Rabu, 16 Desember 2009

Menyambut Semangat Tahun Baru: Refleksi Tiga Dimensi Waktu

Seorang sahabat dekat saya, Hiznu Shobar, mengirimkan posting tentang Tahun Baru yang sangat mencerahkan. Saya share dengan teman-teman pembaca. Semoga bermanfaat.

Salam
Luthfi

MENYAMBUT SEMANGAT TAHUN BARU; REFLEKSI TIGA DIMENSI WAKTU
oleh Hiznu Shobar*


Tanpa terasa bahwa perputaran roda kehidupan telah bergulir begitu lama. Empat belas abad lebih menurut hitungan kalender Islam (Hijriyah) dan dua puluh abad lebih menurut hitungan kalender masehi. Satu demi satu perubahan kian terjadi. Ada anak kecil, lambat laun ia saat ini telah menjadi remaja. Ada pula yang kini telah menjadi dewasa padahal sebelumnya ia masih remaja bahkan terbilang masih anak-anak. Perubahan itu benar-benar terjadi. Hingga adanya seorang bayi yang lahir dan ada di antara kita meninggalkan dunia yang fana ini. Dan itu semua tidak lepas dari urusan waktu. Ya, waktu. Waktu yang mempertemukan kita dengan dunia dan ia pula yang memisahkannya.

Eksistensi kita di dunia ini sesungguhnya tidak akan lepas dari sebuah perputaran waktu. Dan waktu tersebut seolah-olah berbicara mengenai siapa kita dan apa saja yang telah kita lakukan. Dan waktu, saat berjalan ia tidak pernah menengok ke belakang. Ia tetap terus melaju tanpa peduli apakah kita berbuat sesuatu atau tidak sama sekali. Bahkan, salah satu ungkapan dalam sastra Arab disebutkan ‘‘al-Waqtu ka al-Saif in lam taqtho’uhu qotho’aka’’, waktu ibarat sebuah pedang, jika kita tidak bisa menaklukkannya atau menguasai untuk menggunakannya, maka kita akan mati terbunuh oleh waktu kita sendiri. Maka tidak heran jika ada orang yang bisa sukses dengan waktu yang ia miliki, tetapi di sisi lain ada pula orang yang gagal dengan waktunya. Padahal Allah SWT memberikan alokasi waktu yang sama pada orang yang sukses dan orang yang gagal tersebut, yaitu dua puluh empat jam sehari, tidak kurang dan tidak lebih.

Dalam dimensinya, waktu dibagi menjadi 3 (tiga) masa. Dan ketiga dimensi tersebut patut kita renungkan untuk kita pelajari dan kita ambil sebuah hikmah agar kehidupan kita bisa menjadi lebih baik.

Masa lalu
Setiap kita yang telah hadir di dunia ini, terutama saat kita sudah mulai menapaki masa aqil baligh, tentunya mempunyai masa lalu. Masa lalu adalah masa yang sudah lewat dari kehidupan kita. Namun, meskipun sudah berlalu bukan berarti tidak bisa kita renungkan. Bahkan, sejatinya orang muslim yang pandai mengambil hikmah dari masa lalunya ia tidak akan terjatuh pada lubang kegagalan untuk kedua kalinya. Akan tetapi ia mampu berbuat lebih baik dari sebelumnya. Bahkan ia mampu meraih keberhasilan dengan cara mempelajari apa yang telah ia lewati selama ini. Karena dengan ia menyadari akan tapak perjalanan masa lalunya, ia akan mengetahui apa saja kekuatan dan kelemahannya lalu ia mengevaluasinya (muhasabah) untuk ia perbaiki di kemudian hari.

Masa sekarang
Salah satu orang bijak berkata ‘Your day is today’. Ya! Benar sekali bahwa harimu adalah hari ini. Apa yang bisa kita lakukan hari ini adalah hari kita yang penuh dengan makna. Dan bisa jadi apa yang kita lakukan saat ini mengandung arti menciptakan masa depan kita sendiri. Hal itu tidak lain karena apa yang kita taburkan saat ini akan kita tuai di masa yang akan datang. Melakukan yang terbaik saat ini berarti menginginkan kebaikan yang lebih di masa yang akan datang. Berbuat sesuatu saat ini berarti kita menciptakan karakter kita sendiri. Dan karena hidup adalah perbuatan maka diam tak bergerak itu identik dengan kematian. Seseorang yang selalu menghabiskan waktunya dengan sungguh-sungguh akan sangat berbeda hasilnya dengan orang yang selalu lalai dalam mengisi waktunya (QS. al-Ashr [103]: 2-3).

Masa akan datang
Ini adalah masa perkiraan (prediction). Masa di mana kita semua tidak ada yang pernah tahu apa yang akan terjadi. Meskipun hanya satu detik kemudian. Masa depan tidak pernah bisa kita pastikan namun bisa kita prediksikan dengan suatu perbuatan konkrit masa sekarang. ‘Masa depan adalah apa yang Anda lakukan saat ini’ demikian salah seorang arif bernasihat. Sepatutnya, apa yang kita inginkan di masa yang akan datang harus bisa kita rencanakan saat ini kemudian kita melakukan persiapan dan berikutnya diiringi dengan sebuah usaha dan perbuatan yang mengarah kepada keinginan kita.

Maka, dalam momentum yang sangat baik ini alangkah baiknya kita merevitalisasi konsep hidup kita yang sudah ada dengan mengaktualisasikan diri kita pada sebuah kualitas hidup yang lebih bernilai. Ada kandungan semangat yang tumbuh dalam jiwa kita jika kita mampu merefleksikan ketiga dimensi waktu tersebut. Ada kandungan nilai positif yang lahir dalam hati kita saat kita mampu mengetahui sisi-sisi kekuatan dan kelemahan kita. Kita akan senantiasa mengevaluasi apa yang telah kita perbuat di masa lalu, kita pun akan selalu mawas diri dan akan sangat berhati-hati akan apa yang kita perbuat.

Suatu keniscayaan yang hebat jika setiap kita mampu menyadari secara berkesinambungan apa yang telah kita perbuat di masa lalu, apa yang sedang kita perbuat saat ini dan apa yang akan kita perbuat di masa yang akan datang. Setidaknya kesadaran tersebut akan menjadi standar dinamika kehidupan kita.

Ketiga dimensi waktu yang kita bicarakan sesungguhnya akan menjadi cermin yang memiliki kualitas kontrol (quality of control) yang bisa kita jadikan sandaran dan alat evaluasi.

Semangat tahun baru Hijriah dan Masehi yang kita hadapi saat ini seharusnya bisa menjadi sebuah kristalisasi dari ketiga dimensi yang kita renungkan tadi. Dengan adanya tahun baru tersebut, setidaknya kita mampu mengaktifkan kembali rasa kesadaran kita yang mungkin selama ini sempat ‘mati’ karena kesibukan aktivitas sehari-hari. Padahal, dalam salah satu sejarah Islam disebutkan bahwa ada salah satu sahabat yang mendapatkan jaminan surga bukan hanya karena dia mampu istiqomah dalam amalan ibadah kesehariannya, tapi juga ia selalu merenungi apa yang telah dia lakukannya sebelum ia tidur. Selamat berbuat untuk menyambut semangat Tahun Baru!

*Alumni Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Darus Sunnah High Institute of Hadith Sciences. Pernah menjadi juara III Lomba Debat Bahasa Arab Universitas se-Asia Tenggara

Selasa, 01 Desember 2009

ARTI KEBERANIAN


oleh: Luthfi Arif

Dalam sebuah hikayat, yang mengisahkan Siti Masyithoh,
tukang sisir putri Firaun, disebutkan bahwa ia adalah
wanita yang begitu gigih mempertahankan keimanannya
pada Allah. Meskipun harus mati dengan terjun ke dalam
golakan minyak panas, ia tidak gentar. Sebuah
keberanian mempertahankan kebenaran menjadi
landasannya melakukan itu semua.
Sebuah kebenaran tak akan pernah terlihat tanpa ada
yang menampakkannya. Menampakkan kebenaran
sejelas-jelasnya tidaklah mudah. Begitu banyak yang
harus dilakukan. Butuh keberanian yang cukup besar.
Sebuah keberanian tak muncul dengan sendirinya. Sifat
ini bagaikan sebuah tanaman yang harus selalu dipupuk
agar tumbuh dan akarnya kuat. Tatkala keberanian telah
tumbuh dan berakar kuat, maka seseorang akan berani
menghadapi lawan dan menentang halangan dan rintangan.
Ia pun akan sanggup mengatakan yang haq adalah haq,
dan yang batil adalah batil.
Keberanian adalah kunci dari segala kesuksesan. Ia
juga motivator seseorang untuk giat berusaha. Dengan
mengubur dalam-dalam sifat pengecut dan mengganti
dengan sifat pemberani, segala usaha akan lebih mudah
dijalankan. Tak akan pernah terbersit kata mundur,
meskipun hanya sejenak, seandainya usaha yang
dilakukannya belum mencapai tujuan.
Dengan keberanian pula, ia akan siap dan mampu
menghadapi segala persoalan dengan tenang. Karena,
solusi permasalahan datang dari jiwa yang tenang dan
siap menghadapinya. Mental pengecut hanya mampu lari
dari permasalahan, bukan menghadapinya.
Akan tetapi, keberanian bukanlah hanya persoalan
menghadapi, melawan, dan menantang. Keberanian adalah
proporsional. Keberanian adalah berusaha menjunjung
kebenaran dengan cara apa pun sekuat tenaga. Sekira
suatu permasalahan perlu dihadapi, dilawan, atau
ditentang, maka hadapi, lawan, dan tentanglah. Namun,
seandainya semua itu mengakibatkan keburukan yang
lebih besar, maka menahan diri akan lebih baik. Karena
menahan diri bukan berarti kalah. Dan mundur tidak
melulu bermakna takut. Mempertahankan kebenaran adalah
tujuan utama.
Efek dari keberanian bukan hanya untuk diri sendiri.
Dengan keberanian, seseorang mampu mengembalikan orang
sesat ke jalan yang lurus, membuat orang yang zalim
menjadi adil, dan memberikan petunjuk kepada umat agar
tetap konsisten di jalan kebenaran. Seandainya
keberanian ini hilang, maka kezaliman akan merajalela,
kejahilan semakin bertambah, dan umat akan berjalan
dalam koridor-koridor kesesatan.
Dalam berbagai kesempatan, Rasulullah SAW selalu
mengajarkan umatnya untuk selalu berani, terlebih
untuk berjuang di jalan Allah. Ia juga selalu memohon
agar dijauhkan dari sifat penakut. Sebagaimana
penggalan hadisnya “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu
dari sifat penakut dan bakhil.” (H.R. Bukhari).
Karenanya, hiduplah selalu dengan keberanian. Jauhi
sifat penakut dan janganlah menjadi pengecut. Penakut
dan pengecut hanyalah sifat orang bodoh. Keberanianlah
sifat mukmin sejati. Wallahu A’lam.[]

Darus Sunnah, 29 Januari 2006

MENGHINDARI SIFAT PESIMIS


oleh: Luthfi Arif

Manusia, dalam menghadapi hidup dan kehidupannya,
memiliki dua sifat, optimis dan pesimis. Sifat optimis
didefinisikan sebagai sikap seseorang yang selalu
memandang adanya harapan baik. Dan pesimis adalah
sebaliknya, yaitu sikap seseorang yang selalu
berpikiran bahwa kebaikan tidak pernah berpihak
padanya.
Dua sifat ini sangat memengaruhi kehidupan seseorang.
Orang yang optimis akan selalu melihat hidup dari sisi
positif. Dalam memandang suatu permasalahan, ia akan
cenderung memerhatikan kebaikan-kebaikan yang
terkandung di dalamnya. Dan harapan-harapannya tentang
keberhasilan akan membuat pikirannya selalu maju ke
depan. Baginya kegagalan dan kesulitan hanyalah
sekedar penyakit ringan yang tidak terlalu berbahaya.
Di balik itu semua tersimpan kemudahan dalam
memperoleh keberhasilan yang diidamkan. “Sesungguhnya
dibalik kesulitan itu ada kemudahan.” (Q.S.
Al-Insyirah: 6).
Sedangkan orang yang pesimis, melihat hidup hanya dari
sisi buruknya saja. Baginya kebaikan tak pernah ada.
Dan kegagalan bagaikan sebuah harimau dengan mulut
menganga yang siap menerkam. Orang yang pesimis tidak
akan mampu berpikir maju. Jika mendapatkan cobaan,
meskipun ringan, ia akan selalu berkeluh kesah.
Padahal, dalam surah Al-Ma’arij ayat 22, orang yang
berkeluh kesah ketika ditimpa kegagalan hanyalah orang
yang tidak salat atau tidak meresapi salatnya. Dan ini
merupakan ciri orang kafir.
Oleh karena itu, dalam Alquran, orang yang pesimis
diserupakan dengan orang kafir. Karena orang yang
pesimis secara tidak langsung menjustifikasi bahwa
Allah tidak memberinya rahmat, tidak mengasihinya.
“Janganlah kalian pesimis dari rahmat Allah SWT.
Sesungguhnya orang yang pesimis akan rahmat Allah SWT
hanyalah orang kafir.” (Q.S. Yusuf: 87).
Pada dasarnya, pesimis adalah penyakit hati yang dapat
menjangkit setiap orang. Penyakit ini dapat
dihilangkan dengan membersihkan hati dari hal-hal
buruk penyebab timbulnya sifat pesimis.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan agar kita
terhindar dari sifat ini.
Pertama, menghilangkan sifat tidak percaya diri. Sikap
rendah diri dan kurang percaya diri dapat menyebabkan
timbulnya sifat pesimis. Dengan merenungi bahwa Allah
menciptakan manusia secara sempurna, sifat pesimis
dapat dikikis. “Sungguh Kami telah ciptakan manusia
dalam bentuk yang paling sempurna.” (Q.S. At-Tin: 4)
Kedua, meyakini bahwa setiap manusia diciptakan Allah
sesuai kadar masing-masing sehingga potensi yang
dimiliki pun berbeda-beda. “Sesungguhnya kami
menciptakan segala sesuatu sesuai dengan kadarnya.”
(Q.S. Al-Qamar: 49).
Ketiga, memperbaiki niat dan memperkuat ‘azam. Niat
dan ‘azam timbul dari dalam hati. Jika niat telah
bersih dan ‘azam semakin kokoh, maka optimisme akan
muncul dengan sendirinya.
Dengan selalu menjalankan hal-hal di atas, seseorang
akan selalu berprasangka baik terhadap Allah SWT dan
setiap pekerjaannya selalu diikuti dengan niat dan
harapan yang baik.
Semoga kita selalu terhindar dari sifat pesimis.
Wallahu A’lam.[]

Darus Sunnah, 29 Januari 2006

KOMUNIKASI ORANG TUA DAN ANAK


oleh: Luthfi Arif

Agar tercipta hubungan yang harmonis antara orang tua dan anak, diperlukan komunikasi yang baik dari dua arah. Salah paham yang berulang-ulang dan berujung pada renggangnya tali silaturahim antara orang tua dan anak sering kali disebabkan miskomunikasi.
Islam menyadari arti penting komunikasi. Oleh karenanya, aturan-aturan hubungan orang tua dan anak dalam Islam, menganjurkan untuk menjalin komunikasi yang baik.
Banyak kisah yang dapat kita tarik sebagai contoh. Nabi Ibrahim, misalnya. Ketika mendapatkan titah untuk menyembelih, putranya, Nabi Ismail, ia meminta pendapatnya terlebih dahulu meskipun itu adalah perintah Allah SWT kepadanya.
"Maka tatkala anak itu (Ismail) dewasa dan telah mampu bekerja bersamanya, Ibrahim berkata: "Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Apa tanggapanmu?" Ia menjawab: "Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau mendapatkanku termasuk golongan orang-orang yang sabar." (QS Ash-Shaffat: 102).
Akhir-akhir ini, sering kita dengar perselisihan antara orang tua, ibu atau ayah, dengan anaknya. Yang paling sering menjadi masalah utama penyebab perselisihan itu adalah kesalahpahaman dari kedua belah pihak, atau berbeda pandangan dalam suatu hal. Dan seringkali dalam perselisihan itu terlontar sumpah serapah dan kata-kata yang tidak semestinya diucapkan. Padahal, ucapan orang tua untuk anak, baik atau buruk, tak jarang dikabulkan oleh Allah SWT secara langsung.
Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan Abu Hurairah disebutkan, suatu ketika seorang ibu memanggil anaknya, Juraij, yang sedang beribadah di shauma'ah (tempat ibadah khusus). "Hai, Juraij!" demikian panggilnya.
Ketika itu Juraij sedang salat, sehingga ia merasa bingung antara meneruskan ibadahnya atau menjawab panggilan ibunya.
Setelah beberapa lama tak ada jawaban, ibu itu berdoa "Ya Allah, janganlah engkau matikan Juraij sampai ia berurusan dengan wanita pezina!"
Di sekitar shauma'ah Juraij, ada seorang gadis yang biasa mengembalakan kambingnya. Beberapa waktu berselang, gadis itu hamil lalu melahirkan. Ia pun ditanya oleh masyarakat: "Siapa ayah bayi ini?" Ia berkata: "Juraij." Namun, Juraij menyangkal bahwa itu adalah anaknya.
Akhirnya, dengan kekuasaan Allah, anak yang masih menyusu itu berkata "Bukan Juraij. Ayahku adalah seorang laki-laki pengembala." (HR Bukhari).
Hadis Abu Hurairah di atas secara jelas menggambarkan keampuhan ucapan orang tua, terutama ibu. Betapapun sepelenya perbuatan anak, ketika ternyata hal itu menyakiti hati orang tua, maka balasannya sesuai dengan yang diharapkan, bagaimanapun buruknya harapan itu. Dalam hadis di atas dicontohkan dengan Juraij yang tidak menjawab panggilan ibunya karena mementingkan ibadah.
Untuk menghindari akibat buruk dari perselisihan dan doa yang tidak baik, komunikasi harus tetap terjalin. Anak juga harus mampu menempatkan posisi yang tepat di hadapan orang tua dan berakhlak sesuai dengan yang ditetapkan dalam Alquran.
"Janganlah kamu mengatakan kepada orang tua "ah", janganlah membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Rendahkanlah dirimu di hadapan mereka karena kasih sayang…" (Q.S. Al-Isra: 23-24). Wallahu A'lam.

Darus Sunnah, 10 Februari 2006

MEMELIHARA TIGA UNSUR


oleh: Luthfi Arif

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr, suatu ketika Rasulullah SAW bersabda "Aku akan menjadi orang yang paling acuh dengan perbuatanku jika aku melakukan tiga hal; meminum penawar racun, mengalungkan jimat, dan melantunkan syair" (HR Ahmad dan Abu Dawud)
Hadis di atas menjelaskan tiga hal yang dilarang Rasulullah SAW. Karena jika dilakukan, maka akan sama halnya dengan orang fasik yang melakukan segala sesuatu tanpa pertimbangan agama. Tak peduli apakah perbuatan itu diperintah atau dilarang syariat Islam.
Tiga hal itu adalah:
Pertama, meminum penawar racun. Imam Ibnu al-Atsir berpendapat bahwa penawar racun yang dilarang adalah yang mengandung benda haram dan najis seperti darah ular atau khamr. Oleh karenanya tidak ada masalah mengkonsumsi penawar racun yang terbuat dari bahan baku halal.
Kedua, memakai jimat. Dalam hal ini beberapa ulama, di antaranya al-Khaththabi, berpendapat bahwa jimat yang dilarang adalah jimat-jimat Jahiliyah seperti kuku atau taring binatang buas.
Ketiga, mendendangkan syair. Imam Abadi dalam kitab 'Aun al-Ma'bud menjelaskan bahwa syair-syair yang sengaja dibuat untuk dilantunkan adalah haram. Sedangkan jika dibuat untuk sekadar melepas penat diperbolehkan.
Betapapun beragamnya pendapat ulama, satu hal yang harus diperhatikan adalah kandungan dan maksud hadis tersebut. Tujuan Rasulullah SAW melarang tiga hal itu adalah untuk menjaga kesucian tiga unsur pokok pembentuk seorang muslim, yaitu akal, akidah, dan hati.
Ibarat komputer, akal adalah prosesor yang memuat program-program penting. Jika terkena virus, komputer akan rusak dan tidak dapat beroperasi. Jika benda haram dan najis terserap dalam tubuh seorang muslim, maka sedikit banyak akan mempengaruhi akal dan sikapnya. Kepribadian muslimnya dapat menjadi rusak.
Akidah adalah fondasi iman seseorang. Akidah yang salim mengantarkan seorang muslim kepada keyakinan yang teguh terhadap kekuatan sang Khalik, Allah SWT. Menggunakan jimat berarti meyakini adanya kekuatan lain selain Allah SWT. Ini adalah kemusyrikan. "Di antara tujuh hal yang akan membinasakan (di hari kiamat) adalah engkau menyekutukan Allah SWT, padahal ia telah menciptakanmu…" (HR Bukhari)
Dalam Alquran, Allah SWT berfirman "Kami tidak pernah mengajari (Muhammad) syair-syair. Dan memang tidak layak baginya." (QS Yasin: 69). Syair dapat membuat orang yang mendendangkannya terlena. Hati yang dipenuhi syair akan lalai dari Allah SWT. Oleh karenanya, Rasulullah SAW melarang mendendangkan syair. "Lebih baik hati seseorang dipenuhi oleh nanah, daripada dipenuhi syair." (HR Bukhari)
Menghindari tiga hal di atas berarti menjaga tiga unsur penting dalam kehidupan. Apabila kesemuanya telah terjaga dengan baik, maka akan tercipta ketenangan jiwa dan ibadah. Kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat pun dapat terwujud. Wallahu A'lam

