Selasa, 17 November 2009

Menyiapkan Bekal

oleh: Luthfi Arif



Dalam Alquran, Allah SWT telah memastikan kematian untuk setiap jiwa. "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati." (QS Ali Imran: 185).

Meskipun firman Allah SWT itu dengan sangat jelas menerangkan bahwa kematian adalah hal yang niscaya, tetap saja kematian menjadi hal yang - bagi sebagian orang - memiliki nilai negatif.

Bagi seorang muslim, kematian dianggap sebagai pemutus amal ibadahnya di dunia, ketika ia merasa amalnya tidak mencukupi untuk bekal di akhirat. Sedangkan orang ingkar, menganggap kematian sebagai pemutus kenikmatan hidup di dunia. Tak ada lagi kesenangan setelah mati.

Ada beberapa hal yang patut dilakukan agar kematian menjadi 'membahagiakan', khususnya bagi seorang muslim.

Pertama, meyakinkan diri bahwa kematian pasti akan datang menimpa siapapun yang berjiwa tanpa terkecuali. Kapanpun malaikat maut datang menjemput, saat itulah kepastian kematian terjadi. "Maka jika ajal telah menjemput, tak dapat dipercepat atau diundur meski hanya sesaat." (QS Al-A'raf: 34).

Kedua, memperbanyak mengingat kematian agar kita senantiasa mempersiapkan bekal yang banyak menuju akhirat. Salah satunya adalah dengan berziarah kubur. "Berziarah kuburlah kamu! Karena ziarah kubur mengingatkan kepada kematian." (HR Muslim).

Ketiga, menyadari bahwa segala kesenangan dan kenikmatan dunia hanya bersifat sementara. Kenikmatan dunia akan musnah dan tidak mungkin menjadi bekal yang dapat dibawa mati. "Kehidupan dunia tidak lain adalah kesenangan yang memperdayakan." (QS Ali Imran: 185)

Keempat, memperbanyak bekal untuk menghadapi kematian kelak. Sebelum segala amal di dunia akan terputus oleh kematian, sebaiknya masa hidup digunakan untuk melakukan amal saleh sebanyak-banyaknya untuk memperoleh gelar ketakwaan dari Allah. Karena sebaik-baik bekal adalah takwa (QS Al-Baqarah: 197).

Selain mempersiapkan bekal selama di dunia untuk menghadapi kematian, tak ada salahnya menabung amal sebagai simpanan pahala yang akan selalu mengalir, meskipun jasad telah hancur berkalang tanah puluhan tahun lamanya. Karena semua amal manusia akan terputus, kecuali untuk tiga hal. "Apabila anak cucu Adam (manusia) meninggal, akan terputus segala amal ibadahnya kecuali pada tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang selalu mendoakan orang tuanya." (HR Bukhari)

Tiga amalan yang tersebut dalam hadis di atas bernilai tinggi, bahkan tetap mengalir meski ia telah meninggal sekian lama, karena kaitannya yang bukan hanya berdimensi vertikal saja, namun juga berdimensi horizontal.

Artinya, mempersiapkan tabungan kematian bukan hanya masalah pribadi dengan tuhan saja, tetapi juga melibatkan orang lain. Sifat sosial, pengabdian yang tinggi kepada masyarakat, dan pendidikan keluarga merupakan bagian dari sekian proses mempersiapkan kematian.
Tak layak bagi manusia untuk takut mati. Karena kematian bukanlah ancaman. Kematian adalah penghubung antara kehidupan dunia dan akhirat, yang kelak mempertemukan manusia dengan Allah SWT. Wallahu A'lam.

Dimuat di HU Republika, Tanggal-nya lupa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar