Senin, 21 Juni 2010

Kotor



Kelebat nista
Lamunan
Khayalan
Imajinasi
Seliweran tak tata
Kotor
Hina
Liar
Waktu tak duga
Pagi
Siang
Malam
Haha…
Setan terbahak gembira

Ciputat, 22 Mei 2008

Minggu, 06 Juni 2010

Skizofrenia




Batin beringsut
Saling sambut
Pikiran kalut
Ribut...

Amarahku Selintas
Bahagiaku Sekejap
Hanya aku kamu kita kalian
dialog dalam senyap

Darah gemuruh
Otak lumpuh
Hati buncah
Kepala pecah

Kenapa kamu kita kalian
Harusnya AKU
dan jiwaku terbelenggu...

Bekasi, 18 Mei 2010

Darah

laju mengalir
hulu ke hilir
cerahmu kuat
pudarmu penat
syukuri
ingat ilahi
tak kau dapati
saat terhenti
Aliran
Pancaran
Nikmatilah saat ini
sebelum titi mangsa tiba nanti



RS. Fatmawati
3 Maret 2009

Rabu, 16 Desember 2009

Menyambut Semangat Tahun Baru: Refleksi Tiga Dimensi Waktu

Seorang sahabat dekat saya, Hiznu Shobar, mengirimkan posting tentang Tahun Baru yang sangat mencerahkan. Saya share dengan teman-teman pembaca. Semoga bermanfaat.

Salam
Luthfi

MENYAMBUT SEMANGAT TAHUN BARU; REFLEKSI TIGA DIMENSI WAKTU
oleh Hiznu Shobar*


Tanpa terasa bahwa perputaran roda kehidupan telah bergulir begitu lama. Empat belas abad lebih menurut hitungan kalender Islam (Hijriyah) dan dua puluh abad lebih menurut hitungan kalender masehi. Satu demi satu perubahan kian terjadi. Ada anak kecil, lambat laun ia saat ini telah menjadi remaja. Ada pula yang kini telah menjadi dewasa padahal sebelumnya ia masih remaja bahkan terbilang masih anak-anak. Perubahan itu benar-benar terjadi. Hingga adanya seorang bayi yang lahir dan ada di antara kita meninggalkan dunia yang fana ini. Dan itu semua tidak lepas dari urusan waktu. Ya, waktu. Waktu yang mempertemukan kita dengan dunia dan ia pula yang memisahkannya.

Eksistensi kita di dunia ini sesungguhnya tidak akan lepas dari sebuah perputaran waktu. Dan waktu tersebut seolah-olah berbicara mengenai siapa kita dan apa saja yang telah kita lakukan. Dan waktu, saat berjalan ia tidak pernah menengok ke belakang. Ia tetap terus melaju tanpa peduli apakah kita berbuat sesuatu atau tidak sama sekali. Bahkan, salah satu ungkapan dalam sastra Arab disebutkan ‘‘al-Waqtu ka al-Saif in lam taqtho’uhu qotho’aka’’, waktu ibarat sebuah pedang, jika kita tidak bisa menaklukkannya atau menguasai untuk menggunakannya, maka kita akan mati terbunuh oleh waktu kita sendiri. Maka tidak heran jika ada orang yang bisa sukses dengan waktu yang ia miliki, tetapi di sisi lain ada pula orang yang gagal dengan waktunya. Padahal Allah SWT memberikan alokasi waktu yang sama pada orang yang sukses dan orang yang gagal tersebut, yaitu dua puluh empat jam sehari, tidak kurang dan tidak lebih.

Dalam dimensinya, waktu dibagi menjadi 3 (tiga) masa. Dan ketiga dimensi tersebut patut kita renungkan untuk kita pelajari dan kita ambil sebuah hikmah agar kehidupan kita bisa menjadi lebih baik.

Masa lalu
Setiap kita yang telah hadir di dunia ini, terutama saat kita sudah mulai menapaki masa aqil baligh, tentunya mempunyai masa lalu. Masa lalu adalah masa yang sudah lewat dari kehidupan kita. Namun, meskipun sudah berlalu bukan berarti tidak bisa kita renungkan. Bahkan, sejatinya orang muslim yang pandai mengambil hikmah dari masa lalunya ia tidak akan terjatuh pada lubang kegagalan untuk kedua kalinya. Akan tetapi ia mampu berbuat lebih baik dari sebelumnya. Bahkan ia mampu meraih keberhasilan dengan cara mempelajari apa yang telah ia lewati selama ini. Karena dengan ia menyadari akan tapak perjalanan masa lalunya, ia akan mengetahui apa saja kekuatan dan kelemahannya lalu ia mengevaluasinya (muhasabah) untuk ia perbaiki di kemudian hari.

Masa sekarang
Salah satu orang bijak berkata ‘Your day is today’. Ya! Benar sekali bahwa harimu adalah hari ini. Apa yang bisa kita lakukan hari ini adalah hari kita yang penuh dengan makna. Dan bisa jadi apa yang kita lakukan saat ini mengandung arti menciptakan masa depan kita sendiri. Hal itu tidak lain karena apa yang kita taburkan saat ini akan kita tuai di masa yang akan datang. Melakukan yang terbaik saat ini berarti menginginkan kebaikan yang lebih di masa yang akan datang. Berbuat sesuatu saat ini berarti kita menciptakan karakter kita sendiri. Dan karena hidup adalah perbuatan maka diam tak bergerak itu identik dengan kematian. Seseorang yang selalu menghabiskan waktunya dengan sungguh-sungguh akan sangat berbeda hasilnya dengan orang yang selalu lalai dalam mengisi waktunya (QS. al-Ashr [103]: 2-3).

Masa akan datang
Ini adalah masa perkiraan (prediction). Masa di mana kita semua tidak ada yang pernah tahu apa yang akan terjadi. Meskipun hanya satu detik kemudian. Masa depan tidak pernah bisa kita pastikan namun bisa kita prediksikan dengan suatu perbuatan konkrit masa sekarang. ‘Masa depan adalah apa yang Anda lakukan saat ini’ demikian salah seorang arif bernasihat. Sepatutnya, apa yang kita inginkan di masa yang akan datang harus bisa kita rencanakan saat ini kemudian kita melakukan persiapan dan berikutnya diiringi dengan sebuah usaha dan perbuatan yang mengarah kepada keinginan kita.

Maka, dalam momentum yang sangat baik ini alangkah baiknya kita merevitalisasi konsep hidup kita yang sudah ada dengan mengaktualisasikan diri kita pada sebuah kualitas hidup yang lebih bernilai. Ada kandungan semangat yang tumbuh dalam jiwa kita jika kita mampu merefleksikan ketiga dimensi waktu tersebut. Ada kandungan nilai positif yang lahir dalam hati kita saat kita mampu mengetahui sisi-sisi kekuatan dan kelemahan kita. Kita akan senantiasa mengevaluasi apa yang telah kita perbuat di masa lalu, kita pun akan selalu mawas diri dan akan sangat berhati-hati akan apa yang kita perbuat.

Suatu keniscayaan yang hebat jika setiap kita mampu menyadari secara berkesinambungan apa yang telah kita perbuat di masa lalu, apa yang sedang kita perbuat saat ini dan apa yang akan kita perbuat di masa yang akan datang. Setidaknya kesadaran tersebut akan menjadi standar dinamika kehidupan kita.

Ketiga dimensi waktu yang kita bicarakan sesungguhnya akan menjadi cermin yang memiliki kualitas kontrol (quality of control) yang bisa kita jadikan sandaran dan alat evaluasi.

Semangat tahun baru Hijriah dan Masehi yang kita hadapi saat ini seharusnya bisa menjadi sebuah kristalisasi dari ketiga dimensi yang kita renungkan tadi. Dengan adanya tahun baru tersebut, setidaknya kita mampu mengaktifkan kembali rasa kesadaran kita yang mungkin selama ini sempat ‘mati’ karena kesibukan aktivitas sehari-hari. Padahal, dalam salah satu sejarah Islam disebutkan bahwa ada salah satu sahabat yang mendapatkan jaminan surga bukan hanya karena dia mampu istiqomah dalam amalan ibadah kesehariannya, tapi juga ia selalu merenungi apa yang telah dia lakukannya sebelum ia tidur. Selamat berbuat untuk menyambut semangat Tahun Baru!

*Alumni Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Darus Sunnah High Institute of Hadith Sciences. Pernah menjadi juara III Lomba Debat Bahasa Arab Universitas se-Asia Tenggara

Selasa, 01 Desember 2009

ARTI KEBERANIAN


oleh: Luthfi Arif

Dalam sebuah hikayat, yang mengisahkan Siti Masyithoh,
tukang sisir putri Firaun, disebutkan bahwa ia adalah
wanita yang begitu gigih mempertahankan keimanannya
pada Allah. Meskipun harus mati dengan terjun ke dalam
golakan minyak panas, ia tidak gentar. Sebuah
keberanian mempertahankan kebenaran menjadi
landasannya melakukan itu semua.
Sebuah kebenaran tak akan pernah terlihat tanpa ada
yang menampakkannya. Menampakkan kebenaran
sejelas-jelasnya tidaklah mudah. Begitu banyak yang
harus dilakukan. Butuh keberanian yang cukup besar.
Sebuah keberanian tak muncul dengan sendirinya. Sifat
ini bagaikan sebuah tanaman yang harus selalu dipupuk
agar tumbuh dan akarnya kuat. Tatkala keberanian telah
tumbuh dan berakar kuat, maka seseorang akan berani
menghadapi lawan dan menentang halangan dan rintangan.
Ia pun akan sanggup mengatakan yang haq adalah haq,
dan yang batil adalah batil.
Keberanian adalah kunci dari segala kesuksesan. Ia
juga motivator seseorang untuk giat berusaha. Dengan
mengubur dalam-dalam sifat pengecut dan mengganti
dengan sifat pemberani, segala usaha akan lebih mudah
dijalankan. Tak akan pernah terbersit kata mundur,
meskipun hanya sejenak, seandainya usaha yang
dilakukannya belum mencapai tujuan.
Dengan keberanian pula, ia akan siap dan mampu
menghadapi segala persoalan dengan tenang. Karena,
solusi permasalahan datang dari jiwa yang tenang dan
siap menghadapinya. Mental pengecut hanya mampu lari
dari permasalahan, bukan menghadapinya.
Akan tetapi, keberanian bukanlah hanya persoalan
menghadapi, melawan, dan menantang. Keberanian adalah
proporsional. Keberanian adalah berusaha menjunjung
kebenaran dengan cara apa pun sekuat tenaga. Sekira
suatu permasalahan perlu dihadapi, dilawan, atau
ditentang, maka hadapi, lawan, dan tentanglah. Namun,
seandainya semua itu mengakibatkan keburukan yang
lebih besar, maka menahan diri akan lebih baik. Karena
menahan diri bukan berarti kalah. Dan mundur tidak
melulu bermakna takut. Mempertahankan kebenaran adalah
tujuan utama.
Efek dari keberanian bukan hanya untuk diri sendiri.
Dengan keberanian, seseorang mampu mengembalikan orang
sesat ke jalan yang lurus, membuat orang yang zalim
menjadi adil, dan memberikan petunjuk kepada umat agar
tetap konsisten di jalan kebenaran. Seandainya
keberanian ini hilang, maka kezaliman akan merajalela,
kejahilan semakin bertambah, dan umat akan berjalan
dalam koridor-koridor kesesatan.
Dalam berbagai kesempatan, Rasulullah SAW selalu
mengajarkan umatnya untuk selalu berani, terlebih
untuk berjuang di jalan Allah. Ia juga selalu memohon
agar dijauhkan dari sifat penakut. Sebagaimana
penggalan hadisnya “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu
dari sifat penakut dan bakhil.” (H.R. Bukhari).
Karenanya, hiduplah selalu dengan keberanian. Jauhi
sifat penakut dan janganlah menjadi pengecut. Penakut
dan pengecut hanyalah sifat orang bodoh. Keberanianlah
sifat mukmin sejati. Wallahu A’lam.[]

