Selasa, 01 Desember 2009

MENGHARGAI ORANG LAIN

oleh: Luthfi Arif

Islam menekankan arti penting membina silaturrahim antar sesama muslim. Salah satu cara membina silaturrahim adalah berusaha menghargai orang lain dan tidak melakukan hal yang menyinggung perasaan.
Sedemikian pentingnya menghargai orang lain, Rasulullah Saw sampai mendapat teguran langsung dari Allah ketika sempat menyinggung seseorang.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Urwah, suatu ketika Abdullah bin Ummi Maktum datang menghadap Rasulullah Saw sambil berkata: "Ya Muhammad, tolong ajari aku!" Pada saat itu, Rasulullah Saw sedang berbincang-bincang dengan seorang pembesar. Rasulullah Saw berpaling muka dari Ibnu Ummi Maktum dan menghadap pembesar itu.
Melihat seperti itu Ibnu Ummi Maktum berkata pada sahabat yang lain: "Wahai Fulan, apakah ada yang salah dengan ucapanku?" Sahabat itu berkata: "Demi darahku, aku tidak melihat ada yang salah dengan ucapanmu." Maka kemudian turunlah surah Abasa ayat 1 dan 2 "Ia bermuka masam dan berpaling. Ketika datang padanya seorang yang buta." (HR Malik)
Di belahan bumi manapun, orang yang memiliki kedudukan sangat dihargai oleh masyarakat. Sehingga menjadi amat lumrah, jika seorang dengan pangkat tinggi memperoleh perlakuan terbaik dari siapa saja.
Namun tidak demikian halnya dalam pandangan Allah SWT. Allah tidak membeda-bedakan manusia berdasarkan pangkat. Yang membedakan manusia di sisi Allah hanyalah tingkat ketakwaan. Siapapun ia, meski dalam strata sosial bukan termasuk golongan teratas, ia berhak menyandang predikat mulia di hadapan Allah jika tingkat ketakwaannya paling tinggi.

Artinya: "sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa" (QS Al-Hujurat: 13)
Jabatan, pangkat ataupun kedudukan tidak menjadi jaminan atas mulianya seseorang. Sebaliknya, kemiskinan dan kefakiran seseorang tidak pula menjadi tolok ukur atas suatu ketakwaan.
"Dan janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dialah (Allah) yang paling mengetahui siapa di antara kalian yang paling bertakwa." (QS An-Najm: 32)
Ayat di atas menerangkan hak prerogatif Allah dalam menentukan status seorang hamba. Ini artinya, menghargai orang lain adalah hal yang sangat penting, karena tidak ada seorang pun yang berhak mengklaim dirinya lebih baik dari yang lain, baik tingkat kemuliaan maupun ketakwaan.
Wallahu A'lam

Darus Sunnah, 11 Februari 2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar