Selasa, 01 Desember 2009

IBADAH SOSIAL


oleh: Luthfi Arif

Sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT untuk beribadah kepada-Nya, setiap muslim yang mengaku beriman diwajibkan menaati segala ketentuan yang Allah tetapkan baginya. Di antara ibadah-ibadah yang diwajibkannya adalah menunaikan ibadah haji bagi mereka yang diberikan kemampuan untuk melaksanakannya.

“Setiap orang yang telah mampu diwajibkan menunaikan ibadah haji karena Allah SWT" (QS Ali Imran: 97)

Ibadah haji merupakan ibadah yang sangat agung. Sebuah ibadah di mana sebagian kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia berkumpul di satu tempat, Makkah al-Mukarramah, mengumandangkan takbir, tahlil, dan tahmid. Mereka menyerukan talbiyah, sebagai bukti pemenuhan panggilan Allah dan mengagungkan kebesaran Allah. “Demikianlah (perintah Allah). Dan orang yang mengagungkan tanda-tanda kebesaran Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwan hati.” (QS Al-Hajj: 32)

Dalam memenuhi panggilan Allah, berjuta-juta kaum muslimin dari berbagai suku bangsa, martabat, kedudukan, strata, dan status sama-sama berkumpul berpanas-panasan di bawah terik matahari. Tak ada perbedaan antara kaya dan miskin., raja dengan rakyatnya, majikan dengan pekerjanya, atau golongan satu dengan golongan lainnya. Mereka semua berpakaian sama, memiliki niat yang sama, mengharap ridha Allah. Mereka adalah tamu-tamu Allah yang sedang bertaqarrub (mendekatkan diri kepada Allah).

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (QS Al-Hajj: 20)

Selain dari sisi ibadah sebagai bentuk loyalitas seorang hamba kepada Allah, ibadah haji juga merupakan simbol persatuan umat Islam. Dengan ibadah haji, perbedaan dan ketidakseragaman warna kulit, daerah, bahasa, dan lain-lain, dapat dikesampingkan. Tak ada kesenjangan sosial dilihat dari sudut manapun. Bahwa yang menjadi perbedaan hanyalah tingkat ketakwaan kepada Allah. “Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah di antara kamu sekalian adalah orang yang paling bertakwa” (QS Al-Hujurat: 13)

Hal ini menunjukkan betapa perbedaan yang hanya tampak luar tidak menjadi landasan untuk tidak menciptakan ukhuwah islamiyah yang kokoh. Ikatan akidah yang kuat menjadi tali kekang bagi persatuan dan kesatuan umat Islam.

Di belahan bumi lain, kaum muslimin yang diberikan keluasan rezeki oleh Allah diperintahkan untuk menunaikan ibadah kurban sebagai tanda syukur kepada Allah atas segala nikmat yang diperolehnya.

Ibadah kurban menjadi sangat penting karena selain membuktikan secara nyata ketaatan kaum muslimin kepada Allah, kurban juga menjadi tolok ukur seseorang dalam membina hubungan sosial dan memperhatikan kesejahteraan saudaranya sesama muslim. Sehingga tak heran jika kemudian Rasulullah memberikan ancaman bagi orang yang tidak mau melaksanakan kurban untuk tidak menginjakkan kaki di masjid Nabi.

“Orang yang telah memiliki kemampuan untuk berkurban tetapi tidak melakukannya, maka jangan sekali-kali ia mendekati tempat salat kami.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Semoga kita senantiasa menjadi hamba Allah yang memiliki kepekaan sosial yang tinggi.

Wallahu A'lam.[]

Darus Sunnah, 25 Desember 2006

Tidak ada komentar:

Posting Komentar