Darus Sunnah, 20 April 2006

MENANGIS TAUBAT


oleh: Luthfi Arif

Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, siapapun dia, apapun derajatnya. Bahkan, para nabi utusan Allah SWT pun melakukan kesalahan. Bedanya, kekasih-kekasih Allah itu langsung mendapat teguran dari Allah SWT ketika khilaf, dan menyesali dosanya. Sedangkan manusia biasa, belum tentu.
Nabi Adam as misalnya. Tatkala ia dan istrinya, Hawwa, memakan buah larangan, Allah SWT langsung menegur mereka dengan menanggalkan penutup tubuh mereka dan mengeluarkan mereka dari surga. Dalam penyesalannya, Nabi Adam as. menangis dan berdoa, “Tuhan, kami telah menzalimi diri sendiri. Andai Engkau enggan mengampuni kesalahan kami dan mengasihi kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS Al-A’raf: 23)
Demikian halnya dengan Nabi Yunus as. Ketika ia murka atas keengganan kaumnya menerima dakwahnya, Allah langsung menegurnya dengan ditenggelamkan di lautan dan ditelan ikan paus. Dalam kesendiriannya di lambung paus yang gelap gulita itu, Nabi Yunus menangis menyesali dosanya, “Ya Allah! Tiada tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Aku benar-benar termasuk orang-orang yang zalim!” (QS Al-Anbiya: 87).
Tak ada manusia yang luput dari kesalahan dan dosa. Dosa dan kesalahan ini akan menghantarkannya pada azab Allah. Namun Allah SWT Maha Pengasih dan Penyayang. Allah tidak akan menyiksa hamba-Nya yang berbuat salah sedangkan ia menangis menyesali dosanya dan berjanji tidak mengulangi perbuatannya.
Alangkah beruntungnya orang yang bertaubat dan menyesali kesalahan yang pernah dilakukan sampai meneteskan air mata. Allah telah persiapkan untuknya naungan di hari kiamat kelak. “Di antara orang-orang yang dinaungi pada hari kiamat adalah seseorang yang berkhalwat di malam hari (untuk bertaubat), sampai kedua belah matanya mencucurkan air mata.” (HR Bukhari)
Lebih baik menangis untuk Allah saat ini di dunia, meminta ampunan dan kasih sayangnya, daripada tak dapat berhenti menangis di akhirat karena merasakan siksa. Ibnu Abbas pernah berkata, “Orang yang mengumbar tawa di dunia, niscaya mereka akan menangis tak henti-henti di akhirat kelak ketika dihisab.” (Tafsir Ibnu Katsir).
Namun, jangan hanya air mata penyesalan yang kita teteskan untuk Allah. Seorang mukmin akan mampu meneteskan air mata, atas segala karunia dan nikmat yang dianugerahkan Allah. Karena air mata merupakan salah satu wujud getaran hati.
Dan Allah telah menjanjikan kabar gembira berupa surga bagi mereka yang bergetar hatinya ketika mengingat Allah. “...berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk (kepada Allah). Yaitu orang-orang yang hatinya bergetar tatkala mengingat Allah...” (QS Al-Hajj : 34-35). Wallahu A’lam

Darus Sunnah, 18 Juni 2006

IDUL FITRI (TIDAK) BERARTI KEMBALI SUCI

oleh: Luthfi Arif


Sebentar lagi kita akan menghadapi hari raya Idul Fitri. Hari yang sangat dinanti-nantikan kaum muslimin setelah menjalankan ibadah puasa, bahkan dinantikan pula oleh yang tidak berpuasa. Bagi sebagian kalangan, kesan yang ditimbulkan dari hari raya ini adalah bersihnya segala kesalahan dan dosa yang pernah dilakukan karena telah beribadah sebulan penuh, telah menang melawan hawa nafsu, dan bermaafan pada orang lain ketika Idul Fitri. Dan media massa , baik cetak maupun elektronik, selalu mengartikan Idul Fitri dengan ‘Hari Kesucian’.
Namun tepatkah jika Idul Fitri diartikan sebagai ‘Hari Kesucian’ dimana orang-orang yang berpuasa menjadi suci tanpa dosa, seperti bayi yang baru lahir. Putih dan bersih layaknya kertas yang belum pernah ditulisi?

Kata ‘Fithri’ dan Definisi Idul Fitri
Secara kebahasaan, Idul Fitri terbentuk dari dua kata Bahasa Arab, ‘Id dan Fithr. ‘Id berarti hari raya. Sedangkan fithr merupakan bentuk mashdar (kata kerja yang di-nomina-kan) dari fathara-yufthiru-fithr. Kata fithr memiliki banyak arti (atau disebut polisemi), di antaranya merobek, membelah, menciptakan, terbit, makan pagi, dan berbuka puasa.
Dr. Ibrahim Unais, dalam al-Mu’jam Al-Wasith, mengartikan fithr sebagai ifthar (berbuka puasa). Serupa dengan pendapat Louis Ma’luf Al-Yasu’i, pengarang kamus Al-Munjid, yang juga mengartikan fithr dengan ifthar. Dengan demikian, Idul Fitri adalah hari raya dimana setiap muslim tidak perlu lagi berpuasa, setiap orang diperbolehkan untuk makan dan minum setelah satu bulan lamanya berpuasa.
Definisi Idul Fitri ini juga telah disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw. dalam hadisnya.
“…Idul Fitri adalah hari orang-orang berbuka puasa (makan dan minum karena sudah tidak berpuasa lagi), Idul Adha adalah hari orang-orang menyembelih hewan kurban…” (H.R. Al-Tirmidzi)
Lalu mengapa banyak yang menyebut Idul Fitri sebagai hari kesucian? Dalam asumsi kami, pemaknaan Idul Fitri dengan hari kesucian ini dinisbatkan pada kata fithrfithrah. Sebagai sebab dari pemaknaan Idul Fitri yang dalam berbagai kesempatan, baik dalam majlis taklim maupun kultum, dimaknai sebagai kembali kepada fithrah, kembali suci.
Yang menjadi acuan adalah hadis tentang anak yang baru dilahirkan, yang menyebutkan kata fithrah.
"Setiap anak dilahirkan sesuai fithrahnya, maka orangtuanya yang membuat ia menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi." (H.R. Bukhari dari Abu Hurairah)
Banyak yang memahami fithrah dalam hadis di atas dengan kesucian. Karena, bayi yang baru lahir itu suci, belum melakukan kemaksiatan. Atau, bayi yang baru lahir itu polos, tidak tahu apa-apa. Sehingga jika di kemudian hari diajari dengan doktrin apapun akan menurut saja. Oleh karenanya, Idul Fitri diartikan kembali kepada fitrah, kembali suci seperti bayi yang baru lahir.

Makna Fitrah
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath al-Bari, kitab syarah (kitab ulasan) dari Shahih Al-Bukhari, memaknai kata ‘fithrah’ dalam hadis Bukhari di atas sebagai al-Millah, al-Islam (agama Islam). Hadis ini dihubungkan dengan firman Allah dalam surah Ar-Rum ayat 30,
Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.(Q.S. Ar-Rum [30]: 30)
Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim – atau yang biasa dikenal dengan Tafsir Ibnu Katsir – menafsirkan kata fithrah dalam ayat di atas dengan fithrah salimah, yaiitu Allah menciptakan manusia dalam keadaan mengetahui-Nya dan mengesakan-Nya (ma’rifatuhu wa tauhiduhu).
Dalam al-Mu’jam al-Wasith dan Al-Munjid, hanya ada dua definisi, fithrah yang berarti zakat wajib yang diberikan pada bulan Ramadhan, dan keadaan manusia ketika pertama kali diciptakan dalam keadaan Islam, keadaan seseorang, sebelum ia dilahirkan, yang meyakini bahwa Allah adalah tuhannya. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-A’raf ayat 172, tentang kesaksian anak-anak Adam (manusia) sebelum mereka dilahirkan akan kesiapan mereka beriman, mengakui bahwa ada Tuhan yang menciptakan mereka.
“…Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka (anak-anak Adam) menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi…” (Q.S. Al-A’raf [7]: 172)
Dari keterangan-keterangan di atas, fithrah diartikan dengan agama Allah, tauhid, ma’rifat, dan iman kepada Allah.
Fithrah juga dapat diartikan dengan sunnah Rasul. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, disebutkan bahwa memelihara kebersihan tubuh merupakan fithrah.
“ Ada lima hal yang termasuk fitrah, yaiitu khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan mencukur kumis.” (H.R. Muslim)
Imam Al-Nawawi dalam Syarh (kitab ulasan) Shahih Muslim, menjelaskan fitrah dalam hadis tersebut adalah sunah para rasul terdahulu yang berlanjut sampai pada Nabi Muhammad saw..
Jadi dalam berbagai keterangan, tidak didapati kata ‘fitrah’ yang bermakna kesucian.

Bahaya Salah Memaknai
Ada sebuah pepatah masyhur yang berbunyi ‘karena nila setitik, rusak susu sebelanga’. Di kalangan masyarakat Indonesia , pepatah ini sangatlah mafhum. Pepatah ini memiliki makna yang sangat dalam. Sebuah kesalahan, meskipun kecil, dapat menghancurkan seluruh kebaikan. Atau, dapat juga berarti kesalahan yang sangat kecil dapat menciptakan kerusakan yang sangat besar.
Orang yang menganggap bahwa selepas melaksanakan ibadah puasa ia menjadi suci sesungguhnya tidaklah tepat. Bahkan bisa membuat orang lain merasa hanya perlu memperbaiki kesalahannya setiap puasa dan Idul Fitri saja. Padahal klaim kesucian jiwa seseorang hanya dapat dilakukan oleh Allah swt. Ini merupakan hak prerogatif Allah saja. Sebagaimana ditegaskan Allah dalam Surah Al-Najm ayat 32.
“…Maka janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dia-lah (Allah) yang maha mengetahui orang yang bertakwa.” (Q.S. Al-Najm [53]: 32)
Manusia beribadah kepada Allah karena memang itulah tugasnya. Dan memang ibadahlah yang menjadi kewajiban manusia hidup di dunia (Q.S. Al-Dzariyat [51]: 56), bukan yang lainnya. Atau, dalam tingkatan keimanan tertentu, ibadah adalah sebuah kebutuhan.
Demikian halnya dengan ibadah puasa Ramadhan. Puasa adalah kewajiban. Namun, tetap saja tidak ada yang dapat mengetahui puasa seseorang diterima atau tidak, kecuali Allah swt. Disebutkan dalam hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa yang akan menilai puasa dan memberi ganjaran pahala hanyalah Allah.
“Puasa itu untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan memberikan balasannya.” (H.R. Muslim)
Keterangan hadis tersebut sangat jelas, bahwa tak ada satu makhluk pun di dunia ini yang mampu menilai puasanya. Sehingga amatlah tidak layak seorang makhluk yang hina mengklaim diri sebagai orang yang suci.
Dalam sebuah hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim, dan Imam Ahmad, disebutkan bahwa ketika manusia dibangkitkan pada hari Kiamat, mereka berlari tak tentu arah mencari penolong yang bisa memberikan syafaat dan mengurangi siksa akhirat.
Mereka menemui Nabi Adam, namun ia enggan karena merasa malu pada Allah karena pernah melanggar memakan buah terlarang di surga. Mereka mendatangi Nabi Ibrahim, namun ia juga menolak karena ia pernah berbohong ketika ia menghancurkan berhala ayahnya. Ia mengatakan bahwa yang menghancurkannya adalah berhala yang paling besar. Mereka terus menerus menemui para Nabi sampai akhirnya bertemu dengan Nabi Muhammad dan mereka pun diberi syafaat.
Ringkasan hadis di atas menunjukkan bahwa hamba yang saleh akan selalu mengingat kesalahan dan dosa. Meskipun dosa itu sangat kecil. Sebaliknya, jika melakukan kebaikan, maka ia akan lupa. Karena baginya, kebaikan yang dilakukan sangatlah kecil di mata Allah. Bahkan, para utusan Allah yang telah menyebarkan agama Allah pun selalu ingat akan kesalahan-kesalahan masa lampau mereka.
Jadi, tidak tepat jika ada pendapat bahwa setelah Idul Fitri orang yang berpuasa menjadi suci seperti bayi yang baru lahir. Karena Idul Fitri bukanlah kembali kepada kesucian, tetapi hari raya diperbolehkan makan kembali setelah berpuasa. Wallahu A’lam

Darus Sunnah, 8 Oktober 2006

PERNIKAHAN*


oleh: Luthfi Arif

Salah satu tujuan dari pernikahan adalah menegakkan salah satu maqashid al-syariah (tujuan syariah) yang bersifat dharuriyat (primer), yaitu memelihara keturunan (hifzh al-nasl).

Pernikahan juga merupakan ibadah yang amat sangat indah. Sebuah ibadah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW sebagai sarana untuk memelihara kelestarian umat. “Menikah dan perbanyaklah keturunan kalian. Sesungguhnya pada hari kiamat aku akan membanggakan umat-umat yang kalian pelihara.” (H.R. Al-Baihaqi).

Sedemikian pentingnya pernikahan, sehingga ikatan pernikahan dalam Alquran disebut sebagai janji yang sangat kuat (mitsaqan ghalizha).(QS An-Nisa: 21). Mereka yang telah mengikatkan janji dalam pernikahan, diperintahkan untuk selalu menjaganya.

Sebuah pernikahan akan memberikan kedamaian dan ketenangan hidup yang didambakan setiap insan, jika dilandasi dengan rasa cinta dan kasih sayang. Karena pada dasarnya, Allah SWT menciptakan pasangan hidup sebagai tempat manusia menemukan ketenangan dan kedamaian hati. “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah diciptakannya untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tenteram bersamanya…” (Q.S. Ar-Rum: 21)

Dalam mengarungi bahtera rumah tangga, akan ada kisah-kisah romantis yang terjadi. Dan ini perlu ditiru, mengingat bahwa Rasulullah SAW juga termasuk pribadi yang romantis. Dalam sebuah hadis shahih diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW, ketika didera sakit karena kedinginan, tidur di pangkuan Aisyah agar merasa hangat dan nyaman. Aisyah memeluk Rasulullah SAW dengan erat sampai ia tertidur pulas dan merasa hangat. (HR. Al-Nasa’i). Untuk itu, umatnya pun seharusnya mampu meneladani sifat ini.

Namun pada saat yang lain, pernikahan ibarat biduk yang berlayar di lautan luas. Ia akan didera ombak dan pasang surut gelombang. Suatu saat akan ada pasir-pasir halus atau bahkan karang-karang tajam yang menyebabkan ketidaknyamanan.

Dalam kondisi seperti ini ajaran Islam menganjurkan agar masing-masing selalu menjaga kesabaran. Semua ini bertujuan agar mahligai rumah tangga tetap terjaga. Masing-masing dianjurkan untuk introspeksi diri dan mengingatkan satu sama lain agar menjadi mengerti masalah yang dialami dan mampu menyelesaikannya. “Dan perbaikilah interaksi kalian dengan istri-istri kalian. Dalam ketidaksukaan kalian pada mereka, barangkali Allah menjadikan banyak kebaikan di dalamnya.” (Q.S. An-Nisa: 19)

Dalam segala hal, introspeksi diri adalah suatu keharusan. Demikian pula dalam berumah tangga. Rumah tangga yang baik adalah yang dilandasi keterbukaan, saling percaya, dan saling mengingatkan. Menyikapi permasalahan dengan bijak, akan menjadi solusi permasalahan yang paling tepat dalam rumah tangga.

Allah tidak pernah menciptakan manusia dalam keadaan yang buruk. Dia menjadikan manusia dalam bentuk yang paling baik. (Q.S. At-Tin: 4). Segala kekurangan hanyalah terdapat dalam persepsi dan cara menyikapinya.

Dengan sikap menerima apa adanya, perasaan-perasaan negatif yang tumbuh sedikit demi sedikit terkikis. Dan, kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah yang selalu didambakan pun akan terwujud.

Wallahu A’lam.[]



*Tulisan ini terinspirasi ketika pertama kali dapat job sebagai MC kawinan. Meskipun sampai tulisan ini di-post saya belum menikah, bukan berarti saya tidak mengamalkan apa yang saya tulis. Semua ini akan saya pakai nanti, saat saya membina keluarga. Amiiin...

IBADAH SOSIAL


oleh: Luthfi Arif

Sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT untuk beribadah kepada-Nya, setiap muslim yang mengaku beriman diwajibkan menaati segala ketentuan yang Allah tetapkan baginya. Di antara ibadah-ibadah yang diwajibkannya adalah menunaikan ibadah haji bagi mereka yang diberikan kemampuan untuk melaksanakannya.

“Setiap orang yang telah mampu diwajibkan menunaikan ibadah haji karena Allah SWT" (QS Ali Imran: 97)

Ibadah haji merupakan ibadah yang sangat agung. Sebuah ibadah di mana sebagian kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia berkumpul di satu tempat, Makkah al-Mukarramah, mengumandangkan takbir, tahlil, dan tahmid. Mereka menyerukan talbiyah, sebagai bukti pemenuhan panggilan Allah dan mengagungkan kebesaran Allah. “Demikianlah (perintah Allah). Dan orang yang mengagungkan tanda-tanda kebesaran Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwan hati.” (QS Al-Hajj: 32)

Dalam memenuhi panggilan Allah, berjuta-juta kaum muslimin dari berbagai suku bangsa, martabat, kedudukan, strata, dan status sama-sama berkumpul berpanas-panasan di bawah terik matahari. Tak ada perbedaan antara kaya dan miskin., raja dengan rakyatnya, majikan dengan pekerjanya, atau golongan satu dengan golongan lainnya. Mereka semua berpakaian sama, memiliki niat yang sama, mengharap ridha Allah. Mereka adalah tamu-tamu Allah yang sedang bertaqarrub (mendekatkan diri kepada Allah).

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (QS Al-Hajj: 20)

Selain dari sisi ibadah sebagai bentuk loyalitas seorang hamba kepada Allah, ibadah haji juga merupakan simbol persatuan umat Islam. Dengan ibadah haji, perbedaan dan ketidakseragaman warna kulit, daerah, bahasa, dan lain-lain, dapat dikesampingkan. Tak ada kesenjangan sosial dilihat dari sudut manapun. Bahwa yang menjadi perbedaan hanyalah tingkat ketakwaan kepada Allah. “Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah di antara kamu sekalian adalah orang yang paling bertakwa” (QS Al-Hujurat: 13)

Hal ini menunjukkan betapa perbedaan yang hanya tampak luar tidak menjadi landasan untuk tidak menciptakan ukhuwah islamiyah yang kokoh. Ikatan akidah yang kuat menjadi tali kekang bagi persatuan dan kesatuan umat Islam.

Di belahan bumi lain, kaum muslimin yang diberikan keluasan rezeki oleh Allah diperintahkan untuk menunaikan ibadah kurban sebagai tanda syukur kepada Allah atas segala nikmat yang diperolehnya.

Ibadah kurban menjadi sangat penting karena selain membuktikan secara nyata ketaatan kaum muslimin kepada Allah, kurban juga menjadi tolok ukur seseorang dalam membina hubungan sosial dan memperhatikan kesejahteraan saudaranya sesama muslim. Sehingga tak heran jika kemudian Rasulullah memberikan ancaman bagi orang yang tidak mau melaksanakan kurban untuk tidak menginjakkan kaki di masjid Nabi.

“Orang yang telah memiliki kemampuan untuk berkurban tetapi tidak melakukannya, maka jangan sekali-kali ia mendekati tempat salat kami.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Semoga kita senantiasa menjadi hamba Allah yang memiliki kepekaan sosial yang tinggi.

Wallahu A'lam.[]

Darus Sunnah, 25 Desember 2006

MENGHARGAI ORANG LAIN

oleh: Luthfi Arif

Islam menekankan arti penting membina silaturrahim antar sesama muslim. Salah satu cara membina silaturrahim adalah berusaha menghargai orang lain dan tidak melakukan hal yang menyinggung perasaan.
Sedemikian pentingnya menghargai orang lain, Rasulullah Saw sampai mendapat teguran langsung dari Allah ketika sempat menyinggung seseorang.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Urwah, suatu ketika Abdullah bin Ummi Maktum datang menghadap Rasulullah Saw sambil berkata: "Ya Muhammad, tolong ajari aku!" Pada saat itu, Rasulullah Saw sedang berbincang-bincang dengan seorang pembesar. Rasulullah Saw berpaling muka dari Ibnu Ummi Maktum dan menghadap pembesar itu.
Melihat seperti itu Ibnu Ummi Maktum berkata pada sahabat yang lain: "Wahai Fulan, apakah ada yang salah dengan ucapanku?" Sahabat itu berkata: "Demi darahku, aku tidak melihat ada yang salah dengan ucapanmu." Maka kemudian turunlah surah Abasa ayat 1 dan 2 "Ia bermuka masam dan berpaling. Ketika datang padanya seorang yang buta." (HR Malik)
Di belahan bumi manapun, orang yang memiliki kedudukan sangat dihargai oleh masyarakat. Sehingga menjadi amat lumrah, jika seorang dengan pangkat tinggi memperoleh perlakuan terbaik dari siapa saja.
Namun tidak demikian halnya dalam pandangan Allah SWT. Allah tidak membeda-bedakan manusia berdasarkan pangkat. Yang membedakan manusia di sisi Allah hanyalah tingkat ketakwaan. Siapapun ia, meski dalam strata sosial bukan termasuk golongan teratas, ia berhak menyandang predikat mulia di hadapan Allah jika tingkat ketakwaannya paling tinggi.

Artinya: "sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa" (QS Al-Hujurat: 13)
Jabatan, pangkat ataupun kedudukan tidak menjadi jaminan atas mulianya seseorang. Sebaliknya, kemiskinan dan kefakiran seseorang tidak pula menjadi tolok ukur atas suatu ketakwaan.
"Dan janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dialah (Allah) yang paling mengetahui siapa di antara kalian yang paling bertakwa." (QS An-Najm: 32)
Ayat di atas menerangkan hak prerogatif Allah dalam menentukan status seorang hamba. Ini artinya, menghargai orang lain adalah hal yang sangat penting, karena tidak ada seorang pun yang berhak mengklaim dirinya lebih baik dari yang lain, baik tingkat kemuliaan maupun ketakwaan.
Wallahu A'lam

Darus Sunnah, 11 Februari 2007

PEMIMPIN

oleh: Luthfi Arif



"Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya." (HR Bukhari)

Secara kodrati, manusia senantiasa memimpikan keadaan sejahtera dalam berbagai hal. Kesejahteraan biasa digambarkan sebagai kebahagiaan, ketenangan, dan kenyamanan yang dirasakan selama menjalani hidup dan kehidupan. Kesejahteraan suatu komunitas bergantung pada sosok yang menjadi pemimpinnya.

Ada tiga kriteria pemimpin yang mampu mensejahterakan rakyatnya. Pertama, memiliki landasan agama yang kuat, yaitu dengan keyakinan bahwa tiada sesembahan selain Allah. Karena pada hakikatnya tugas utama setiap manusia adalah beribadah kepada Allah. "Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku" (QS Adz-Dzariyat: 56).

Banyaknya tindak kejahatan dan korupsi yang terjadi disebabkan tidak adanya landasan agama yang kuat dari oknum pelaku. Hilangnya kesadaran akan adanya balasan di kemudian hari atas setiap tindak-tanduk dan perilaku juga menjadi salah satu penyebabnya.

Kedua, mampu mengayomi dan memenuhi kebutuhan rakyatnya. Setiap orang memiliki kadar kebutuhan yang harus dipenuhi demi kelangsungan hidupnya. "Sesungguhnya Kami ciptakan segala sesuatu sesuai dengan kadarnya." (QS Al-Qamar: 49). Ini artinya, segala hal menyangkut ekonomi rakyat harus diutamakan. Masalah pokok dari instabilitas ekonomi adalah kemiskinan. Dan kemiskinan menimbulkan banyak hal buruk, semisal kriminalitas, atau yang lebih parah, menyebabkan kekafiran.

Dalam sebuah hadis dari sahabat Abu Sa'id al-Khudri, Rasulullah SAW pernah berdoa memohon dijauhkan dari kekafiran dan kemiskinan. Abu Sa'id al-Khudri kemudian bertanya perihal doa tersebut, "Ya Rasul, apakah kekafiran dan kemiskinan dapat menjadi setara?" Rasul menjawab, "Ya." (HR Ibnu Hibban)

Ketiga, mampu menciptakan kondisi yang aman dan situasi yang terkendali. Pemimpin yang baik harus mampu menanggulangi berbagai macam hal yang dapat mengancam keselamatan rakyatnya, semisal banjir dan sebagainya. Dan kebijakan yang diambil juga harus dilandaskan pada kemaslahatan rakyat.

Dalam kaidah fikih disebutkan, “Tasharruf al-‘Imam ala al-Ro’iyyah Manuthun bi al-Mashlahah (Kebijakan seorang pemimpin itu terhadap rakyatnya harus dilandaskan pada asas maslahat)”

Tiga kriteria tersebut di atas, secara tersirat, terangkum dalam Alquran surah Quraisy ayat 3-5, "Dan sembahlah Tuhan yang menguasai Ka'bah ini. Yang memberikan kalian makan ketika kalian lapar. Dan yang memberikan rasa aman kepada kalian dari ketakutan." (QS Quraisy: 1-3).

Wallahu A'lam bish Shawab

Darus Sunnah, 25 Juni 2007

CERMIN

oleh: Luthfi Arif


Cermin merupakan alat yang dapat digunakan seseorang untuk melihat dan memperhatikan diri. Dengan cermin, seseorang mengetahui baik atau tidaknya penampilan. Jika ada hal yang dirasa tidak pantas, akan diperbaiki kemudian. Tentunya hal ini sangat sulit dilakukan tanpa perantara cermin.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, "Masing-masing dari kalian adalah cermin bagi saudaranya. Apabila ia melihat ada keburukan pada wajah saudaranya, maka ia menyingkirkan keburukan itu." (HR Al-Tirmidzi).

Al-Mubarakfuri, ketika mengulas hadis ini dalam Tuhfah al-Ahwadzi, menyebutkan bahwa setiap muslim ibarat cermin bagi yang lain. Ia adalah alat bagi yang lain untuk mengetahui kebaikan dan keburukan yang ada pada dirinya.

Terkadang seseorang tidak mengetahui keburukan yang dilakukannya, jika tidak diingatkan oleh orang lain. Padahal, setiap tindak-tanduk yang dianggap baik oleh diri sendiri belum tentu baik bagi orang lain. Oleh karena itu, bercermin pada pendapat orang lain adalah keharusan.

Sejatinya, inilah hakikat nasihat yang diabadikan Allah SWT dalam Surah Al-'Ashr ayat 3, "Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran."

Nasihat dalam pengertian syara' adalah menginginkan orang yang dinasihati menjadi baik, atau ada peningkatan dari keadaan sebelumnya.

Orang yang senantiasa menasihati dalam kebenaran dan kesabaran disejajarkan dengan orang yang beriman dan beramal saleh. Dengan catatan, setiap nasihat yang disampaikan kepada orang lain harus juga diamalkan oleh orang yang menasihati. Terdapat ancaman dari Allah SWT bagi orang yang senang mengumbar nasihat pada orang lain, namun dirinya sendiri tidak mau mengamalkan.

"Sungguh besar murka Allah SWT jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu laksanakan." (QS Al-Shaff: 3)

Demikianlah Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa memberikan nasihat dalam kebenaran dan kesabaran. Tak ada ajaran untuk angkat kayu dan senjata ketika mengingatkan orang lain. Tindak kekerasan hanya diperkenankan terhadap orang kafir yang terang-terangan memerangi umat Islam secara fisik.

Jika saja inti dari ajaran Rasulullah SAW diresapi dan diamalkan secara benar, maka kedamaian akan diperoleh. Tak akan ada lagi korban yang timbul akibat kekerasan berdalih peringatan agama. Wallahu A'lam []

Darus-Sunnah, 5 Nov 2007

PENGADILAN TINGGI

oleh: Luthfi Arif



Setiap manusia akan menghadapi sebuah masa di mana segala amal perbuatan yang dilakukannya ketika di dunia akan dimintai pertanggungjawaban. Setiap jenis tindakan dari tiap detik gerakan di tiap inci tubuh manusia akan diperhitungkan, dan diberikan balasan sepatutnya.
"Dan disempurnakan bagi tiap-tiap jiwa, balasan apa yang telah dikerjakannya. Dan Dia lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan." (QS Az-Zumar: 70)
Tak ada seorang pun yang akan luput dari Hari Kiamat. Siapapun ia, yakin ataupun ingkar terhadap ketentuan Allah ini, segala perbuatannya di dunia tetap akan dipertanggungjawabkan.
"Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?" (QS Al-Qiyamah: 36)
Hari Kiamat layaknya pengadilan. Ketika itu, akan dihadirkan saksi-saksi atas segala tindak tanduk manusia selama di dunia. Di antara sekian banyak saksi adalah anggota tubuh, yang memberikan pengakuan dan kesaksian tentang ke mana saja mereka dibawa dan untuk apa digunakan. "Pada hari (kiamat), lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan." (QS An-Nur: 24).
Bumi, sebagai tempat berlangsungnya perilaku manusia selama di dunia, juga akan memberikan kesaksian. Dalam sebuah hadis, diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah membaca sebuah ayat yang artinya "Pada hari itu bumi menceritakan segala beritanya."(QS al-Zalzalah: 4). Lalu beliau berkata kepada para sahabat, "Tahukah kalian apa yang diberitakan bumi." Para sahabat menjawab, "Allah dan engkaulah yang lebih tahu." Rasulullah SAW melanjutkan perkataannya, "Bumi akan menceritakan perbuatan seorang hamba di atas permukaannya secara rinci sampai dijelaskan pula waktu terjadinya." (HR Ahmad)
Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda, "Jagalah bumi! Sesungguhnya bumi adalah ibu kalian. Dan tidak ada satu orang pun yang luput diberitakannya, ketika dia melakukan perbuatan buruk atau baik." (HR Tirmizi)
Allah SWT telah menempatkan catatan amal di leher setiap manusia. Catatan ini juga akan menjadi saksi terhadap perilaku seseorang selama di dunia. Jika amalnya baik, maka baiklah balasannya. Dan sebaliknya, jika buruk, maka buruk pulalah balasannya. "Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami letakkan catatan amal perbuatan pada lehernya. Dan kami keluarkan baginya sebuah kitab yang dijumpainya terbuka pada Hari Kiamat. Bacalah kitabmu! Cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab padamu." (QS Al-Isra': 13-14)
Berlaku baik selama menjalani kehidupan dunia, baik dalam hubungannya kepada Allah SWT langsung maupun kepada sesama manusia dan lingkungan, adalah suatu kewajiban. Ia akan menjadi jaminan atas baiknya balasan seseorang di akhirat kelak. Wallahu A'lam

