
oleh: Luthfi Arif
Agar tercipta hubungan yang harmonis antara orang tua dan anak, diperlukan komunikasi yang baik dari dua arah. Salah paham yang berulang-ulang dan berujung pada renggangnya tali silaturahim antara orang tua dan anak sering kali disebabkan miskomunikasi.
Islam menyadari arti penting komunikasi. Oleh karenanya, aturan-aturan hubungan orang tua dan anak dalam Islam, menganjurkan untuk menjalin komunikasi yang baik.
Banyak kisah yang dapat kita tarik sebagai contoh. Nabi Ibrahim, misalnya. Ketika mendapatkan titah untuk menyembelih, putranya, Nabi Ismail, ia meminta pendapatnya terlebih dahulu meskipun itu adalah perintah Allah SWT kepadanya.
"Maka tatkala anak itu (Ismail) dewasa dan telah mampu bekerja bersamanya, Ibrahim berkata: "Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Apa tanggapanmu?" Ia menjawab: "Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau mendapatkanku termasuk golongan orang-orang yang sabar." (QS Ash-Shaffat: 102).
Akhir-akhir ini, sering kita dengar perselisihan antara orang tua, ibu atau ayah, dengan anaknya. Yang paling sering menjadi masalah utama penyebab perselisihan itu adalah kesalahpahaman dari kedua belah pihak, atau berbeda pandangan dalam suatu hal. Dan seringkali dalam perselisihan itu terlontar sumpah serapah dan kata-kata yang tidak semestinya diucapkan. Padahal, ucapan orang tua untuk anak, baik atau buruk, tak jarang dikabulkan oleh Allah SWT secara langsung.
Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan Abu Hurairah disebutkan, suatu ketika seorang ibu memanggil anaknya, Juraij, yang sedang beribadah di shauma'ah (tempat ibadah khusus). "Hai, Juraij!" demikian panggilnya.
Ketika itu Juraij sedang salat, sehingga ia merasa bingung antara meneruskan ibadahnya atau menjawab panggilan ibunya.
Setelah beberapa lama tak ada jawaban, ibu itu berdoa "Ya Allah, janganlah engkau matikan Juraij sampai ia berurusan dengan wanita pezina!"
Di sekitar shauma'ah Juraij, ada seorang gadis yang biasa mengembalakan kambingnya. Beberapa waktu berselang, gadis itu hamil lalu melahirkan. Ia pun ditanya oleh masyarakat: "Siapa ayah bayi ini?" Ia berkata: "Juraij." Namun, Juraij menyangkal bahwa itu adalah anaknya.
Akhirnya, dengan kekuasaan Allah, anak yang masih menyusu itu berkata "Bukan Juraij. Ayahku adalah seorang laki-laki pengembala." (HR Bukhari).
Hadis Abu Hurairah di atas secara jelas menggambarkan keampuhan ucapan orang tua, terutama ibu. Betapapun sepelenya perbuatan anak, ketika ternyata hal itu menyakiti hati orang tua, maka balasannya sesuai dengan yang diharapkan, bagaimanapun buruknya harapan itu. Dalam hadis di atas dicontohkan dengan Juraij yang tidak menjawab panggilan ibunya karena mementingkan ibadah.
Untuk menghindari akibat buruk dari perselisihan dan doa yang tidak baik, komunikasi harus tetap terjalin. Anak juga harus mampu menempatkan posisi yang tepat di hadapan orang tua dan berakhlak sesuai dengan yang ditetapkan dalam Alquran.
"Janganlah kamu mengatakan kepada orang tua "ah", janganlah membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Rendahkanlah dirimu di hadapan mereka karena kasih sayang…" (Q.S. Al-Isra: 23-24). Wallahu A'lam.
Darus Sunnah, 10 Februari 2006
Tidak ada komentar:
Posting Komentar