QS Al-Hajj : 34-35). Wallahu A’lam

Darus Sunnah, 18 Juni 2006

PERNIKAHAN*


oleh: Luthfi Arif

Salah satu tujuan dari pernikahan adalah menegakkan salah satu maqashid al-syariah (tujuan syariah) yang bersifat dharuriyat (primer), yaitu memelihara keturunan (hifzh al-nasl).

Pernikahan juga merupakan ibadah yang amat sangat indah. Sebuah ibadah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW sebagai sarana untuk memelihara kelestarian umat. “Menikah dan perbanyaklah keturunan kalian. Sesungguhnya pada hari kiamat aku akan membanggakan umat-umat yang kalian pelihara.” (H.R. Al-Baihaqi).

Sedemikian pentingnya pernikahan, sehingga ikatan pernikahan dalam Alquran disebut sebagai janji yang sangat kuat (mitsaqan ghalizha).(QS An-Nisa: 21). Mereka yang telah mengikatkan janji dalam pernikahan, diperintahkan untuk selalu menjaganya.

Sebuah pernikahan akan memberikan kedamaian dan ketenangan hidup yang didambakan setiap insan, jika dilandasi dengan rasa cinta dan kasih sayang. Karena pada dasarnya, Allah SWT menciptakan pasangan hidup sebagai tempat manusia menemukan ketenangan dan kedamaian hati. “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah diciptakannya untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tenteram bersamanya…” (Q.S. Ar-Rum: 21)

Dalam mengarungi bahtera rumah tangga, akan ada kisah-kisah romantis yang terjadi. Dan ini perlu ditiru, mengingat bahwa Rasulullah SAW juga termasuk pribadi yang romantis. Dalam sebuah hadis shahih diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW, ketika didera sakit karena kedinginan, tidur di pangkuan Aisyah agar merasa hangat dan nyaman. Aisyah memeluk Rasulullah SAW dengan erat sampai ia tertidur pulas dan merasa hangat. (HR. Al-Nasa’i). Untuk itu, umatnya pun seharusnya mampu meneladani sifat ini.

Namun pada saat yang lain, pernikahan ibarat biduk yang berlayar di lautan luas. Ia akan didera ombak dan pasang surut gelombang. Suatu saat akan ada pasir-pasir halus atau bahkan karang-karang tajam yang menyebabkan ketidaknyamanan.

Dalam kondisi seperti ini ajaran Islam menganjurkan agar masing-masing selalu menjaga kesabaran. Semua ini bertujuan agar mahligai rumah tangga tetap terjaga. Masing-masing dianjurkan untuk introspeksi diri dan mengingatkan satu sama lain agar menjadi mengerti masalah yang dialami dan mampu menyelesaikannya. “Dan perbaikilah interaksi kalian dengan istri-istri kalian. Dalam ketidaksukaan kalian pada mereka, barangkali Allah menjadikan banyak kebaikan di dalamnya.” (Q.S. An-Nisa: 19)

Dalam segala hal, introspeksi diri adalah suatu keharusan. Demikian pula dalam berumah tangga. Rumah tangga yang baik adalah yang dilandasi keterbukaan, saling percaya, dan saling mengingatkan. Menyikapi permasalahan dengan bijak, akan menjadi solusi permasalahan yang paling tepat dalam rumah tangga.

Allah tidak pernah menciptakan manusia dalam keadaan yang buruk. Dia menjadikan manusia dalam bentuk yang paling baik. (Q.S. At-Tin: 4). Segala kekurangan hanyalah terdapat dalam persepsi dan cara menyikapinya.

Dengan sikap menerima apa adanya, perasaan-perasaan negatif yang tumbuh sedikit demi sedikit terkikis. Dan, kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah yang selalu didambakan pun akan terwujud.

Wallahu A’lam.[]



*Tulisan ini terinspirasi ketika pertama kali dapat job sebagai MC kawinan. Meskipun sampai tulisan ini di-post saya belum menikah, bukan berarti saya tidak mengamalkan apa yang saya tulis. Semua ini akan saya pakai nanti, saat saya membina keluarga. Amiiin...

IBADAH SOSIAL


oleh: Luthfi Arif

Sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT untuk beribadah kepada-Nya, setiap muslim yang mengaku beriman diwajibkan menaati segala ketentuan yang Allah tetapkan baginya. Di antara ibadah-ibadah yang diwajibkannya adalah menunaikan ibadah haji bagi mereka yang diberikan kemampuan untuk melaksanakannya.