MENDIDIK ANAK

oleh: Nasrudin Romli
(temen satu angkatan di pesantren Darus Sunnah, yang pernah jadi kepala TPA, dan sekarang sedang mendaftar sebagai calon hakim di samarinda)

Ketika anak masih kecil, orang tua jarang mendegarkan mereka.
Setelah mereka besar, mereka lebih jarang mendengarkan orang tuanya.
Inilah awal mula dari kenakalan remaja.
Anak manusia yang lahir ke dunia, menurut Islam, telah terikat oleh perjanjian yang dibuat pada waktu Allah menanamkan fitrah beragama ke dalam jiwanya. "Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka berkata, “Benar, kami menjadi saksi" (QS Al-A'raf: 176).
Perjanjian itu mempunyai konsekuensi bahwa seorang manusia yang lahir di dunia berkewajiban menghambakan diri kepada Allah. Bentuknya ialah mematuhi segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Perintah dan larangan Allah itu meliputi seluruh aspek kemanusiaan dan kehidupannya. Aspek kemanusiaan ialah jasmani dan rohani, sedang aspek kehidupannya adalah dunia dan akhirat.
Untuk mengantar anak menjadi orang yang saleh, ia perlu diasuh dan dibimbing mulai bayi hingga dewasa. Pengalaman yang diterima anak, tidak hanya dari orangtua saja, tetapi juga dari lingkungan luar, teman-teman, karib kerabat, maupun tetangga. Apa yang dilihat, didengar, dan dialaminya, semua ikut memengaruhi perkembangan jiwanya.
Sehubungan dengan kewajiban orang tua mendidik anak, Islam menghendaki agar tiga hak anak dapat terpenuhi. Pertama, memberi keterampilan ibadah. Keterampilan ini penting untuk anak nantinya, yaitu memenuhi tujuan hidupnya menghambakan diri kepada Allah.
Pemberian keterampilan beribadah pada usia dini masih bersifat latihan-latihan, misalnya memeragakan salat. Inilah antara lain yang dimaksud oleh Nabi SAW, "Apabila anak sudah dapat membedakan antara tangan kanan dan tangan kirinya, maka suruhlah ia mengerjakan salat." (HR Abu Daud).
Kedua, keterampilan sosial. Keterampilan ini sifatnya sangat luas, berkaitan dengan pemberian perhatian dan kasih sayang. Perhatian inilah yang akan menumbuhkan tabiat dan kemampuan dasar anak untuk menyayangi dan memerhatikan orang lain di lingkungan sosialnya. Nabi Saw. bersabda "Siapa yang tidak mengasihi, tidak akan dikasihi." (HR Bukhari dan Muslim).
Ketiga, keterampilan belajar. Alquran mengungkapkan bahwa anak dilahirkan dalam keadaan tak tahu apa-apa (QS Al-Nahl: 78). Oleh sebab itu, Nabi SAW menegaskan, "Kewajiban orang tua atas anaknya; membaguskan nama dan budi pekertinya, mengajari menulis, berenang, dan memanah, dan tidak memberinya rezeki kecuali yang baik, serta mengawinkannya apabila ia telah berkehendak" (HR Al-Hakim).
Apabila ketiga bentuk keterampilan di atas mampu kita berikan, lalu berjalan dengan baik, maka diharapkan anak-anak mampu menjadi generasi yang saleh, berjiwa sosial dan memiliki daya saing dalam bidang ilmu pengetahuan. Wallahu A'lam

Tertib Lalu Lintas Sejak Dini


Bukan hanya orangtua, namun anak pun sebaiknya belajar tertib berlalu lintas sejak dini.

Rina tidak pernah membayangkan hal yang buruk terjadi pada Ciko putranya. Ia merasa belum waktunya Ciko yang masih berusia 5 tahun belajar aturan ketika berada di jalan, atau tata tertib berlalu-lintas. Namun akibatnya, Ciko kurang hati-hati ketika bersepeda di kompleks. Ketika akan menyeberang di jalan yang agak besar, dengan santainya ia menyeberang begitu saja tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan. Akibatnya sebuah motor hampir saja menyambar putra tercintanya itu, dan itu terjadi di depan matanya.

Menurut data Badan Kesehatan Dunia [WHO] tahun 2008, sebanyak 830.000 anak meninggal tiap tahun dan sebagian besar karena kecelakaan di jalanan. Tentu saja kita harus mencegah si kecil mengalaminya, di antaranya dengan memperkenalkan aturan-aturan dasar berlalu-lintas sejak dini. Apalagi jika si kecil tinggal di kota besar. Selain untuk menghindarkan si kecil dari kemungkinan celaka, belajar aturan lalu lintas juga membiasakan si kecil tertib di jalanan sejak dini. Sehingga kelak ketika dewasa si kecil diharapkan akan lebih mudah menerapkan aturan tersebut bagi dirinya.

Ada berbagai cara mengajarkan si kecil tertib berlalu-lintas, antara lain:

* Pastikan Anda sendiri menerapkan disiplin dalam menjalankan aturan lalu lintas. Hati-hati jika Anda sendiri masih belum tertib, karena mata si kecil akan merekam segala tindakan Anda.
* Walaupun si kecil tidak langsung dapat memahami dan menerapkan aturan dasar berlalu-lintas, namun Anda dapat mulai mengajarkan dan membiasakan keterampilan dasar sejak si kecil berusia balita. Misalnya menengok ke kanan dan ke kiri ketika menyeberang, bersepeda atau berjalan di sisi sebelah kiri jalan, serta tidak berlarian sendiri ketika berada di jalan raya. Anak di bawah usia 10 tahun sebaiknya tetap mendapat pengawasan ketika berada di jalan.
* Mengajarkan rambu-rambu lalu lintas sejak balita. Anak usia 3 – 4 tahun sudah bisa mengenali warna dan lambang-lambang, sehingga mereka sudah dapat diperkenalkan berbagai rambu lalu lintas yang mudah. Misalnya lalu lalu lintas, rambu dilarang parkir, dilarang berhenti, dan sebagainya.
* Ketertiban berlalu-lintas juga dapat diajarkan lewat buku cerita bergambar, permainan boneka tangan, maupun permainan lain. Misalnya bermain mobil-mobilan di atas karpet/alas bergambar jalan raya. Sediakan pula rambu-rambu lalu lintas berukuran mini.
* Langsung bermain peran dalam menerapkan aturan lalu lintas, misalnya dengan mengajak si kecil ke taman lalu lintas seperti yang ada di Taman Lalu Lintas Wiladatika Cibubur, atau Taman Lalu Lintas Bandung.

Diunduh dari http://www.alifmagz.com/wp/2009/04/30/tertib-lalu-lintas-sejak-dini/