Selasa, 01 Desember 2009

MENANGIS TAUBAT


oleh: Luthfi Arif

Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, siapapun dia, apapun derajatnya. Bahkan, para nabi utusan Allah SWT pun melakukan kesalahan. Bedanya, kekasih-kekasih Allah itu langsung mendapat teguran dari Allah SWT ketika khilaf, dan menyesali dosanya. Sedangkan manusia biasa, belum tentu.
Nabi Adam as misalnya. Tatkala ia dan istrinya, Hawwa, memakan buah larangan, Allah SWT langsung menegur mereka dengan menanggalkan penutup tubuh mereka dan mengeluarkan mereka dari surga. Dalam penyesalannya, Nabi Adam as. menangis dan berdoa, “Tuhan, kami telah menzalimi diri sendiri. Andai Engkau enggan mengampuni kesalahan kami dan mengasihi kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS Al-A’raf: 23)
Demikian halnya dengan Nabi Yunus as. Ketika ia murka atas keengganan kaumnya menerima dakwahnya, Allah langsung menegurnya dengan ditenggelamkan di lautan dan ditelan ikan paus. Dalam kesendiriannya di lambung paus yang gelap gulita itu, Nabi Yunus menangis menyesali dosanya, “Ya Allah! Tiada tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Aku benar-benar termasuk orang-orang yang zalim!” (QS Al-Anbiya: 87).
Tak ada manusia yang luput dari kesalahan dan dosa. Dosa dan kesalahan ini akan menghantarkannya pada azab Allah. Namun Allah SWT Maha Pengasih dan Penyayang. Allah tidak akan menyiksa hamba-Nya yang berbuat salah sedangkan ia menangis menyesali dosanya dan berjanji tidak mengulangi perbuatannya.
Alangkah beruntungnya orang yang bertaubat dan menyesali kesalahan yang pernah dilakukan sampai meneteskan air mata. Allah telah persiapkan untuknya naungan di hari kiamat kelak. “Di antara orang-orang yang dinaungi pada hari kiamat adalah seseorang yang berkhalwat di malam hari (untuk bertaubat), sampai kedua belah matanya mencucurkan air mata.” (HR Bukhari)
Lebih baik menangis untuk Allah saat ini di dunia, meminta ampunan dan kasih sayangnya, daripada tak dapat berhenti menangis di akhirat karena merasakan siksa. Ibnu Abbas pernah berkata, “Orang yang mengumbar tawa di dunia, niscaya mereka akan menangis tak henti-henti di akhirat kelak ketika dihisab.” (Tafsir Ibnu Katsir).
Namun, jangan hanya air mata penyesalan yang kita teteskan untuk Allah. Seorang mukmin akan mampu meneteskan air mata, atas segala karunia dan nikmat yang dianugerahkan Allah. Karena air mata merupakan salah satu wujud getaran hati.
Dan Allah telah menjanjikan kabar gembira berupa surga bagi mereka yang bergetar hatinya ketika mengingat Allah. “...berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk (kepada Allah). Yaitu orang-orang yang hatinya bergetar tatkala mengingat Allah...” (QS Al-Hajj : 34-35). Wallahu A’lam

Darus Sunnah, 18 Juni 2006

Tidak ada komentar:

Posting Komentar