“Setiap orang yang telah mampu diwajibkan menunaikan ibadah haji karena Allah SWT" (QS Ali Imran: 97)

Ibadah haji merupakan ibadah yang sangat agung. Sebuah ibadah di mana sebagian kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia berkumpul di satu tempat, Makkah al-Mukarramah, mengumandangkan takbir, tahlil, dan tahmid. Mereka menyerukan talbiyah, sebagai bukti pemenuhan panggilan Allah dan mengagungkan kebesaran Allah. “Demikianlah (perintah Allah). Dan orang yang mengagungkan tanda-tanda kebesaran Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwan hati.” (QS Al-Hajj: 32)

Dalam memenuhi panggilan Allah, berjuta-juta kaum muslimin dari berbagai suku bangsa, martabat, kedudukan, strata, dan status sama-sama berkumpul berpanas-panasan di bawah terik matahari. Tak ada perbedaan antara kaya dan miskin., raja dengan rakyatnya, majikan dengan pekerjanya, atau golongan satu dengan golongan lainnya. Mereka semua berpakaian sama, memiliki niat yang sama, mengharap ridha Allah. Mereka adalah tamu-tamu Allah yang sedang bertaqarrub (mendekatkan diri kepada Allah).

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (QS Al-Hajj: 20)

Selain dari sisi ibadah sebagai bentuk loyalitas seorang hamba kepada Allah, ibadah haji juga merupakan simbol persatuan umat Islam. Dengan ibadah haji, perbedaan dan ketidakseragaman warna kulit, daerah, bahasa, dan lain-lain, dapat dikesampingkan. Tak ada kesenjangan sosial dilihat dari sudut manapun. Bahwa yang menjadi perbedaan hanyalah tingkat ketakwaan kepada Allah. “Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah di antara kamu sekalian adalah orang yang paling bertakwa” (QS Al-Hujurat: 13)

Hal ini menunjukkan betapa perbedaan yang hanya tampak luar tidak menjadi landasan untuk tidak menciptakan ukhuwah islamiyah yang kokoh. Ikatan akidah yang kuat menjadi tali kekang bagi persatuan dan kesatuan umat Islam.

Di belahan bumi lain, kaum muslimin yang diberikan keluasan rezeki oleh Allah diperintahkan untuk menunaikan ibadah kurban sebagai tanda syukur kepada Allah atas segala nikmat yang diperolehnya.

Ibadah kurban menjadi sangat penting karena selain membuktikan secara nyata ketaatan kaum muslimin kepada Allah, kurban juga menjadi tolok ukur seseorang dalam membina hubungan sosial dan memperhatikan kesejahteraan saudaranya sesama muslim. Sehingga tak heran jika kemudian Rasulullah memberikan ancaman bagi orang yang tidak mau melaksanakan kurban untuk tidak menginjakkan kaki di masjid Nabi.

“Orang yang telah memiliki kemampuan untuk berkurban tetapi tidak melakukannya, maka jangan sekali-kali ia mendekati tempat salat kami.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Semoga kita senantiasa menjadi hamba Allah yang memiliki kepekaan sosial yang tinggi.

Wallahu A'lam.[]

Darus Sunnah, 25 Desember 2006

MENGHARGAI ORANG LAIN

oleh: Luthfi Arif

Islam menekankan arti penting membina silaturrahim antar sesama muslim. Salah satu cara membina silaturrahim adalah berusaha menghargai orang lain dan tidak melakukan hal yang menyinggung perasaan.
Sedemikian pentingnya menghargai orang lain, Rasulullah Saw sampai mendapat teguran langsung dari Allah ketika sempat menyinggung seseorang.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Urwah, suatu ketika Abdullah bin Ummi Maktum datang menghadap Rasulullah Saw sambil berkata: "Ya Muhammad, tolong ajari aku!" Pada saat itu, Rasulullah Saw sedang berbincang-bincang dengan seorang pembesar. Rasulullah Saw berpaling muka dari Ibnu Ummi Maktum dan menghadap pembesar itu.
Melihat seperti itu Ibnu Ummi Maktum berkata pada sahabat yang lain: "Wahai Fulan, apakah ada yang salah dengan ucapanku?" Sahabat itu berkata: "Demi darahku, aku tidak melihat ada yang salah dengan ucapanmu." Maka kemudian turunlah surah Abasa ayat 1 dan 2 "Ia bermuka masam dan berpaling. Ketika datang padanya seorang yang buta." (HR Malik)
Di belahan bumi manapun, orang yang memiliki kedudukan sangat dihargai oleh masyarakat. Sehingga menjadi amat lumrah, jika seorang dengan pangkat tinggi memperoleh perlakuan terbaik dari siapa saja.
Namun tidak demikian halnya dalam pandangan Allah SWT. Allah tidak membeda-bedakan manusia berdasarkan pangkat. Yang membedakan manusia di sisi Allah hanyalah tingkat ketakwaan. Siapapun ia, meski dalam strata sosial bukan termasuk golongan teratas, ia berhak menyandang predikat mulia di hadapan Allah jika tingkat ketakwaannya paling tinggi.

Artinya: "sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa" (QS Al-Hujurat: 13)
Jabatan, pangkat ataupun kedudukan tidak menjadi jaminan atas mulianya seseorang. Sebaliknya, kemiskinan dan kefakiran seseorang tidak pula menjadi tolok ukur atas suatu ketakwaan.
"Dan janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dialah (Allah) yang paling mengetahui siapa di antara kalian yang paling bertakwa." (QS An-Najm: 32)
Ayat di atas menerangkan hak prerogatif Allah dalam menentukan status seorang hamba. Ini artinya, menghargai orang lain adalah hal yang sangat penting, karena tidak ada seorang pun yang berhak mengklaim dirinya lebih baik dari yang lain, baik tingkat kemuliaan maupun ketakwaan.
Wallahu A'lam

Darus Sunnah, 11 Februari 2007

PEMIMPIN

oleh: Luthfi Arif



"Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya." (HR Bukhari)

Secara kodrati, manusia senantiasa memimpikan keadaan sejahtera dalam berbagai hal. Kesejahteraan biasa digambarkan sebagai kebahagiaan, ketenangan, dan kenyamanan yang dirasakan selama menjalani hidup dan kehidupan. Kesejahteraan suatu komunitas bergantung pada sosok yang menjadi pemimpinnya.

Ada tiga kriteria pemimpin yang mampu mensejahterakan rakyatnya. Pertama, memiliki landasan agama yang kuat, yaitu dengan keyakinan bahwa tiada sesembahan selain Allah. Karena pada hakikatnya tugas utama setiap manusia adalah beribadah kepada Allah. "Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku" (QS Adz-Dzariyat: 56).

Banyaknya tindak kejahatan dan korupsi yang terjadi disebabkan tidak adanya landasan agama yang kuat dari oknum pelaku. Hilangnya kesadaran akan adanya balasan di kemudian hari atas setiap tindak-tanduk dan perilaku juga menjadi salah satu penyebabnya.

Kedua, mampu mengayomi dan memenuhi kebutuhan rakyatnya. Setiap orang memiliki kadar kebutuhan yang harus dipenuhi demi kelangsungan hidupnya. "Sesungguhnya Kami ciptakan segala sesuatu sesuai dengan kadarnya." (QS Al-Qamar: 49). Ini artinya, segala hal menyangkut ekonomi rakyat harus diutamakan. Masalah pokok dari instabilitas ekonomi adalah kemiskinan. Dan kemiskinan menimbulkan banyak hal buruk, semisal kriminalitas, atau yang lebih parah, menyebabkan kekafiran.

Dalam sebuah hadis dari sahabat Abu Sa'id al-Khudri, Rasulullah SAW pernah berdoa memohon dijauhkan dari kekafiran dan kemiskinan. Abu Sa'id al-Khudri kemudian bertanya perihal doa tersebut, "Ya Rasul, apakah kekafiran dan kemiskinan dapat menjadi setara?" Rasul menjawab, "Ya." (HR Ibnu Hibban)

Ketiga, mampu menciptakan kondisi yang aman dan situasi yang terkendali. Pemimpin yang baik harus mampu menanggulangi berbagai macam hal yang dapat mengancam keselamatan rakyatnya, semisal banjir dan sebagainya. Dan kebijakan yang diambil juga harus dilandaskan pada kemaslahatan rakyat.

Dalam kaidah fikih disebutkan, “Tasharruf al-‘Imam ala al-Ro’iyyah Manuthun bi al-Mashlahah (Kebijakan seorang pemimpin itu terhadap rakyatnya harus dilandaskan pada asas maslahat)”

Tiga kriteria tersebut di atas, secara tersirat, terangkum dalam Alquran surah Quraisy ayat 3-5, "Dan sembahlah Tuhan yang menguasai Ka'bah ini. Yang memberikan kalian makan ketika kalian lapar. Dan yang memberikan rasa aman kepada kalian dari ketakutan." (QS Quraisy: 1-3).

Wallahu A'lam bish Shawab

Darus Sunnah, 25 Juni 2007

CERMIN

oleh: Luthfi Arif


Cermin merupakan alat yang dapat digunakan seseorang untuk melihat dan memperhatikan diri. Dengan cermin, seseorang mengetahui baik atau tidaknya penampilan. Jika ada hal yang dirasa tidak pantas, akan diperbaiki kemudian. Tentunya hal ini sangat sulit dilakukan tanpa perantara cermin.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, "Masing-masing dari kalian adalah cermin bagi saudaranya. Apabila ia melihat ada keburukan pada wajah saudaranya, maka ia menyingkirkan keburukan itu." (HR Al-Tirmidzi).

Al-Mubarakfuri, ketika mengulas hadis ini dalam Tuhfah al-Ahwadzi, menyebutkan bahwa setiap muslim ibarat cermin bagi yang lain. Ia adalah alat bagi yang lain untuk mengetahui kebaikan dan keburukan yang ada pada dirinya.

Terkadang seseorang tidak mengetahui keburukan yang dilakukannya, jika tidak diingatkan oleh orang lain. Padahal, setiap tindak-tanduk yang dianggap baik oleh diri sendiri belum tentu baik bagi orang lain. Oleh karena itu, bercermin pada pendapat orang lain adalah keharusan.

Sejatinya, inilah hakikat nasihat yang diabadikan Allah SWT dalam Surah Al-'Ashr ayat 3, "Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran."

Nasihat dalam pengertian syara' adalah menginginkan orang yang dinasihati menjadi baik, atau ada peningkatan dari keadaan sebelumnya.

Orang yang senantiasa menasihati dalam kebenaran dan kesabaran disejajarkan dengan orang yang beriman dan beramal saleh. Dengan catatan, setiap nasihat yang disampaikan kepada orang lain harus juga diamalkan oleh orang yang menasihati. Terdapat ancaman dari Allah SWT bagi orang yang senang mengumbar nasihat pada orang lain, namun dirinya sendiri tidak mau mengamalkan.

"Sungguh besar murka Allah SWT jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu laksanakan." (QS Al-Shaff: 3)

Demikianlah Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa memberikan nasihat dalam kebenaran dan kesabaran. Tak ada ajaran untuk angkat kayu dan senjata ketika mengingatkan orang lain. Tindak kekerasan hanya diperkenankan terhadap orang kafir yang terang-terangan memerangi umat Islam secara fisik.

Jika saja inti dari ajaran Rasulullah SAW diresapi dan diamalkan secara benar, maka kedamaian akan diperoleh. Tak akan ada lagi korban yang timbul akibat kekerasan berdalih peringatan agama. Wallahu A'lam []

Darus-Sunnah, 5 Nov 2007

PENGADILAN TINGGI

oleh: Luthfi Arif



Setiap manusia akan menghadapi sebuah masa di mana segala amal perbuatan yang dilakukannya ketika di dunia akan dimintai pertanggungjawaban. Setiap jenis tindakan dari tiap detik gerakan di tiap inci tubuh manusia akan diperhitungkan, dan diberikan balasan sepatutnya.
"Dan disempurnakan bagi tiap-tiap jiwa, balasan apa yang telah dikerjakannya. Dan Dia lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan." (QS Az-Zumar: 70)
Tak ada seorang pun yang akan luput dari Hari Kiamat. Siapapun ia, yakin ataupun ingkar terhadap ketentuan Allah ini, segala perbuatannya di dunia tetap akan dipertanggungjawabkan.
"Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?" (QS Al-Qiyamah: 36)
Hari Kiamat layaknya pengadilan. Ketika itu, akan dihadirkan saksi-saksi atas segala tindak tanduk manusia selama di dunia. Di antara sekian banyak saksi adalah anggota tubuh, yang memberikan pengakuan dan kesaksian tentang ke mana saja mereka dibawa dan untuk apa digunakan. "Pada hari (kiamat), lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan." (QS An-Nur: 24).
Bumi, sebagai tempat berlangsungnya perilaku manusia selama di dunia, juga akan memberikan kesaksian. Dalam sebuah hadis, diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah membaca sebuah ayat yang artinya "Pada hari itu bumi menceritakan segala beritanya."(QS al-Zalzalah: 4). Lalu beliau berkata kepada para sahabat, "Tahukah kalian apa yang diberitakan bumi." Para sahabat menjawab, "Allah dan engkaulah yang lebih tahu." Rasulullah SAW melanjutkan perkataannya, "Bumi akan menceritakan perbuatan seorang hamba di atas permukaannya secara rinci sampai dijelaskan pula waktu terjadinya." (HR Ahmad)
Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda, "Jagalah bumi! Sesungguhnya bumi adalah ibu kalian. Dan tidak ada satu orang pun yang luput diberitakannya, ketika dia melakukan perbuatan buruk atau baik." (HR Tirmizi)
Allah SWT telah menempatkan catatan amal di leher setiap manusia. Catatan ini juga akan menjadi saksi terhadap perilaku seseorang selama di dunia. Jika amalnya baik, maka baiklah balasannya. Dan sebaliknya, jika buruk, maka buruk pulalah balasannya. "Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami letakkan catatan amal perbuatan pada lehernya. Dan kami keluarkan baginya sebuah kitab yang dijumpainya terbuka pada Hari Kiamat. Bacalah kitabmu! Cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab padamu." (QS Al-Isra': 13-14)
Berlaku baik selama menjalani kehidupan dunia, baik dalam hubungannya kepada Allah SWT langsung maupun kepada sesama manusia dan lingkungan, adalah suatu kewajiban. Ia akan menjadi jaminan atas baiknya balasan seseorang di akhirat kelak. Wallahu A'lam

Selasa, 17 November 2009

Berkeluh Kesah

oleh: Luthfi Arif



Setiap tujuan tak pernah lepas dari proses yang mengawalinya. Terkadang proses itu begitu memberatkan, menyulitkan, dan melelahkan. Dalam keadaan seperti ini, biasanya manusia cenderung berkeluh kesah dan tidak sabar. Hal ini telah dijelaskan oleh Allah dalam Alquran, "Sesungguhnya manusia diciptakan dalam keadaan berkeluh kesah." (QS Al-Ma'arij: 19).
Padahal Allah telah menegaskan bahwa di balik setiap kesulitan yang dirasakan akan selalu ada kemudahan. (QS Al-Insyirah: 4-5). Bahkan hal ini disebutkan dua kali secara berturut-turut dalam surah yang sama.
Selain itu, Rasulullah SAW juga menjanjikan pahala bagi mereka yang mau dan ikhlas bersusah payah untuk kebaikan.
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa ada seorang laki-laki yang tinggal amat jauh dari masjid. Namun, ia tak pernah sekalipun melewatkan shalat jamaah bersama Rasulullah di masjid itu. Meskipun ia harus berjalan kaki menempuh jarak yang cukup jauh, siang dan malam.
Para sahabat merasa kasihan melihatnya seperti itu setiap hari. Mereka mencoba memberikan solusi. "Mengapa kau tidak membeli seekor keledai yang bisa dikendarai di gelapnya malam dan teriknya siang?" Laki-laki itu menjawab, "Aku tidak ingin demikian. Aku ingin Allah mencatat setiap langkahku ketika berangkat ke masjid, dan ketika kembali ke rumah."
Rasulullah SAW yang mendengar hal itu berkata, "Allah telah mengumpulkan semua kebaikan yang kau inginkan itu untukmu." (HR Muslim)
Hadis di atas menjelaskan bahwa setiap lelah yang dirasakan seorang hamba demi melakukan suatu ibadah akan mendapatkan ganjaran yang setimpal berupa pahala dari Allah SWT, selama ia tidak berkeluh kesah dan ikhlas terhadap apa yang dijalankan.
Berkeluh kesah adalah sifat buruk yang tidak pantas dimiliki oleh seorang muslim. Hanya orang-orang pilihanlah yang mampu menghindari sifat ini. Dalam surah Al-Ma'arij: 22-35, disebutkan bahwa mereka adalah orang-orang yang senantiasa menjalankan shalatnya, menginfakkan hartanya kepada orang yang berhak, meyakini adanya hari pembalasan, takut terhadap azab Allah, menjaga kehormatannya, menjaga amanah, dan teguh pada kesaksiannya.
Dengan berusaha menjalankan hal-hal di atas, sifat keluh kesah dengan sendirinya akan hilang. Tujuan yang diinginkan dapat diperoleh dan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat pun akan tercapai. Wallahu A'lam.

Pernah dimuat di HU Republika.
Tanggal-nya lupa

Dosa Lisan

oleh: Luthfi Arif



Allah SWT berfirman dalam Alquran, "Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina. Yang banyak mencela yang kian kemari menghambur fitnah." (QS Al-Qalam: 10-11)
Ayat di atas menjelaskan dua jenis dosa yang disebabkan oleh lisan, yaitu sumpah palsu dan mengadu domba. Akibat yang ditimbulkan oleh sumpah palsu dan adu domba sangat besar. Sumpah palsu menyebabkan kebenaran tertutupi. Dalam hal yang berhubungan dengan pengadilan, sumpah palsu mengakibatkan hilangnya keadilan bagi seseorang, demikian pula kemerdekaannya. Sedangkan akibat adu domba adalah terputusnya silaturrahim antara dua orang dan muncul rasa sakit hati di antara keduanya. Lebih buruk lagi jika sakit hati itu turun temurun dan berlanjut sampai pada keturunan mereka.
Rasulullah SAW mengkategorikan sumpah palsu sebagai dosa besar, disejajarkan dengan dosa-dosa besar lain yang secara lahiriyah sangat tampak kemadharatannya. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, suatu ketika Rasulullah SAW ditanya tentang dosa besar. Maka beliau menjawab, "Yang termasuk dosa besar adalah menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, menghilangkan nyawa orang lain bukan dalam hal yang dibenarkan agama, dan sumpah palsu." (HR Bukhari)
Mengenai adu domba, dalam sebuah hadis dari Ibnu Abbas ra., disebutkan bahwa pernah suatu hari Rasulullah SAW melewati sebuah kebun di Madinah. Tiba-tiba beliau mendengar suara dua orang yang sedang diazab di dalam kuburnya. Lalu Rasulullah SAW bersabda, "Dua orang itu sedang diazab di dalam kuburnya, namun bukan karena masalah besar. Salah satu dari keduanya diazab karena tidak melindungi diri dari percikan air kencingnya. Sedangkan yang satu lagi karena suka mengadu domba." (HR Bukhari).
Amat tepat pepatah lama yang menyebutkan bahwa lidah atau lisan bagaikan pedang. Jika lisan telah mengibaskan ketajaman mata pedangnya di hati, rasa sakit dan lukanya akan berbekas untuk waktu yang lama.
Oleh karena itu, Rasulullah SAW mewanti-wanti umatnya untuk tidak sembrono dalam mengumbar lisan. Dalam salah satu hadisnya, beliau memberikan solusi tepat bagi umatnya yang mengaku beriman, agar terhindar dari dosa lisan. Rasulullah SAW bersabda, "Orang yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, hendaknya berkata yang baik. Atau, (jika tidak bisa) lebih baik diam." (HR Bukhari). Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda, "Orang yang disebut muslim adalah orang yang bisa menjaga tangannya dan lisannya dari menyakiti muslim lain." (HR Bukhari).Wallahu A'lam

Dimuat di Republika, Senin, 3 September 2007

Harta dan Derma

oleh: Luthfi Arif



Diriwayatkan dari Anas bin Malik, di Madinah ada seorang laki-laki dari golongan Anshar yang sangat kaya bernama Abu Thalhah. Ia memiliki sebidang kebun yang bernama Bairuha.

Di dalam kebun itu ada sumur yang airnya segar. Rasulullah SAW kerap kali masuk ke sana untuk minum. Beberapa waktu berselang, turun ayat Alquran, ''Kamu tidak akan mendapatkan kebajikan sebelum kamu memberikan harta yang kamu cintai pada orang lain.'' (QS Ali-Imran: 92). Kemudian Abu Thalhah mendatangi Rasulullah SAW seraya berkata, ''Harta yang paling saya cintai adalah Bairuha, sekarang saya serahkan kepada tuan sebagai derma. Terserah tuan mau diapakan. Ini adalah sedekah yang saya berikan karena Allah SWT.

Saya hanya mengharap kebajikan dan simpanan pahala dari-Nya.'' Rasulullah SAW kemudian berkata, ''Sungguh beruntung harta ini.'' Beliau mengulang perkataan itu sampai dua kali. Lalu Rasulullah SAW melanjutkan perkataannya, ''Saya mengerti kebajikan yang anda inginkan dari harta ini. Tetapi saya merasa, lebih baik anda bagikan saja harta tersebut kepada kerabat-kerabat anda.'' Maka Abu Thalhah memberikan harta itu kepada kerabatnya termasuk keponakan-keponakannya. (HR Muslim).

Hadits Anas bin Malik di atas jelas menyebutkan, ada kebajikan di dalam setiap harta. Namun, tidak serta merta setiap yang memiliki harta akan memperolehnya. Kebajikan itu hanya diperoleh orang yang mendermakan harta yang paling dicintainya kepada orang lain. Orang yang paling berhak menerima derma harta tersebut adalah kerabat terdekat yang kurang mampu, baru kemudian orang lain yang membutuhkan. Karena sangat ironis ketika seseorang hidup bergelimangan harta, namun saudara dekatnya kesulitan hidup.

Allah SWT menyebutkan, berderma adalah kebajikan seseorang yang mengaku beriman, dan menempatkan kerabat dekat sebagai urutan pertama di antara orang-orang yang paling berhak. ''Kebajikan itu adalah beriman kepada Allah, hari kiamat, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan mendermakan harta yang dicintai kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir, peminta-minta, dan memerdekakan hamba sahaya.'' (QS Al-Baqarah: 177).

Tak hanya itu, kebajikan berderma harus dipelihara dengan tidak melakukan perbuatan yang menyakiti si penerima. Karena jika dilakukan, sungguh akan sia-sia segala kebaikan yang telah dibangun, dan sekian pahala yang telah terkumpul dari harta yang ia berikan akan hilang. ''Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menghancurkan pahala sedekah yang kalian berikan dengan selalu menyebut-nyebutnya karena sombong dan menyakiti orang lain. (QS Al-Baqarah: 264).

Dimuat di Republika, Senin, 6 Februari 2006

Menyiapkan Bekal

oleh: Luthfi Arif



Dalam Alquran, Allah SWT telah memastikan kematian untuk setiap jiwa. "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati." (QS Ali Imran: 185).

Meskipun firman Allah SWT itu dengan sangat jelas menerangkan bahwa kematian adalah hal yang niscaya, tetap saja kematian menjadi hal yang - bagi sebagian orang - memiliki nilai negatif.

Bagi seorang muslim, kematian dianggap sebagai pemutus amal ibadahnya di dunia, ketika ia merasa amalnya tidak mencukupi untuk bekal di akhirat. Sedangkan orang ingkar, menganggap kematian sebagai pemutus kenikmatan hidup di dunia. Tak ada lagi kesenangan setelah mati.

Ada beberapa hal yang patut dilakukan agar kematian menjadi 'membahagiakan', khususnya bagi seorang muslim.

Pertama, meyakinkan diri bahwa kematian pasti akan datang menimpa siapapun yang berjiwa tanpa terkecuali. Kapanpun malaikat maut datang menjemput, saat itulah kepastian kematian terjadi. "Maka jika ajal telah menjemput, tak dapat dipercepat atau diundur meski hanya sesaat." (QS Al-A'raf: 34).

Kedua, memperbanyak mengingat kematian agar kita senantiasa mempersiapkan bekal yang banyak menuju akhirat. Salah satunya adalah dengan berziarah kubur. "Berziarah kuburlah kamu! Karena ziarah kubur mengingatkan kepada kematian." (HR Muslim).

Ketiga, menyadari bahwa segala kesenangan dan kenikmatan dunia hanya bersifat sementara. Kenikmatan dunia akan musnah dan tidak mungkin menjadi bekal yang dapat dibawa mati. "Kehidupan dunia tidak lain adalah kesenangan yang memperdayakan." (QS Ali Imran: 185)

Keempat, memperbanyak bekal untuk menghadapi kematian kelak. Sebelum segala amal di dunia akan terputus oleh kematian, sebaiknya masa hidup digunakan untuk melakukan amal saleh sebanyak-banyaknya untuk memperoleh gelar ketakwaan dari Allah. Karena sebaik-baik bekal adalah takwa (QS Al-Baqarah: 197).

Selain mempersiapkan bekal selama di dunia untuk menghadapi kematian, tak ada salahnya menabung amal sebagai simpanan pahala yang akan selalu mengalir, meskipun jasad telah hancur berkalang tanah puluhan tahun lamanya. Karena semua amal manusia akan terputus, kecuali untuk tiga hal. "Apabila anak cucu Adam (manusia) meninggal, akan terputus segala amal ibadahnya kecuali pada tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang selalu mendoakan orang tuanya." (HR Bukhari)

Tiga amalan yang tersebut dalam hadis di atas bernilai tinggi, bahkan tetap mengalir meski ia telah meninggal sekian lama, karena kaitannya yang bukan hanya berdimensi vertikal saja, namun juga berdimensi horizontal.

Artinya, mempersiapkan tabungan kematian bukan hanya masalah pribadi dengan tuhan saja, tetapi juga melibatkan orang lain. Sifat sosial, pengabdian yang tinggi kepada masyarakat, dan pendidikan keluarga merupakan bagian dari sekian proses mempersiapkan kematian.
Tak layak bagi manusia untuk takut mati. Karena kematian bukanlah ancaman. Kematian adalah penghubung antara kehidupan dunia dan akhirat, yang kelak mempertemukan manusia dengan Allah SWT. Wallahu A'lam.

Dimuat di HU Republika, Tanggal-nya lupa.

Selasa, 19 Mei 2009

Kesejahteraan

Secara kodrati, manusia senantiasa memimpikan keadaan sejahtera. Kesejahteraan biasa digambarkan sebagai kebahagiaan, ketenangan, dan kenyamanan yang dirasakan selama menjalani hidup dan kehidupan.

Dalam konsep kehidupan bernegara, manusia juga ingin sejahtera dalam berbagai hal. Kesejahteraan tersebut tentu akan dapat diperoleh jika syarat-syaratnya terpenuhi.

Disebutkan dalam Alquran, ”Maka, sembahlah Tuhan pemilik Ka’bah ini (Allah). Yang telah mengaruniakan makanan ketika kamu lapar. Dan, memberikan keamanan ketika kamu takut.” (QS Quraisy [106]: 3-5).

Ayat di atas, secara tidak langsung, menggambarkan tiga syarat utama memperoleh kesejahteraan bernegara. Pertama, setiap elemen negara, rakyat, maupun pemerintah, harus selalu melandasi diri dengan keyakinan beribadah. Karena pada dasarnya, tugas utama manusia di dunia adalah beribadah. ”Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS Adz-Dzariyat [51]: 56).

Kedua, menjalani kehidupan tentunya tidak lepas dari permasalahan memenuhi kebutuhan. Setiap orang memiliki kadar kebutuhan yang harus dipenuhi demi kelangsungan hidupnya. ”Sesungguhnya Kami ciptakan segala sesuatu sesuai dengan kadarnya.” (QS Al-Qamar [54]: 49). Ini artinya, segala hal menyangkut ekonomi rakyat harus diutamakan. Karena masalah kemiskinan akan menimbulkan banyak hal buruk, semisal kriminalitas. Atau yang lebih parah, dapat menyebabkan kekafiran.

Dalam sebuah hadis dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri, Rasulullah SAW pernah berdoa memohon dijauhkan dari kekafiran dan kemiskinan. Maka, Abu Sa’id al-Khudri bertanya, ”Ya Rasul, apakah kekafiran dan kemiskinan dapat menjadi setara?” Rasul menjawab, ”Ya.” (HR Ibnu Hibban).

Ketiga, terciptanya kondisi yang aman dan situasi yang terkendali. Kebutuhan akan keamanan hidup ini juga merupakan manifestasi dari sabda Rasulullah SAW, di mana setiap orang harus senantiasa saling menjaga diri dan perilakunya dari menyakiti orang lain. ”Muslim yang sempurna adalah orang yang menjaga lisan dan tangannya dari menyakiti Muslim lainnya.” (HR Bukhari).

Dimuat di Republika, Kamis, 2 Agustus 2007