oleh: Nasrudin Romli
(temen satu angkatan di pesantren Darus Sunnah, yang pernah jadi kepala TPA, dan sekarang sedang mendaftar sebagai calon hakim di samarinda)
Ketika anak masih kecil, orang tua jarang mendegarkan mereka.
Setelah mereka besar, mereka lebih jarang mendengarkan orang tuanya.
Inilah awal mula dari kenakalan remaja.
Anak manusia yang lahir ke dunia, menurut Islam, telah terikat oleh perjanjian yang dibuat pada waktu Allah menanamkan fitrah beragama ke dalam jiwanya. "Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka berkata, “Benar, kami menjadi saksi" (QS Al-A'raf: 176).
Perjanjian itu mempunyai konsekuensi bahwa seorang manusia yang lahir di dunia berkewajiban menghambakan diri kepada Allah. Bentuknya ialah mematuhi segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Perintah dan larangan Allah itu meliputi seluruh aspek kemanusiaan dan kehidupannya. Aspek kemanusiaan ialah jasmani dan rohani, sedang aspek kehidupannya adalah dunia dan akhirat.
Untuk mengantar anak menjadi orang yang saleh, ia perlu diasuh dan dibimbing mulai bayi hingga dewasa. Pengalaman yang diterima anak, tidak hanya dari orangtua saja, tetapi juga dari lingkungan luar, teman-teman, karib kerabat, maupun tetangga. Apa yang dilihat, didengar, dan dialaminya, semua ikut memengaruhi perkembangan jiwanya.
Sehubungan dengan kewajiban orang tua mendidik anak, Islam menghendaki agar tiga hak anak dapat terpenuhi. Pertama, memberi keterampilan ibadah. Keterampilan ini penting untuk anak nantinya, yaitu memenuhi tujuan hidupnya menghambakan diri kepada Allah.
Pemberian keterampilan beribadah pada usia dini masih bersifat latihan-latihan, misalnya memeragakan salat. Inilah antara lain yang dimaksud oleh Nabi SAW, "Apabila anak sudah dapat membedakan antara tangan kanan dan tangan kirinya, maka suruhlah ia mengerjakan salat." (HR Abu Daud).
Kedua, keterampilan sosial. Keterampilan ini sifatnya sangat luas, berkaitan dengan pemberian perhatian dan kasih sayang. Perhatian inilah yang akan menumbuhkan tabiat dan kemampuan dasar anak untuk menyayangi dan memerhatikan orang lain di lingkungan sosialnya. Nabi Saw. bersabda "Siapa yang tidak mengasihi, tidak akan dikasihi." (HR Bukhari dan Muslim).
Ketiga, keterampilan belajar. Alquran mengungkapkan bahwa anak dilahirkan dalam keadaan tak tahu apa-apa (QS Al-Nahl: 78). Oleh sebab itu, Nabi SAW menegaskan, "Kewajiban orang tua atas anaknya; membaguskan nama dan budi pekertinya, mengajari menulis, berenang, dan memanah, dan tidak memberinya rezeki kecuali yang baik, serta mengawinkannya apabila ia telah berkehendak" (HR Al-Hakim).
Apabila ketiga bentuk keterampilan di atas mampu kita berikan, lalu berjalan dengan baik, maka diharapkan anak-anak mampu menjadi generasi yang saleh, berjiwa sosial dan memiliki daya saing dalam bidang ilmu pengetahuan. Wallahu A'lam
Selasa, 01 Desember 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar