Selasa, 01 Desember 2009

MENGHINDARI SIFAT PESIMIS


oleh: Luthfi Arif

Manusia, dalam menghadapi hidup dan kehidupannya,
memiliki dua sifat, optimis dan pesimis. Sifat optimis
didefinisikan sebagai sikap seseorang yang selalu
memandang adanya harapan baik. Dan pesimis adalah
sebaliknya, yaitu sikap seseorang yang selalu
berpikiran bahwa kebaikan tidak pernah berpihak
padanya.
Dua sifat ini sangat memengaruhi kehidupan seseorang.
Orang yang optimis akan selalu melihat hidup dari sisi
positif. Dalam memandang suatu permasalahan, ia akan
cenderung memerhatikan kebaikan-kebaikan yang
terkandung di dalamnya. Dan harapan-harapannya tentang
keberhasilan akan membuat pikirannya selalu maju ke
depan. Baginya kegagalan dan kesulitan hanyalah
sekedar penyakit ringan yang tidak terlalu berbahaya.
Di balik itu semua tersimpan kemudahan dalam
memperoleh keberhasilan yang diidamkan. “Sesungguhnya
dibalik kesulitan itu ada kemudahan.” (Q.S.
Al-Insyirah: 6).
Sedangkan orang yang pesimis, melihat hidup hanya dari
sisi buruknya saja. Baginya kebaikan tak pernah ada.
Dan kegagalan bagaikan sebuah harimau dengan mulut
menganga yang siap menerkam. Orang yang pesimis tidak
akan mampu berpikir maju. Jika mendapatkan cobaan,
meskipun ringan, ia akan selalu berkeluh kesah.
Padahal, dalam surah Al-Ma’arij ayat 22, orang yang
berkeluh kesah ketika ditimpa kegagalan hanyalah orang
yang tidak salat atau tidak meresapi salatnya. Dan ini
merupakan ciri orang kafir.
Oleh karena itu, dalam Alquran, orang yang pesimis
diserupakan dengan orang kafir. Karena orang yang
pesimis secara tidak langsung menjustifikasi bahwa
Allah tidak memberinya rahmat, tidak mengasihinya.
“Janganlah kalian pesimis dari rahmat Allah SWT.
Sesungguhnya orang yang pesimis akan rahmat Allah SWT
hanyalah orang kafir.” (Q.S. Yusuf: 87).
Pada dasarnya, pesimis adalah penyakit hati yang dapat
menjangkit setiap orang. Penyakit ini dapat
dihilangkan dengan membersihkan hati dari hal-hal
buruk penyebab timbulnya sifat pesimis.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan agar kita
terhindar dari sifat ini.
Pertama, menghilangkan sifat tidak percaya diri. Sikap
rendah diri dan kurang percaya diri dapat menyebabkan
timbulnya sifat pesimis. Dengan merenungi bahwa Allah
menciptakan manusia secara sempurna, sifat pesimis
dapat dikikis. “Sungguh Kami telah ciptakan manusia
dalam bentuk yang paling sempurna.” (Q.S. At-Tin: 4)
Kedua, meyakini bahwa setiap manusia diciptakan Allah
sesuai kadar masing-masing sehingga potensi yang
dimiliki pun berbeda-beda. “Sesungguhnya kami
menciptakan segala sesuatu sesuai dengan kadarnya.”
(Q.S. Al-Qamar: 49).
Ketiga, memperbaiki niat dan memperkuat ‘azam. Niat
dan ‘azam timbul dari dalam hati. Jika niat telah
bersih dan ‘azam semakin kokoh, maka optimisme akan
muncul dengan sendirinya.
Dengan selalu menjalankan hal-hal di atas, seseorang
akan selalu berprasangka baik terhadap Allah SWT dan
setiap pekerjaannya selalu diikuti dengan niat dan
harapan yang baik.
Semoga kita selalu terhindar dari sifat pesimis.
Wallahu A’lam.[]

Darus Sunnah, 29 Januari 2006

1 komentar: