Salam
Luthfi
MENYAMBUT SEMANGAT TAHUN BARU; REFLEKSI TIGA DIMENSI WAKTU
oleh Hiznu Shobar*

Tanpa terasa bahwa perputaran roda kehidupan telah bergulir begitu lama. Empat belas abad lebih menurut hitungan kalender Islam (Hijriyah) dan dua puluh abad lebih menurut hitungan kalender masehi. Satu demi satu perubahan kian terjadi. Ada anak kecil, lambat laun ia saat ini telah menjadi remaja. Ada pula yang kini telah menjadi dewasa padahal sebelumnya ia masih remaja bahkan terbilang masih anak-anak. Perubahan itu benar-benar terjadi. Hingga adanya seorang bayi yang lahir dan ada di antara kita meninggalkan dunia yang fana ini. Dan itu semua tidak lepas dari urusan waktu. Ya, waktu. Waktu yang mempertemukan kita dengan dunia dan ia pula yang memisahkannya.
Eksistensi kita di dunia ini sesungguhnya tidak akan lepas dari sebuah perputaran waktu. Dan waktu tersebut seolah-olah berbicara mengenai siapa kita dan apa saja yang telah kita lakukan. Dan waktu, saat berjalan ia tidak pernah menengok ke belakang. Ia tetap terus melaju tanpa peduli apakah kita berbuat sesuatu atau tidak sama sekali. Bahkan, salah satu ungkapan dalam sastra Arab disebutkan ‘‘al-Waqtu ka al-Saif in lam taqtho’uhu qotho’aka’’, waktu ibarat sebuah pedang, jika kita tidak bisa menaklukkannya atau menguasai untuk menggunakannya, maka kita akan mati terbunuh oleh waktu kita sendiri. Maka tidak heran jika ada orang yang bisa sukses dengan waktu yang ia miliki, tetapi di sisi lain ada pula orang yang gagal dengan waktunya. Padahal Allah SWT memberikan alokasi waktu yang sama pada orang yang sukses dan orang yang gagal tersebut, yaitu dua puluh empat jam sehari, tidak kurang dan tidak lebih.
Dalam dimensinya, waktu dibagi menjadi 3 (tiga) masa. Dan ketiga dimensi tersebut patut kita renungkan untuk kita pelajari dan kita ambil sebuah hikmah agar kehidupan kita bisa menjadi lebih baik.
Masa lalu
Setiap kita yang telah hadir di dunia ini, terutama saat kita sudah mulai menapaki masa aqil baligh, tentunya mempunyai masa lalu. Masa lalu adalah masa yang sudah lewat dari kehidupan kita. Namun, meskipun sudah berlalu bukan berarti tidak bisa kita renungkan. Bahkan, sejatinya orang muslim yang pandai mengambil hikmah dari masa lalunya ia tidak akan terjatuh pada lubang kegagalan untuk kedua kalinya. Akan tetapi ia mampu berbuat lebih baik dari sebelumnya. Bahkan ia mampu meraih keberhasilan dengan cara mempelajari apa yang telah ia lewati selama ini. Karena dengan ia menyadari akan tapak perjalanan masa lalunya, ia akan mengetahui apa saja kekuatan dan kelemahannya lalu ia mengevaluasinya (muhasabah) untuk ia perbaiki di kemudian hari.
Masa sekarang
Salah satu orang bijak berkata ‘Your day is today’. Ya! Benar sekali bahwa harimu adalah hari ini. Apa yang bisa kita lakukan hari ini adalah hari kita yang penuh dengan makna. Dan bisa jadi apa yang kita lakukan saat ini mengandung arti menciptakan masa depan kita sendiri. Hal itu tidak lain karena apa yang kita taburkan saat ini akan kita tuai di masa yang akan datang. Melakukan yang terbaik saat ini berarti menginginkan kebaikan yang lebih di masa yang akan datang. Berbuat sesuatu saat ini berarti kita menciptakan karakter kita sendiri. Dan karena hidup adalah perbuatan maka diam tak bergerak itu identik dengan kematian. Seseorang yang selalu menghabiskan waktunya dengan sungguh-sungguh akan sangat berbeda hasilnya dengan orang yang selalu lalai dalam mengisi waktunya (QS. al-Ashr [103]: 2-3).
Masa akan datang
Ini adalah masa perkiraan (prediction). Masa di mana kita semua tidak ada yang pernah tahu apa yang akan terjadi. Meskipun hanya satu detik kemudian. Masa depan tidak pernah bisa kita pastikan namun bisa kita prediksikan dengan suatu perbuatan konkrit masa sekarang. ‘Masa depan adalah apa yang Anda lakukan saat ini’ demikian salah seorang arif bernasihat. Sepatutnya, apa yang kita inginkan di masa yang akan datang harus bisa kita rencanakan saat ini kemudian kita melakukan persiapan dan berikutnya diiringi dengan sebuah usaha dan perbuatan yang mengarah kepada keinginan kita.
Maka, dalam momentum yang sangat baik ini alangkah baiknya kita merevitalisasi konsep hidup kita yang sudah ada dengan mengaktualisasikan diri kita pada sebuah kualitas hidup yang lebih bernilai. Ada kandungan semangat yang tumbuh dalam jiwa kita jika kita mampu merefleksikan ketiga dimensi waktu tersebut. Ada kandungan nilai positif yang lahir dalam hati kita saat kita mampu mengetahui sisi-sisi kekuatan dan kelemahan kita. Kita akan senantiasa mengevaluasi apa yang telah kita perbuat di masa lalu, kita pun akan selalu mawas diri dan akan sangat berhati-hati akan apa yang kita perbuat.
Suatu keniscayaan yang hebat jika setiap kita mampu menyadari secara berkesinambungan apa yang telah kita perbuat di masa lalu, apa yang sedang kita perbuat saat ini dan apa yang akan kita perbuat di masa yang akan datang. Setidaknya kesadaran tersebut akan menjadi standar dinamika kehidupan kita.
Ketiga dimensi waktu yang kita bicarakan sesungguhnya akan menjadi cermin yang memiliki kualitas kontrol (quality of control) yang bisa kita jadikan sandaran dan alat evaluasi.
Semangat tahun baru Hijriah dan Masehi yang kita hadapi saat ini seharusnya bisa menjadi sebuah kristalisasi dari ketiga dimensi yang kita renungkan tadi. Dengan adanya tahun baru tersebut, setidaknya kita mampu mengaktifkan kembali rasa kesadaran kita yang mungkin selama ini sempat ‘mati’ karena kesibukan aktivitas sehari-hari. Padahal, dalam salah satu sejarah Islam disebutkan bahwa ada salah satu sahabat yang mendapatkan jaminan surga bukan hanya karena dia mampu istiqomah dalam amalan ibadah kesehariannya, tapi juga ia selalu merenungi apa yang telah dia lakukannya sebelum ia tidur. Selamat berbuat untuk menyambut semangat Tahun Baru!
*Alumni Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Darus Sunnah High Institute of Hadith Sciences. Pernah menjadi juara III Lomba Debat Bahasa Arab Universitas se-Asia Tenggara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar