Selasa, 17 November 2009

Aku Melihat Diriku...!!!!

oleh: Luthfi Arif



"Aku 'kan udah bilang, nggak usah kepengen macam-macam di sana," ujar Dobi kepadaku sambil bersungut-sungut.
Aku yang sudah diceramahi Dobi dari jam enam sampai jam delapan pagi hanya mampu melirik pasrah. Sejak semalam sampai pagi ini, perutku terasa mual, dan sesekali mulutku mengeluarkan sebagian isi lambung.
"Kamu tuh nggak seharusnya ikutan clubbing di sana. Pakai acara minum-minum segala, lagi!!!" tambah Dobi. Sepertinya kekesalan belum hilang juga dari dirinya.
Aku berusaha mengingat apa yang telah terjadi. Semalam salah seorang teman kampusku merayakan pesta ulang tahunnya di Embassy, sebuah diskotik terkemuka di Jakarta.
Diskotik itu biasanya penuh dengan muda-mudi yang keranjingan hura-hura dan terbiasa menghabiskan malam dengan dugem. Bahkan beberapa terlihat sedang berjingkrak-jingkrak sambil sesekali melingkarkan dua tangan mereka di punggung pasangan masing-masing.
Di Embassy, sama seperti diskotik-diskotik lain, hampir semua minuman yang disediakan mengandung alkohol. Beberapa malah kadar alkoholnya lumayan tinggi. Vodka, Scotch, Marguarita, dan nama-nama minuman lain yang aku tidak tahu dari bahasa apa. Belum lagi ingar bingar clubber yang tidak henti-hentinya mengikuti hentakan musik techno dari piringan hitam yang digesek-gesek Disc Jockey sepanjang malam.
Terus apa hubungannya dengan aku?
Ya, semalam aku menghadiri ulang tahun temanku itu. Aku pergi dengan Dobi, teman satu kamarku di asrama mahasiswa. Sebenarnya Dobi enggan berangkat ke sana. Bahkan ia sempat menasihatiku agar aku mengurungkan niat menghadiri undangan itu. Namun, aku tak menggubris Dobi.
Akhirnya, Dobi mengalah karena tak bisa mencegahku. Dan dengan terpaksa ia tetap ikut bersamaku. Untuk mengawasi dan menjagaku, katanya.
Di diskotik itu, aku habis-habisan eksploitasi energiku buat gedek-gedek badan dan kepala sepanjang malam. Sesekali aku istirahat, sambil beberapa temanku mencekoki minuman-minuman dengan rasa dan bau yang aneh ke dalam kerongkonganku. Aku hanya ingat, Dobi melotot kepadaku ketika itu.
"Eh, Dobi! Lo tu berisik, tau!" cercaan Piet pada Dobi mengembalikanku kepada pikiranku saat ini. "Itu tuh biasa, lagi. Namanya juga baru pertama. Lo aja yang norak," umpat Piet.
Piet adalah teman satu kamarku juga. Dobi dan Piet berbeda sifat dan kepribadian. Namun entah kenapa, mereka tetap betah tinggal bersama.
"Piet, kalau bukan karena kamu, dia nggak akan jadi lemas kayak gini," bantah Dobi tak terima. "Dia pergi ke sana juga karena kamu yang dorong-dorong terus 'kan?" tambah Dobi.
Pikiranku kembali menerawang ke alam delapan jam lalu dan menemukan ingatan baru. Ketika Dobi melarangku semalam, Piet membujukku untuk tetap berangkat. Terpikat oleh kesenangan seperti yang dibilang Piet, aku jadi makin tertarik. Akhirnya, aku memaksa untuk tetap pergi.
"Udah, lain kali Piet nggak usah kamu dengerin," ujar Dobi sambil memijit-mijit keningku.
"Hahhhh, terserah!!!" jawab Piet dari sudut kamar sambil menyeringai ke arah Dobi.
Mendengar umpatan dan pertengkaran mereka, perutku makin mual. Tablet sebesar jempol kaki yang katanya dapat menghilangkan segala yang kuderita tak mampu bekerja cepat sebagaimana iklannya di TV. Akhirnya, aku memilih untuk memejamkan mata dan mengosongkan pikiranku. Tidur.
***
Telepon genggamku menjerit ketika sepenggal pesan singkat memaksa masuk ke memori elektronik mahal yang kubeli di Pondok Indah Mall itu.
"SLM. D'MHN KSDIAAN RKAN2 A.D.K. UTK DPT HDR DI ACR PNGAJIAN BLNN USTADZ RHMAN HR INI BA'DA ISYA. WSLM"
Aku tersenyum setelah membaca SMS itu. Ternyata teman-teman lamaku di organisasi dulu masih ingat denganku, dan kini mereka mengundangku untuk hadir di salah satu kegiatan yang mereka buat.
Aku memang pernah aktif di sebuah lembaga kerohanian Islam di kampusku pada semester-semester awal. A.D.K., aktivis dakwah kampus, demikian mereka terbiasa menyebut setiap anggotanya. Atas anjuran Dobi-lah, aku memutuskan bergabung dengan lembaga itu. Ketika itu, aku merasa tenang dan menikmati segala aktifitasku.
Beberapa waktu belakangan, aku memang malas untuk aktif di kegiatan manapun. Setelah Piet datang di kampusku dan tinggal satu kamar denganku dan Dobi, teman-temanku bilang aku banyak mengalami perubahan.
"Ahhh….!!!" Aku menghela napas sesaat sambil menimbang-nimbang apakah aku akan pergi atau tidak. Sambil melemparkan tasku ke atas ranjang, aku mengambil handuk yang tergantung di balik pintu. Mungkin mandi bisa menenangkan pikiran dan memberikan jawaban padaku.
Aku baru saja selesai mandi dan Piet sedang terkulai menikmati kebiasaannya tidur menjelang maghrib untuk bangun tengah malam menonton sepak bola, ketika jam dinding di kamarku berbunyi sebanyak enam kali. Dobi masih asyik mengaji di sudut ruangan.
Selama air mengaliri kepalaku ketika mandi tadi, kutemukan keputusan untuk berangkat ke pengajian Ustadz Rahman dan mengajak Dobi. Aku tak mengajak Piet karena tidak ingin ia terganggu. Lagipula, mana mau dia ikut kegiatan-kegiatan seperti itu. Akhirnya aku tinggalkan ia sendiri di kamar sementara aku dan Dobi pergi.
"Assalamu'alaikum. Apa kabar, akhi? Antum sendirian aja ke sini?" Amir, salah seorang ADK yang kukenal, menyapaku begitu aku tiba.
"Berdua sama teman sekamar saya. Namanya Dobi," kataku sambil menunjuk ke arah sebelah kanan. Dobi tersenyum.
Sambil mengernyitkan kening, Amir tersenyum dengan mimik wajah yang aneh ke arahku. "Hah… berdua?? Oh, ya udah. Masuk aja ke dalam, ya!" Ia mempersilakanku masuk sambil geleng-geleng kepala.
Di dalam, peserta sudah ramai dan hampir memenuhi setiap penjuru ruangan. Aku mendengarkan setiap perkataan Ustadz Rahman dengan seksama. Dobi melihat ke arahku sambil menyunggingkan sedikit senyum. Barangkali ia melihat sesuatu yang kontras antara aku di pengajian ini dengan aku yang mabuk malam kemarin.
Terlalu lama duduk bersila di atas karpet membuat kakiku terasa pegal. Akhirnya kugerakkan kakiku ke kanan dan ke kiri sedikit-sedikit agar terasa lebih nyaman. Ketika aku menoleh ke kiri, aku kaget bukan kepalang. Piet berada tepat setengah meter di samping bahuku. Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, darimana ia tahu aku ikut pengajian ini.
"Kenapa, kaget ya?" Piet tiba-tiba berkata seperti membaca pikiranku.
"Iya, sedikit. Eh, darimana kamu tahu aku di sini?"
"Ya tahu, dong. Meskipun lo pergi gak bilang-bilang," ujar Piet ber-lo-lo-gue-gue.
Raut muka Dobi berubah ketika melihat Piet ada di ruangan itu. Dobi seperti menangkap gelagat buruk dari kehadiran Piet. Aku hanya ringan menanggapi mereka.
"Eh, bete nih, gue. Balik aja, yuk!" Piet berkata pelan-pelan seperti berbisik.
Melihat Piet yang ingin pulang seperti gayung bersambut bagiku. Semenjak kakiku pegal tadi, aku sudah tidak betah. Namun karena melihat Dobi yang begitu asyik menyimak, aku jadi urung.
"Udah, biarin aja si Dobi. Gue punya tempat asyik buat nongkrong nih," Piet merajuk.
Aku pun keluar dengan Piet dari tempat itu tanpa memedulikan Dobi. Dan tahu-tahu aku telah ada di sebuah bangunan dua lantai dengan lampu-lampu kuning temaram. Lalu aku sadar, aku berada di sebuah cafe.
Piet terus menarik tanganku menuju ke dalam. Lalu meluncur ke arah toilet yang berada di bagian belakang. Di tempat yang cukup sunyi dan jauh dari hiruk pikuk orang itu, aku berpapasan dengan seorang wanita yang cukup menawan. Dilihat dari pakaian seragam yang dikenakannya, dapat dipastikan ia seorang waitress.
Tiba-tiba saja Piet membisikkan sesuatu yang tidak pernah kupikirkan akan dikatakannya padaku.
"Kau harus dapatkan dia malam ini." Aksen bicara Piet tiba-tiba berubah menjadi aneh. Dan kini ia tidak lagi ber-lo-lo-gue-gue seperti biasa.
"Aku tidak bisa, Piet. Itu dosa"
"Kau akan menyia-nyiakan kesempatan yang mungkin tidak datang lagi padamu." Piet semakin gencar membujukku. "Kau suka dia, 'kan?"
Pikiran-pikiran buruk mulai berkelebatan di otakku. Aku mulai terpengaruh iming-iming kesenangan yang digambarkan Piet jika aku melakukan perbuatan itu.
"Jangan mau dibodohi. Kamu orang terpelajar. Kamu tahu betapa berat dosa orang yang melakukan perbuatan itu." Tiba-tiba Dobi muncul di ujung pintu toilet sambil berteriak ke arahku.
Namun seperti biasa nasihat-nasihat Dobi kuabaikan dan aku menurut pada Piet.
Perbuatan dosa itu akhirnya terjadi juga. Aku menarik wanita itu dan memaksanya berbuat sesuatu yang hanya pantas dilakukan suami istri. Wanita itu menangis mengeluarkan suara dari mulutnya yang kusumbat dengan saputangan. Meratapi nasibnya yang naas.
Piet tertawa terbahak-bahak. Sementara Dobi menangis sejadi-jadinya melihat imanku goyah. Bahkan Dobi memuntahkan sumpah serapah yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya akan keluar dari mulut seorang yang santun seperti dia. Mungkin ia sangat kecewa kepadaku.
"Kau telah berbuat sesuatu yang akan merusak reputasimu. Jika peristiwa ini bocor, kau akan di penjara," Piet berbisik lagi kepadaku. "Hilangkan bukti! Bunuh saja wanita itu!"
Dobi menjerit dengan keras ke arahku, "Jangan! Kau tidak akan diampuni jika kau tambah daftar dosa besarmu dengan membunuh."
"Tidak. Aku tidak mau." ujarku singkat.
"Kalau kau tidak mau, biar aku saja yang melakukannya." kata Piet.
Piet mengambil sebuah batu dan memecahkan cermin yang ada di depannya. Lalu ia menusukkan pecahan cermin tajam ke tubuh wanita itu sampai ia mati. Piet kembali menampakkan gigi-giginya, menyeringai dan tertawa.
Aku terbelalak melihat itu semua. Namun yang membuatku takut, di bayangan cermin aku tidak melihat wajah Piet. Aku… aku melihat sosok lain yang sangat ku kenal selama ini.
Aku… melihat diriku... Aku melihat pakaianku berlumuran darah. Aku melihat diriku tertawa terbahak-bahak lalu menangis sejadi-jadinya.

Aula Putih, Darus-Sunnah
26 Nopember 2006

Tidak ada komentar:

Posting Komentar