Rabu, 16 Desember 2009

Menyambut Semangat Tahun Baru: Refleksi Tiga Dimensi Waktu

Seorang sahabat dekat saya, Hiznu Shobar, mengirimkan posting tentang Tahun Baru yang sangat mencerahkan. Saya share dengan teman-teman pembaca. Semoga bermanfaat.

Salam
Luthfi

MENYAMBUT SEMANGAT TAHUN BARU; REFLEKSI TIGA DIMENSI WAKTU
oleh Hiznu Shobar*


Tanpa terasa bahwa perputaran roda kehidupan telah bergulir begitu lama. Empat belas abad lebih menurut hitungan kalender Islam (Hijriyah) dan dua puluh abad lebih menurut hitungan kalender masehi. Satu demi satu perubahan kian terjadi. Ada anak kecil, lambat laun ia saat ini telah menjadi remaja. Ada pula yang kini telah menjadi dewasa padahal sebelumnya ia masih remaja bahkan terbilang masih anak-anak. Perubahan itu benar-benar terjadi. Hingga adanya seorang bayi yang lahir dan ada di antara kita meninggalkan dunia yang fana ini. Dan itu semua tidak lepas dari urusan waktu. Ya, waktu. Waktu yang mempertemukan kita dengan dunia dan ia pula yang memisahkannya.

Eksistensi kita di dunia ini sesungguhnya tidak akan lepas dari sebuah perputaran waktu. Dan waktu tersebut seolah-olah berbicara mengenai siapa kita dan apa saja yang telah kita lakukan. Dan waktu, saat berjalan ia tidak pernah menengok ke belakang. Ia tetap terus melaju tanpa peduli apakah kita berbuat sesuatu atau tidak sama sekali. Bahkan, salah satu ungkapan dalam sastra Arab disebutkan ‘‘al-Waqtu ka al-Saif in lam taqtho’uhu qotho’aka’’, waktu ibarat sebuah pedang, jika kita tidak bisa menaklukkannya atau menguasai untuk menggunakannya, maka kita akan mati terbunuh oleh waktu kita sendiri. Maka tidak heran jika ada orang yang bisa sukses dengan waktu yang ia miliki, tetapi di sisi lain ada pula orang yang gagal dengan waktunya. Padahal Allah SWT memberikan alokasi waktu yang sama pada orang yang sukses dan orang yang gagal tersebut, yaitu dua puluh empat jam sehari, tidak kurang dan tidak lebih.

Dalam dimensinya, waktu dibagi menjadi 3 (tiga) masa. Dan ketiga dimensi tersebut patut kita renungkan untuk kita pelajari dan kita ambil sebuah hikmah agar kehidupan kita bisa menjadi lebih baik.

Masa lalu
Setiap kita yang telah hadir di dunia ini, terutama saat kita sudah mulai menapaki masa aqil baligh, tentunya mempunyai masa lalu. Masa lalu adalah masa yang sudah lewat dari kehidupan kita. Namun, meskipun sudah berlalu bukan berarti tidak bisa kita renungkan. Bahkan, sejatinya orang muslim yang pandai mengambil hikmah dari masa lalunya ia tidak akan terjatuh pada lubang kegagalan untuk kedua kalinya. Akan tetapi ia mampu berbuat lebih baik dari sebelumnya. Bahkan ia mampu meraih keberhasilan dengan cara mempelajari apa yang telah ia lewati selama ini. Karena dengan ia menyadari akan tapak perjalanan masa lalunya, ia akan mengetahui apa saja kekuatan dan kelemahannya lalu ia mengevaluasinya (muhasabah) untuk ia perbaiki di kemudian hari.

Masa sekarang
Salah satu orang bijak berkata ‘Your day is today’. Ya! Benar sekali bahwa harimu adalah hari ini. Apa yang bisa kita lakukan hari ini adalah hari kita yang penuh dengan makna. Dan bisa jadi apa yang kita lakukan saat ini mengandung arti menciptakan masa depan kita sendiri. Hal itu tidak lain karena apa yang kita taburkan saat ini akan kita tuai di masa yang akan datang. Melakukan yang terbaik saat ini berarti menginginkan kebaikan yang lebih di masa yang akan datang. Berbuat sesuatu saat ini berarti kita menciptakan karakter kita sendiri. Dan karena hidup adalah perbuatan maka diam tak bergerak itu identik dengan kematian. Seseorang yang selalu menghabiskan waktunya dengan sungguh-sungguh akan sangat berbeda hasilnya dengan orang yang selalu lalai dalam mengisi waktunya (QS. al-Ashr [103]: 2-3).

Masa akan datang
Ini adalah masa perkiraan (prediction). Masa di mana kita semua tidak ada yang pernah tahu apa yang akan terjadi. Meskipun hanya satu detik kemudian. Masa depan tidak pernah bisa kita pastikan namun bisa kita prediksikan dengan suatu perbuatan konkrit masa sekarang. ‘Masa depan adalah apa yang Anda lakukan saat ini’ demikian salah seorang arif bernasihat. Sepatutnya, apa yang kita inginkan di masa yang akan datang harus bisa kita rencanakan saat ini kemudian kita melakukan persiapan dan berikutnya diiringi dengan sebuah usaha dan perbuatan yang mengarah kepada keinginan kita.

Maka, dalam momentum yang sangat baik ini alangkah baiknya kita merevitalisasi konsep hidup kita yang sudah ada dengan mengaktualisasikan diri kita pada sebuah kualitas hidup yang lebih bernilai. Ada kandungan semangat yang tumbuh dalam jiwa kita jika kita mampu merefleksikan ketiga dimensi waktu tersebut. Ada kandungan nilai positif yang lahir dalam hati kita saat kita mampu mengetahui sisi-sisi kekuatan dan kelemahan kita. Kita akan senantiasa mengevaluasi apa yang telah kita perbuat di masa lalu, kita pun akan selalu mawas diri dan akan sangat berhati-hati akan apa yang kita perbuat.

Suatu keniscayaan yang hebat jika setiap kita mampu menyadari secara berkesinambungan apa yang telah kita perbuat di masa lalu, apa yang sedang kita perbuat saat ini dan apa yang akan kita perbuat di masa yang akan datang. Setidaknya kesadaran tersebut akan menjadi standar dinamika kehidupan kita.

Ketiga dimensi waktu yang kita bicarakan sesungguhnya akan menjadi cermin yang memiliki kualitas kontrol (quality of control) yang bisa kita jadikan sandaran dan alat evaluasi.

Semangat tahun baru Hijriah dan Masehi yang kita hadapi saat ini seharusnya bisa menjadi sebuah kristalisasi dari ketiga dimensi yang kita renungkan tadi. Dengan adanya tahun baru tersebut, setidaknya kita mampu mengaktifkan kembali rasa kesadaran kita yang mungkin selama ini sempat ‘mati’ karena kesibukan aktivitas sehari-hari. Padahal, dalam salah satu sejarah Islam disebutkan bahwa ada salah satu sahabat yang mendapatkan jaminan surga bukan hanya karena dia mampu istiqomah dalam amalan ibadah kesehariannya, tapi juga ia selalu merenungi apa yang telah dia lakukannya sebelum ia tidur. Selamat berbuat untuk menyambut semangat Tahun Baru!

*Alumni Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Darus Sunnah High Institute of Hadith Sciences. Pernah menjadi juara III Lomba Debat Bahasa Arab Universitas se-Asia Tenggara

Selasa, 01 Desember 2009

ARTI KEBERANIAN


oleh: Luthfi Arif

Dalam sebuah hikayat, yang mengisahkan Siti Masyithoh,
tukang sisir putri Firaun, disebutkan bahwa ia adalah
wanita yang begitu gigih mempertahankan keimanannya
pada Allah. Meskipun harus mati dengan terjun ke dalam
golakan minyak panas, ia tidak gentar. Sebuah
keberanian mempertahankan kebenaran menjadi
landasannya melakukan itu semua.
Sebuah kebenaran tak akan pernah terlihat tanpa ada
yang menampakkannya. Menampakkan kebenaran
sejelas-jelasnya tidaklah mudah. Begitu banyak yang
harus dilakukan. Butuh keberanian yang cukup besar.
Sebuah keberanian tak muncul dengan sendirinya. Sifat
ini bagaikan sebuah tanaman yang harus selalu dipupuk
agar tumbuh dan akarnya kuat. Tatkala keberanian telah
tumbuh dan berakar kuat, maka seseorang akan berani
menghadapi lawan dan menentang halangan dan rintangan.
Ia pun akan sanggup mengatakan yang haq adalah haq,
dan yang batil adalah batil.
Keberanian adalah kunci dari segala kesuksesan. Ia
juga motivator seseorang untuk giat berusaha. Dengan
mengubur dalam-dalam sifat pengecut dan mengganti
dengan sifat pemberani, segala usaha akan lebih mudah
dijalankan. Tak akan pernah terbersit kata mundur,
meskipun hanya sejenak, seandainya usaha yang
dilakukannya belum mencapai tujuan.
Dengan keberanian pula, ia akan siap dan mampu
menghadapi segala persoalan dengan tenang. Karena,
solusi permasalahan datang dari jiwa yang tenang dan
siap menghadapinya. Mental pengecut hanya mampu lari
dari permasalahan, bukan menghadapinya.
Akan tetapi, keberanian bukanlah hanya persoalan
menghadapi, melawan, dan menantang. Keberanian adalah
proporsional. Keberanian adalah berusaha menjunjung
kebenaran dengan cara apa pun sekuat tenaga. Sekira
suatu permasalahan perlu dihadapi, dilawan, atau
ditentang, maka hadapi, lawan, dan tentanglah. Namun,
seandainya semua itu mengakibatkan keburukan yang
lebih besar, maka menahan diri akan lebih baik. Karena
menahan diri bukan berarti kalah. Dan mundur tidak
melulu bermakna takut. Mempertahankan kebenaran adalah
tujuan utama.
Efek dari keberanian bukan hanya untuk diri sendiri.
Dengan keberanian, seseorang mampu mengembalikan orang
sesat ke jalan yang lurus, membuat orang yang zalim
menjadi adil, dan memberikan petunjuk kepada umat agar
tetap konsisten di jalan kebenaran. Seandainya
keberanian ini hilang, maka kezaliman akan merajalela,
kejahilan semakin bertambah, dan umat akan berjalan
dalam koridor-koridor kesesatan.
Dalam berbagai kesempatan, Rasulullah SAW selalu
mengajarkan umatnya untuk selalu berani, terlebih
untuk berjuang di jalan Allah. Ia juga selalu memohon
agar dijauhkan dari sifat penakut. Sebagaimana
penggalan hadisnya “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu
dari sifat penakut dan bakhil.” (H.R. Bukhari).
Karenanya, hiduplah selalu dengan keberanian. Jauhi
sifat penakut dan janganlah menjadi pengecut. Penakut
dan pengecut hanyalah sifat orang bodoh. Keberanianlah
sifat mukmin sejati. Wallahu A’lam.[]

Darus Sunnah, 29 Januari 2006

MENGHINDARI SIFAT PESIMIS


oleh: Luthfi Arif

Manusia, dalam menghadapi hidup dan kehidupannya,
memiliki dua sifat, optimis dan pesimis. Sifat optimis
didefinisikan sebagai sikap seseorang yang selalu
memandang adanya harapan baik. Dan pesimis adalah
sebaliknya, yaitu sikap seseorang yang selalu
berpikiran bahwa kebaikan tidak pernah berpihak
padanya.
Dua sifat ini sangat memengaruhi kehidupan seseorang.
Orang yang optimis akan selalu melihat hidup dari sisi
positif. Dalam memandang suatu permasalahan, ia akan
cenderung memerhatikan kebaikan-kebaikan yang
terkandung di dalamnya. Dan harapan-harapannya tentang
keberhasilan akan membuat pikirannya selalu maju ke
depan. Baginya kegagalan dan kesulitan hanyalah
sekedar penyakit ringan yang tidak terlalu berbahaya.
Di balik itu semua tersimpan kemudahan dalam
memperoleh keberhasilan yang diidamkan. “Sesungguhnya
dibalik kesulitan itu ada kemudahan.” (Q.S.
Al-Insyirah: 6).
Sedangkan orang yang pesimis, melihat hidup hanya dari
sisi buruknya saja. Baginya kebaikan tak pernah ada.
Dan kegagalan bagaikan sebuah harimau dengan mulut
menganga yang siap menerkam. Orang yang pesimis tidak
akan mampu berpikir maju. Jika mendapatkan cobaan,
meskipun ringan, ia akan selalu berkeluh kesah.
Padahal, dalam surah Al-Ma’arij ayat 22, orang yang
berkeluh kesah ketika ditimpa kegagalan hanyalah orang
yang tidak salat atau tidak meresapi salatnya. Dan ini
merupakan ciri orang kafir.
Oleh karena itu, dalam Alquran, orang yang pesimis
diserupakan dengan orang kafir. Karena orang yang
pesimis secara tidak langsung menjustifikasi bahwa
Allah tidak memberinya rahmat, tidak mengasihinya.
“Janganlah kalian pesimis dari rahmat Allah SWT.
Sesungguhnya orang yang pesimis akan rahmat Allah SWT
hanyalah orang kafir.” (Q.S. Yusuf: 87).
Pada dasarnya, pesimis adalah penyakit hati yang dapat
menjangkit setiap orang. Penyakit ini dapat
dihilangkan dengan membersihkan hati dari hal-hal
buruk penyebab timbulnya sifat pesimis.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan agar kita
terhindar dari sifat ini.
Pertama, menghilangkan sifat tidak percaya diri. Sikap
rendah diri dan kurang percaya diri dapat menyebabkan
timbulnya sifat pesimis. Dengan merenungi bahwa Allah
menciptakan manusia secara sempurna, sifat pesimis
dapat dikikis. “Sungguh Kami telah ciptakan manusia
dalam bentuk yang paling sempurna.” (Q.S. At-Tin: 4)
Kedua, meyakini bahwa setiap manusia diciptakan Allah
sesuai kadar masing-masing sehingga potensi yang
dimiliki pun berbeda-beda. “Sesungguhnya kami
menciptakan segala sesuatu sesuai dengan kadarnya.”
(Q.S. Al-Qamar: 49).
Ketiga, memperbaiki niat dan memperkuat ‘azam. Niat
dan ‘azam timbul dari dalam hati. Jika niat telah
bersih dan ‘azam semakin kokoh, maka optimisme akan
muncul dengan sendirinya.
Dengan selalu menjalankan hal-hal di atas, seseorang
akan selalu berprasangka baik terhadap Allah SWT dan
setiap pekerjaannya selalu diikuti dengan niat dan
harapan yang baik.
Semoga kita selalu terhindar dari sifat pesimis.
Wallahu A’lam.[]

Darus Sunnah, 29 Januari 2006

KOMUNIKASI ORANG TUA DAN ANAK


oleh: Luthfi Arif

Agar tercipta hubungan yang harmonis antara orang tua dan anak, diperlukan komunikasi yang baik dari dua arah. Salah paham yang berulang-ulang dan berujung pada renggangnya tali silaturahim antara orang tua dan anak sering kali disebabkan miskomunikasi.
Islam menyadari arti penting komunikasi. Oleh karenanya, aturan-aturan hubungan orang tua dan anak dalam Islam, menganjurkan untuk menjalin komunikasi yang baik.
Banyak kisah yang dapat kita tarik sebagai contoh. Nabi Ibrahim, misalnya. Ketika mendapatkan titah untuk menyembelih, putranya, Nabi Ismail, ia meminta pendapatnya terlebih dahulu meskipun itu adalah perintah Allah SWT kepadanya.
"Maka tatkala anak itu (Ismail) dewasa dan telah mampu bekerja bersamanya, Ibrahim berkata: "Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Apa tanggapanmu?" Ia menjawab: "Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau mendapatkanku termasuk golongan orang-orang yang sabar." (QS Ash-Shaffat: 102).
Akhir-akhir ini, sering kita dengar perselisihan antara orang tua, ibu atau ayah, dengan anaknya. Yang paling sering menjadi masalah utama penyebab perselisihan itu adalah kesalahpahaman dari kedua belah pihak, atau berbeda pandangan dalam suatu hal. Dan seringkali dalam perselisihan itu terlontar sumpah serapah dan kata-kata yang tidak semestinya diucapkan. Padahal, ucapan orang tua untuk anak, baik atau buruk, tak jarang dikabulkan oleh Allah SWT secara langsung.
Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan Abu Hurairah disebutkan, suatu ketika seorang ibu memanggil anaknya, Juraij, yang sedang beribadah di shauma'ah (tempat ibadah khusus). "Hai, Juraij!" demikian panggilnya.
Ketika itu Juraij sedang salat, sehingga ia merasa bingung antara meneruskan ibadahnya atau menjawab panggilan ibunya.
Setelah beberapa lama tak ada jawaban, ibu itu berdoa "Ya Allah, janganlah engkau matikan Juraij sampai ia berurusan dengan wanita pezina!"
Di sekitar shauma'ah Juraij, ada seorang gadis yang biasa mengembalakan kambingnya. Beberapa waktu berselang, gadis itu hamil lalu melahirkan. Ia pun ditanya oleh masyarakat: "Siapa ayah bayi ini?" Ia berkata: "Juraij." Namun, Juraij menyangkal bahwa itu adalah anaknya.
Akhirnya, dengan kekuasaan Allah, anak yang masih menyusu itu berkata "Bukan Juraij. Ayahku adalah seorang laki-laki pengembala." (HR Bukhari).
Hadis Abu Hurairah di atas secara jelas menggambarkan keampuhan ucapan orang tua, terutama ibu. Betapapun sepelenya perbuatan anak, ketika ternyata hal itu menyakiti hati orang tua, maka balasannya sesuai dengan yang diharapkan, bagaimanapun buruknya harapan itu. Dalam hadis di atas dicontohkan dengan Juraij yang tidak menjawab panggilan ibunya karena mementingkan ibadah.
Untuk menghindari akibat buruk dari perselisihan dan doa yang tidak baik, komunikasi harus tetap terjalin. Anak juga harus mampu menempatkan posisi yang tepat di hadapan orang tua dan berakhlak sesuai dengan yang ditetapkan dalam Alquran.
"Janganlah kamu mengatakan kepada orang tua "ah", janganlah membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Rendahkanlah dirimu di hadapan mereka karena kasih sayang…" (Q.S. Al-Isra: 23-24). Wallahu A'lam.

Darus Sunnah, 10 Februari 2006

MEMELIHARA TIGA UNSUR


oleh: Luthfi Arif

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr, suatu ketika Rasulullah SAW bersabda "Aku akan menjadi orang yang paling acuh dengan perbuatanku jika aku melakukan tiga hal; meminum penawar racun, mengalungkan jimat, dan melantunkan syair" (HR Ahmad dan Abu Dawud)
Hadis di atas menjelaskan tiga hal yang dilarang Rasulullah SAW. Karena jika dilakukan, maka akan sama halnya dengan orang fasik yang melakukan segala sesuatu tanpa pertimbangan agama. Tak peduli apakah perbuatan itu diperintah atau dilarang syariat Islam.
Tiga hal itu adalah:
Pertama, meminum penawar racun. Imam Ibnu al-Atsir berpendapat bahwa penawar racun yang dilarang adalah yang mengandung benda haram dan najis seperti darah ular atau khamr. Oleh karenanya tidak ada masalah mengkonsumsi penawar racun yang terbuat dari bahan baku halal.
Kedua, memakai jimat. Dalam hal ini beberapa ulama, di antaranya al-Khaththabi, berpendapat bahwa jimat yang dilarang adalah jimat-jimat Jahiliyah seperti kuku atau taring binatang buas.
Ketiga, mendendangkan syair. Imam Abadi dalam kitab 'Aun al-Ma'bud menjelaskan bahwa syair-syair yang sengaja dibuat untuk dilantunkan adalah haram. Sedangkan jika dibuat untuk sekadar melepas penat diperbolehkan.
Betapapun beragamnya pendapat ulama, satu hal yang harus diperhatikan adalah kandungan dan maksud hadis tersebut. Tujuan Rasulullah SAW melarang tiga hal itu adalah untuk menjaga kesucian tiga unsur pokok pembentuk seorang muslim, yaitu akal, akidah, dan hati.
Ibarat komputer, akal adalah prosesor yang memuat program-program penting. Jika terkena virus, komputer akan rusak dan tidak dapat beroperasi. Jika benda haram dan najis terserap dalam tubuh seorang muslim, maka sedikit banyak akan mempengaruhi akal dan sikapnya. Kepribadian muslimnya dapat menjadi rusak.
Akidah adalah fondasi iman seseorang. Akidah yang salim mengantarkan seorang muslim kepada keyakinan yang teguh terhadap kekuatan sang Khalik, Allah SWT. Menggunakan jimat berarti meyakini adanya kekuatan lain selain Allah SWT. Ini adalah kemusyrikan. "Di antara tujuh hal yang akan membinasakan (di hari kiamat) adalah engkau menyekutukan Allah SWT, padahal ia telah menciptakanmu…" (HR Bukhari)
Dalam Alquran, Allah SWT berfirman "Kami tidak pernah mengajari (Muhammad) syair-syair. Dan memang tidak layak baginya." (QS Yasin: 69). Syair dapat membuat orang yang mendendangkannya terlena. Hati yang dipenuhi syair akan lalai dari Allah SWT. Oleh karenanya, Rasulullah SAW melarang mendendangkan syair. "Lebih baik hati seseorang dipenuhi oleh nanah, daripada dipenuhi syair." (HR Bukhari)
Menghindari tiga hal di atas berarti menjaga tiga unsur penting dalam kehidupan. Apabila kesemuanya telah terjaga dengan baik, maka akan tercipta ketenangan jiwa dan ibadah. Kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat pun dapat terwujud. Wallahu A'lam

Darus Sunnah, 20 April 2006

MENANGIS TAUBAT


oleh: Luthfi Arif

Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, siapapun dia, apapun derajatnya. Bahkan, para nabi utusan Allah SWT pun melakukan kesalahan. Bedanya, kekasih-kekasih Allah itu langsung mendapat teguran dari Allah SWT ketika khilaf, dan menyesali dosanya. Sedangkan manusia biasa, belum tentu.
Nabi Adam as misalnya. Tatkala ia dan istrinya, Hawwa, memakan buah larangan, Allah SWT langsung menegur mereka dengan menanggalkan penutup tubuh mereka dan mengeluarkan mereka dari surga. Dalam penyesalannya, Nabi Adam as. menangis dan berdoa, “Tuhan, kami telah menzalimi diri sendiri. Andai Engkau enggan mengampuni kesalahan kami dan mengasihi kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS Al-A’raf: 23)
Demikian halnya dengan Nabi Yunus as. Ketika ia murka atas keengganan kaumnya menerima dakwahnya, Allah langsung menegurnya dengan ditenggelamkan di lautan dan ditelan ikan paus. Dalam kesendiriannya di lambung paus yang gelap gulita itu, Nabi Yunus menangis menyesali dosanya, “Ya Allah! Tiada tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Aku benar-benar termasuk orang-orang yang zalim!” (QS Al-Anbiya: 87).
Tak ada manusia yang luput dari kesalahan dan dosa. Dosa dan kesalahan ini akan menghantarkannya pada azab Allah. Namun Allah SWT Maha Pengasih dan Penyayang. Allah tidak akan menyiksa hamba-Nya yang berbuat salah sedangkan ia menangis menyesali dosanya dan berjanji tidak mengulangi perbuatannya.
Alangkah beruntungnya orang yang bertaubat dan menyesali kesalahan yang pernah dilakukan sampai meneteskan air mata. Allah telah persiapkan untuknya naungan di hari kiamat kelak. “Di antara orang-orang yang dinaungi pada hari kiamat adalah seseorang yang berkhalwat di malam hari (untuk bertaubat), sampai kedua belah matanya mencucurkan air mata.” (HR Bukhari)
Lebih baik menangis untuk Allah saat ini di dunia, meminta ampunan dan kasih sayangnya, daripada tak dapat berhenti menangis di akhirat karena merasakan siksa. Ibnu Abbas pernah berkata, “Orang yang mengumbar tawa di dunia, niscaya mereka akan menangis tak henti-henti di akhirat kelak ketika dihisab.” (Tafsir Ibnu Katsir).
Namun, jangan hanya air mata penyesalan yang kita teteskan untuk Allah. Seorang mukmin akan mampu meneteskan air mata, atas segala karunia dan nikmat yang dianugerahkan Allah. Karena air mata merupakan salah satu wujud getaran hati.
Dan Allah telah menjanjikan kabar gembira berupa surga bagi mereka yang bergetar hatinya ketika mengingat Allah. “...berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk (kepada Allah). Yaitu orang-orang yang hatinya bergetar tatkala mengingat Allah...” (QS Al-Hajj : 34-35). Wallahu A’lam

Darus Sunnah, 18 Juni 2006

IDUL FITRI (TIDAK) BERARTI KEMBALI SUCI

oleh: Luthfi Arif


Sebentar lagi kita akan menghadapi hari raya Idul Fitri. Hari yang sangat dinanti-nantikan kaum muslimin setelah menjalankan ibadah puasa, bahkan dinantikan pula oleh yang tidak berpuasa. Bagi sebagian kalangan, kesan yang ditimbulkan dari hari raya ini adalah bersihnya segala kesalahan dan dosa yang pernah dilakukan karena telah beribadah sebulan penuh, telah menang melawan hawa nafsu, dan bermaafan pada orang lain ketika Idul Fitri. Dan media massa , baik cetak maupun elektronik, selalu mengartikan Idul Fitri dengan ‘Hari Kesucian’.
Namun tepatkah jika Idul Fitri diartikan sebagai ‘Hari Kesucian’ dimana orang-orang yang berpuasa menjadi suci tanpa dosa, seperti bayi yang baru lahir. Putih dan bersih layaknya kertas yang belum pernah ditulisi?

Kata ‘Fithri’ dan Definisi Idul Fitri
Secara kebahasaan, Idul Fitri terbentuk dari dua kata Bahasa Arab, ‘Id dan Fithr. ‘Id berarti hari raya. Sedangkan fithr merupakan bentuk mashdar (kata kerja yang di-nomina-kan) dari fathara-yufthiru-fithr. Kata fithr memiliki banyak arti (atau disebut polisemi), di antaranya merobek, membelah, menciptakan, terbit, makan pagi, dan berbuka puasa.
Dr. Ibrahim Unais, dalam al-Mu’jam Al-Wasith, mengartikan fithr sebagai ifthar (berbuka puasa). Serupa dengan pendapat Louis Ma’luf Al-Yasu’i, pengarang kamus Al-Munjid, yang juga mengartikan fithr dengan ifthar. Dengan demikian, Idul Fitri adalah hari raya dimana setiap muslim tidak perlu lagi berpuasa, setiap orang diperbolehkan untuk makan dan minum setelah satu bulan lamanya berpuasa.
Definisi Idul Fitri ini juga telah disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw. dalam hadisnya.
“…Idul Fitri adalah hari orang-orang berbuka puasa (makan dan minum karena sudah tidak berpuasa lagi), Idul Adha adalah hari orang-orang menyembelih hewan kurban…” (H.R. Al-Tirmidzi)
Lalu mengapa banyak yang menyebut Idul Fitri sebagai hari kesucian? Dalam asumsi kami, pemaknaan Idul Fitri dengan hari kesucian ini dinisbatkan pada kata fithrfithrah. Sebagai sebab dari pemaknaan Idul Fitri yang dalam berbagai kesempatan, baik dalam majlis taklim maupun kultum, dimaknai sebagai kembali kepada fithrah, kembali suci.
Yang menjadi acuan adalah hadis tentang anak yang baru dilahirkan, yang menyebutkan kata fithrah.
"Setiap anak dilahirkan sesuai fithrahnya, maka orangtuanya yang membuat ia menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi." (H.R. Bukhari dari Abu Hurairah)
Banyak yang memahami fithrah dalam hadis di atas dengan kesucian. Karena, bayi yang baru lahir itu suci, belum melakukan kemaksiatan. Atau, bayi yang baru lahir itu polos, tidak tahu apa-apa. Sehingga jika di kemudian hari diajari dengan doktrin apapun akan menurut saja. Oleh karenanya, Idul Fitri diartikan kembali kepada fitrah, kembali suci seperti bayi yang baru lahir.

Makna Fitrah
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath al-Bari, kitab syarah (kitab ulasan) dari Shahih Al-Bukhari, memaknai kata ‘fithrah’ dalam hadis Bukhari di atas sebagai al-Millah, al-Islam (agama Islam). Hadis ini dihubungkan dengan firman Allah dalam surah Ar-Rum ayat 30,
Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.(Q.S. Ar-Rum [30]: 30)
Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim – atau yang biasa dikenal dengan Tafsir Ibnu Katsir – menafsirkan kata fithrah dalam ayat di atas dengan fithrah salimah, yaiitu Allah menciptakan manusia dalam keadaan mengetahui-Nya dan mengesakan-Nya (ma’rifatuhu wa tauhiduhu).
Dalam al-Mu’jam al-Wasith dan Al-Munjid, hanya ada dua definisi, fithrah yang berarti zakat wajib yang diberikan pada bulan Ramadhan, dan keadaan manusia ketika pertama kali diciptakan dalam keadaan Islam, keadaan seseorang, sebelum ia dilahirkan, yang meyakini bahwa Allah adalah tuhannya. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-A’raf ayat 172, tentang kesaksian anak-anak Adam (manusia) sebelum mereka dilahirkan akan kesiapan mereka beriman, mengakui bahwa ada Tuhan yang menciptakan mereka.
“…Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka (anak-anak Adam) menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi…” (Q.S. Al-A’raf [7]: 172)
Dari keterangan-keterangan di atas, fithrah diartikan dengan agama Allah, tauhid, ma’rifat, dan iman kepada Allah.
Fithrah juga dapat diartikan dengan sunnah Rasul. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, disebutkan bahwa memelihara kebersihan tubuh merupakan fithrah.
“ Ada lima hal yang termasuk fitrah, yaiitu khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan mencukur kumis.” (H.R. Muslim)
Imam Al-Nawawi dalam Syarh (kitab ulasan) Shahih Muslim, menjelaskan fitrah dalam hadis tersebut adalah sunah para rasul terdahulu yang berlanjut sampai pada Nabi Muhammad saw..
Jadi dalam berbagai keterangan, tidak didapati kata ‘fitrah’ yang bermakna kesucian.

Bahaya Salah Memaknai
Ada sebuah pepatah masyhur yang berbunyi ‘karena nila setitik, rusak susu sebelanga’. Di kalangan masyarakat Indonesia , pepatah ini sangatlah mafhum. Pepatah ini memiliki makna yang sangat dalam. Sebuah kesalahan, meskipun kecil, dapat menghancurkan seluruh kebaikan. Atau, dapat juga berarti kesalahan yang sangat kecil dapat menciptakan kerusakan yang sangat besar.
Orang yang menganggap bahwa selepas melaksanakan ibadah puasa ia menjadi suci sesungguhnya tidaklah tepat. Bahkan bisa membuat orang lain merasa hanya perlu memperbaiki kesalahannya setiap puasa dan Idul Fitri saja. Padahal klaim kesucian jiwa seseorang hanya dapat dilakukan oleh Allah swt. Ini merupakan hak prerogatif Allah saja. Sebagaimana ditegaskan Allah dalam Surah Al-Najm ayat 32.
“…Maka janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dia-lah (Allah) yang maha mengetahui orang yang bertakwa.” (Q.S. Al-Najm [53]: 32)
Manusia beribadah kepada Allah karena memang itulah tugasnya. Dan memang ibadahlah yang menjadi kewajiban manusia hidup di dunia (Q.S. Al-Dzariyat [51]: 56), bukan yang lainnya. Atau, dalam tingkatan keimanan tertentu, ibadah adalah sebuah kebutuhan.
Demikian halnya dengan ibadah puasa Ramadhan. Puasa adalah kewajiban. Namun, tetap saja tidak ada yang dapat mengetahui puasa seseorang diterima atau tidak, kecuali Allah swt. Disebutkan dalam hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa yang akan menilai puasa dan memberi ganjaran pahala hanyalah Allah.
“Puasa itu untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan memberikan balasannya.” (H.R. Muslim)
Keterangan hadis tersebut sangat jelas, bahwa tak ada satu makhluk pun di dunia ini yang mampu menilai puasanya. Sehingga amatlah tidak layak seorang makhluk yang hina mengklaim diri sebagai orang yang suci.
Dalam sebuah hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim, dan Imam Ahmad, disebutkan bahwa ketika manusia dibangkitkan pada hari Kiamat, mereka berlari tak tentu arah mencari penolong yang bisa memberikan syafaat dan mengurangi siksa akhirat.
Mereka menemui Nabi Adam, namun ia enggan karena merasa malu pada Allah karena pernah melanggar memakan buah terlarang di surga. Mereka mendatangi Nabi Ibrahim, namun ia juga menolak karena ia pernah berbohong ketika ia menghancurkan berhala ayahnya. Ia mengatakan bahwa yang menghancurkannya adalah berhala yang paling besar. Mereka terus menerus menemui para Nabi sampai akhirnya bertemu dengan Nabi Muhammad dan mereka pun diberi syafaat.
Ringkasan hadis di atas menunjukkan bahwa hamba yang saleh akan selalu mengingat kesalahan dan dosa. Meskipun dosa itu sangat kecil. Sebaliknya, jika melakukan kebaikan, maka ia akan lupa. Karena baginya, kebaikan yang dilakukan sangatlah kecil di mata Allah. Bahkan, para utusan Allah yang telah menyebarkan agama Allah pun selalu ingat akan kesalahan-kesalahan masa lampau mereka.
Jadi, tidak tepat jika ada pendapat bahwa setelah Idul Fitri orang yang berpuasa menjadi suci seperti bayi yang baru lahir. Karena Idul Fitri bukanlah kembali kepada kesucian, tetapi hari raya diperbolehkan makan kembali setelah berpuasa. Wallahu A’lam

Darus Sunnah, 8 Oktober 2006