Darus Sunnah, 29 Januari 2006

MENGHINDARI SIFAT PESIMIS


oleh: Luthfi Arif

Manusia, dalam menghadapi hidup dan kehidupannya,
memiliki dua sifat, optimis dan pesimis. Sifat optimis
didefinisikan sebagai sikap seseorang yang selalu
memandang adanya harapan baik. Dan pesimis adalah
sebaliknya, yaitu sikap seseorang yang selalu
berpikiran bahwa kebaikan tidak pernah berpihak
padanya.
Dua sifat ini sangat memengaruhi kehidupan seseorang.
Orang yang optimis akan selalu melihat hidup dari sisi
positif. Dalam memandang suatu permasalahan, ia akan
cenderung memerhatikan kebaikan-kebaikan yang
terkandung di dalamnya. Dan harapan-harapannya tentang
keberhasilan akan membuat pikirannya selalu maju ke
depan. Baginya kegagalan dan kesulitan hanyalah
sekedar penyakit ringan yang tidak terlalu berbahaya.
Di balik itu semua tersimpan kemudahan dalam
memperoleh keberhasilan yang diidamkan. “Sesungguhnya
dibalik kesulitan itu ada kemudahan.” (Q.S.
Al-Insyirah: 6).
Sedangkan orang yang pesimis, melihat hidup hanya dari
sisi buruknya saja. Baginya kebaikan tak pernah ada.
Dan kegagalan bagaikan sebuah harimau dengan mulut
menganga yang siap menerkam. Orang yang pesimis tidak
akan mampu berpikir maju. Jika mendapatkan cobaan,
meskipun ringan, ia akan selalu berkeluh kesah.
Padahal, dalam surah Al-Ma’arij ayat 22, orang yang
berkeluh kesah ketika ditimpa kegagalan hanyalah orang
yang tidak salat atau tidak meresapi salatnya. Dan ini
merupakan ciri orang kafir.
Oleh karena itu, dalam Alquran, orang yang pesimis
diserupakan dengan orang kafir. Karena orang yang
pesimis secara tidak langsung menjustifikasi bahwa
Allah tidak memberinya rahmat, tidak mengasihinya.
“Janganlah kalian pesimis dari rahmat Allah SWT.
Sesungguhnya orang yang pesimis akan rahmat Allah SWT
hanyalah orang kafir.” (Q.S. Yusuf: 87).
Pada dasarnya, pesimis adalah penyakit hati yang dapat
menjangkit setiap orang. Penyakit ini dapat
dihilangkan dengan membersihkan hati dari hal-hal
buruk penyebab timbulnya sifat pesimis.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan agar kita
terhindar dari sifat ini.
Pertama, menghilangkan sifat tidak percaya diri. Sikap
rendah diri dan kurang percaya diri dapat menyebabkan
timbulnya sifat pesimis. Dengan merenungi bahwa Allah
menciptakan manusia secara sempurna, sifat pesimis
dapat dikikis. “Sungguh Kami telah ciptakan manusia
dalam bentuk yang paling sempurna.” (Q.S. At-Tin: 4)
Kedua, meyakini bahwa setiap manusia diciptakan Allah
sesuai kadar masing-masing sehingga potensi yang
dimiliki pun berbeda-beda. “Sesungguhnya kami
menciptakan segala sesuatu sesuai dengan kadarnya.”
(Q.S. Al-Qamar: 49).
Ketiga, memperbaiki niat dan memperkuat ‘azam. Niat
dan ‘azam timbul dari dalam hati. Jika niat telah
bersih dan ‘azam semakin kokoh, maka optimisme akan
muncul dengan sendirinya.
Dengan selalu menjalankan hal-hal di atas, seseorang
akan selalu berprasangka baik terhadap Allah SWT dan
setiap pekerjaannya selalu diikuti dengan niat dan
harapan yang baik.
Semoga kita selalu terhindar dari sifat pesimis.
Wallahu A’lam.[]

Darus Sunnah, 29 Januari 2006

KOMUNIKASI ORANG TUA DAN ANAK


oleh: Luthfi Arif

Agar tercipta hubungan yang harmonis antara orang tua dan anak, diperlukan komunikasi yang baik dari dua arah. Salah paham yang berulang-ulang dan berujung pada renggangnya tali silaturahim antara orang tua dan anak sering kali disebabkan miskomunikasi.
Islam menyadari arti penting komunikasi. Oleh karenanya, aturan-aturan hubungan orang tua dan anak dalam Islam, menganjurkan untuk menjalin komunikasi yang baik.
Banyak kisah yang dapat kita tarik sebagai contoh. Nabi Ibrahim, misalnya. Ketika mendapatkan titah untuk menyembelih, putranya, Nabi Ismail, ia meminta pendapatnya terlebih dahulu meskipun itu adalah perintah Allah SWT kepadanya.
"Maka tatkala anak itu (Ismail) dewasa dan telah mampu bekerja bersamanya, Ibrahim berkata: "Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Apa tanggapanmu?" Ia menjawab: "Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau mendapatkanku termasuk golongan orang-orang yang sabar." (QS Ash-Shaffat: 102).
Akhir-akhir ini, sering kita dengar perselisihan antara orang tua, ibu atau ayah, dengan anaknya. Yang paling sering menjadi masalah utama penyebab perselisihan itu adalah kesalahpahaman dari kedua belah pihak, atau berbeda pandangan dalam suatu hal. Dan seringkali dalam perselisihan itu terlontar sumpah serapah dan kata-kata yang tidak semestinya diucapkan. Padahal, ucapan orang tua untuk anak, baik atau buruk, tak jarang dikabulkan oleh Allah SWT secara langsung.
Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan Abu Hurairah disebutkan, suatu ketika seorang ibu memanggil anaknya, Juraij, yang sedang beribadah di shauma'ah (tempat ibadah khusus). "Hai, Juraij!" demikian panggilnya.
Ketika itu Juraij sedang salat, sehingga ia merasa bingung antara meneruskan ibadahnya atau menjawab panggilan ibunya.
Setelah beberapa lama tak ada jawaban, ibu itu berdoa "Ya Allah, janganlah engkau matikan Juraij sampai ia berurusan dengan wanita pezina!"
Di sekitar shauma'ah Juraij, ada seorang gadis yang biasa mengembalakan kambingnya. Beberapa waktu berselang, gadis itu hamil lalu melahirkan. Ia pun ditanya oleh masyarakat: "Siapa ayah bayi ini?" Ia berkata: "Juraij." Namun, Juraij menyangkal bahwa itu adalah anaknya.
Akhirnya, dengan kekuasaan Allah, anak yang masih menyusu itu berkata "Bukan Juraij. Ayahku adalah seorang laki-laki pengembala." (HR Bukhari).
Hadis Abu Hurairah di atas secara jelas menggambarkan keampuhan ucapan orang tua, terutama ibu. Betapapun sepelenya perbuatan anak, ketika ternyata hal itu menyakiti hati orang tua, maka balasannya sesuai dengan yang diharapkan, bagaimanapun buruknya harapan itu. Dalam hadis di atas dicontohkan dengan Juraij yang tidak menjawab panggilan ibunya karena mementingkan ibadah.
Untuk menghindari akibat buruk dari perselisihan dan doa yang tidak baik, komunikasi harus tetap terjalin. Anak juga harus mampu menempatkan posisi yang tepat di hadapan orang tua dan berakhlak sesuai dengan yang ditetapkan dalam Alquran.
"Janganlah kamu mengatakan kepada orang tua "ah", janganlah membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Rendahkanlah dirimu di hadapan mereka karena kasih sayang…" (Q.S. Al-Isra: 23-24). Wallahu A'lam.

Darus Sunnah, 10 Februari 2006